Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
Matius 26:57-68
Yesus di hadapan Mahkamah Agama
Setiap kita yang hidup di dalam dunia pasti kita pernah mengalami ketika orang lain mengingkari janjinya kepada kita.
Kita mungkin juga pernah membuat janji kepada seseorang, tetapi tidak lama kemudian kita lupa bahwa kita pernah mengucapkan janji itu, sehingga kita tidak menepatinya.
Tetapi berbeda dengan Allah kita, Ia adalah Allah yang setia menepati janjiNya.
Hari ini kita akan melihat dan menikmati betapa hebatnya Allah menggenapi perkataanNya.
Matius 26:57-68
57 Sesudah mereka menangkap Yesus, mereka membawa-Nya menghadap Kayafas, Imam Besar. Di situ telah berkumpul ahli-ahli Taurat dan tua-tua.
58 Dan Petrus mengikuti Dia dari jauh sampai ke halaman Imam Besar, dan setelah masuk ke dalam, ia duduk di antara pengawal-pengawal untuk melihat kesudahan perkara itu.
59 Imam-imam kepala, malah seluruh Mahkamah Agama mencari kesaksian palsu terhadap Yesus, supaya Ia dapat dihukum mati,
60 tetapi mereka tidak memperolehnya, walaupun tampil banyak saksi dusta. Tetapi akhirnya tampillah dua orang,
61 yang mengatakan: "Orang ini berkata: Aku dapat merubuhkan Bait Allah dan membangunnya kembali dalam tiga hari."
62 Lalu Imam Besar itu berdiri dan berkata kepada-Nya: "Tidakkah Engkau memberi jawab atas tuduhan-tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?"
63 Tetapi Yesus tetap diam. Lalu kata Imam Besar itu kepada-Nya: "Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak."
64 Jawab Yesus: "Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit."
65 Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: "Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya.
66 Bagaimana pendapat kamu?" Mereka menjawab dan berkata: "Ia harus dihukum mati!"
67 Lalu mereka meludahi muka-Nya dan meninju-Nya; orang-orang lain memukul Dia,
68 dan berkata: "Cobalah katakan kepada kami, hai Mesias, siapakah yang memukul Engkau?"
Kisah yang baru kita baca ini adalah kisah ketika Yesus di fitnah sangat parah oleh para pemuka-pemuka agama.
Ada imam besar Kayafas, ahli-ahli taurat dan tua-tua, bahkan di ayat 29 dikatakan seluruh mahkamah.
Mahkamah agama dalam beberapa terjemahan lainnya disebut sebagai Sanhedrin, yang artinya suatu dewan pemimpin agama Yahudi.
Menurut beberapa penafsir, pertemuan ini sebenarnya dirasa janggal dan illegal karena sepertinya berbeda dengan peraturan pengadilan Romawi pada waktu itu.
Pertama, pengadilan ini dilakukan di halaman Imam Besar yang artinya di dalam istana Imam Besar, padahal pengadilan pada waktu itu tidak biasanya dilakukan di rumah Imam Besar.
Kedua, di mulai dengan alasan untuk menjatuhkan hukuman bukannya alasan untuk membebaskan.
Ketiga, para saksi ini saling berbeda pendapat dan kemudian memberikan keterangan palsu.
Keempat, putusan hukuman dikonfirmasi pada hari yang sama, bukan menunggu hari setelahnya, setelah tidur semalaman.
Meskipun memang peraturan-peraturan ini di rampung secara sejarah dua ratus tahun kemudian dan sebenarnya kita tidak tahu pasti apakah praktek Sanhedrin pada waktu itu benar-benar legal atau tidak.
Tetapi setidaknya kita bisa mengira bahwa di dalam persidangan ini ada kecurangan.
Seluruh kelompok agama yang menghadiri pertemuan ini menggugat Yesus oleh karena dianggap menghujat.
Yang sebenarnya di dalam hukum Romawi pada saat itu, penghujatan itu tidak dianggap sebagai sebuah tindakan kriminal yang patut menerima hukuman mati.
Oleh karena itu, para pemimpin agama Yahudi, harus memanipulasi tuntutan ini dan berfokus bahwa Yesus mengaku diriNya sebagai Mesias yang bisa berbahaya bagi pemerintahan Romawi karena Mesias pada waktu itu dianggap akan membebaskan bangsa Israel dari penjajahan bangsa Romawi.
Tetapi kemudian dalam kitab Matius tercatat ada 2 orang yang memberikan saksi bahwa Yesus dapat merubuhkan Bait Allah dan membangunnya kembali dalam 3 hari.
Tuduhan ini dianggap menarik bagi Imam Besar dan ia bertanya kepada Yesus apa tanggapan-Nya, tetapi Yesus memilih untuk diam.
Saat kita menyaksikan kisah ini dan melihat Yesus di tuduh tapi Dia malah diam, kita mungkin tidak paham, kenapa Yesus tidak mau menjelaskan saja kepada mereka.
Yesus melihat bahwa tuntutan-tuntuan ini kedengarannya menyimpang, sehingga kalau Yesus menjawab akan semakin dianggap menyimpang oleh orang-orang yang mendengarnya, maka Yesus memilih untuk diam.
Tetapi keheningan Yesus ini adalah keheningan yang berdaulat karena Dia sedang menggenapi nubuat di dalam Yesaya 53:7:
“Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.”
Keheningan Yesus ini membuat Imam Besar frustasi karena ia tidak bisa menjatuhkan hukuman apa-apa melaluinya.
Malah kemudian Imam Besar ini bertanya, “Demi Allah yang hidup katakanlah kepada kami apakah engkau Mesias Anak Allah atau tidak.”
Sekali lagi Mesias disini dikonotasikan orang-orang sebagai keturunan Daud yang akan membebaskan mereka dari perbudakan Romawi dan yang akan memerintah atas seluruh umat manusia sampai selamanya.
Dengan pertanyaan ini, Imam Besar Kayafas itu sedang menjebak Yesus untuk menentang hukum Romawi, sehingga Kayafas bisa secara legal membawa permasalahan ini kepada Pontius Pilatus.
Tapi dengan hikmatnya Yesus menjawab, “Engkau telah mengatakannya.”
Jadi secara tidak langsung, ini adalah cara untuk membuat penegasan yang mengembalikan tanggung jawab kepada orang yang mengajukan pertanyaannya.
Kemudian Yesus menjelaskan bahwa makna Mesias yang sebenarnya adalah Anak Manusia yang akan duduk di sebelah kanan Yang Maha Kuasa.
Dengan mengatakan demikian Yesus sedang mengatakan bahwa Dia bukanlah seseorang yang akan membebaskan manusia dari perbudakan Romawi, tetapi Dia adalah sesuai yang tercatat di dalam Daniel 7:13-14:
13 Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya.
14 Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah.
Yesus sedang merujuk diri-Nya kepada kitab Daniel bahwa Dialah Raja yang berkuasa atas seluruh dunia.
Tetapi tentu saja hal ini tidak dipahami oleh para pemimpin agama dengan pemahaman mereka yang duniawi.
Mereka meludahi Yesus sebagai tanda penghinaan terhadap claim-Nya atas status Ilahi.
Mereka memukul Yesus sebagai tanda betapa tidak berdayanya Dia.
Dan mereka mengejek-Nya, menanyakan siapa yang memukul-Nya sebagai tanda kalau Yesus tidak mempunyai karunia kenabian untuk mengetahui masa depan.
Yesus diperlakukan tidak adil, Yesus digugat penghujatan padahal Dia sendirilah Allah.
Tetapi Dia menjalani semuanya itu karena Dia sedang menggenapi nubuatan-nubuatan yang telah tertulis ratusan tahun lamanya di dalam Perjanjian Lama.
Dan kita telah menyaksikannya sendiri, bahwa orang-orang yang tidak mau membuka hatinya untuk Allah, mereka tidak bisa melihat janji Allah itu digenapi.
Padahal sudah banyak tertulis di dalam kitab Taurat yang mereka baca dan hafalkan setiap hari dari mereka kecil.
Tetapi bagi kita yang percaya, janji itu terasa begitu manis, karena kita tahu bahwa Allah kita adalah Allah: Ya dan benar.
Dia tidak pernah melalaikan janji-Nya kepada umat manusia.
Biarlah Firman ini mengingatkan kita, bahwa Allah kita adalah Allah yang mengenapi janji-Nya
Dia tidak pernah asal bicara, Dia tidak pernah lupa dengan janji-Nya.
Ratusan tahun atau ribuan tahunpun, Allah tetap berdaulat atas semua perkataan-Nya dan semua itu tepat terjadi sesuai dengan perkataan-Nya.
Pesan Firman Tuhan bagi kita:
Mari jalani hari ini dengan merenungkan Firman ini dalam hati kita.
Bagi kita yang percaya kepada Allah jangan ragukan semua yang tertulis di dalam firman-Nya, karena Allah kita adalah Allah yang setia mengenapi janji-Nya.
Doakan dan renungkan
* Mereka meludahi Yesus sebagai tanda penghinaan terhadap klaim status Ilahi-Nya. Mereka memukul Yesus sebagai tanda betapa tidak berdayanya Dia.
* Dengan iklas Yesus menjalani semua penderitaan itu karena Dia sedang menggenapi nubuatan atas diriNya.
Ia datang untuk menggenapi