Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
Matius 26:46-56
Yesus ditangkap
Siapakah diantara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan hikmat yang lahir dari kelemahlembutan.
Setelah masa Apartheid (sistem diskriminasi rasial) di Afrika Selatan pada tahun 1900-an lampau, ada sebuah komisi kebenaran dan rekonsiliasi yang memeriksa tindakan kekerasan terhadap ras yang pernah terjadi.
Kalau ada seseorang yang mengakui perbuatannya pada masa itu, maka ia tidak akan diadili dan dihukum.
Dalam pemeriksaan tersebut, ada seorang polisi kulit putih bernama Van Der Brook mengaku bahwa ia telah menembak seorang anak laki-laki berkulit hitam dan kemudian membakar jasad anak itu untuk menghapus bukti.
Delapan tahun kemudian, polisi ini kembali lagi ke rumah yang sama dan menangkap ayah anak tersebut dan ibunya dipaksa untuk menyaksikan suaminya diikat pada tumpukan kayu, diguyur bensin dan dibakar hidup-hidup.
Dalam ruang pemeriksaan tersebut, seorang perempuan lansia yang telah kehilangan suami dan anaknya ditanyakan oleh hakim: “Apa yang anda inginkan dari Van Der Brook?”
Ibu itu menjawab bahwa ia ingin supaya Van Der Brook mengajak dia pergi ke tempat di mana dulu mereka membakar suami dan anaknya, kemudian mengumpulkan abunya supaya ia dapat melakukan pemakaman yang layak.
Menariknya kemudian ibu ini mengajukan permintaan tambahan, ia berkata: “Van Der Brook telah mengambil seluruh keluarga saya dan saya masih memiliki banyak kasih yang ingin saya bagikan.
Dua kali sebulan, saya ingin dia datang ke kampung saya dan menghabiskan waktu satu hari bersama saya, agar saya dapat menjadi ibu baginya, dan saya ingin Van Der Brook tahu bahwa ia telah diampuni oleh Tuhan dan saya juga mengampuninya.
“Saya ingin memeluknya, sehingga ia mengetahui pengampunan saya sungguh-sungguh.”
Dalam keadaan terpuruk sekalipun, kita tetap dipanggil untuk memiliki kelemahlembutan terhadap semua orang.
Matius 26:47-56
47 Waktu Yesus masih berbicara datanglah Yudas, salah seorang dari kedua belas murid itu, dan bersama-sama dia serombongan besar orang yang membawa pedang dan pentung, disuruh oleh imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi.
48 Orang yang menyerahkan Dia telah memberitahukan tanda ini kepada mereka: “Orang yang akan kucium, itulah Dia, tangkaplah Dia.”
49 Dan segera ia maju mendapatkan Yesus dan berkata: “Salam Rabi,” lalu mencium Dia.
50 Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Hai teman, untuk itukah engkau datang?” Maka majulah mereka memegang Yesus dan menangkap-Nya.
51 Tetapi seorang dari mereka yang menyertai Yesus mengulurkan tangannya, menghunus pedangnya dan menetakkannya kepada hamba Imam Besar sehingga putus telinganya.
52 Maka kata Yesus kepadanya: “Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang.
53 Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku?
54 Jika begitu, bagaimanakah akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, yang mengatakan, bahwa harus terjadi demikian?”
55 Pada saat itu Yesus berkata kepada orang banyak: “Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung untuk menangkap Aku? Padahal tiap-tiap hari Aku duduk mengajar di Bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku.
56 Akan tetapi semua ini terjadi supaya genap yang ada tertulis dalam kitab nabi-nabi.” Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri.
Kemarin kita menyaksikan bagaimana Yesus bergumul dengan kesengsaraan yang harus Ia jalani, Ia responi dengan ketaatan kepada Bapa, hari ini kita melihat Yesus benar-benar menjalani ketaatan-Nya.
Yesus tidak pernah menjalani ketaatan-Nya dengan bersungut-sungut atau marah-marah, menghindari dan mengulur waktu, tetapi Ia sungguh-sungguh menjalaninya dengan lemah lembut.
Kalau ada seseorang yang memfitnah/mengkhianati kita, bagaimana respon kita? Biasanya kita akan marah, menegur dengan keras atau memendam dengan diam dan menangis. Namun kita pasti tidak suka bukan?
Mari kita selidiki:
1. Yesus yang sekalipun sedang dipojokkan oleh banyak orang, tapi Ia tidak pernah setuju dengan tindakan kekerasan.
Orang-orang yang datang bersama Yudas membawa pedang dan pentung yang konotasinya seperti sedang menangkap seorang pencuri.
Pada Matius 26:51 tidak disebutkan nama murid Yesus yang memotong telinga hamba Imam Besar, pada Matius 18:10 disebutkan itu adalah Simon Petrus, namun Yesus tidak setuju dengan tindakan Petrus dan menyuruhnya untuk kembali memasukkan pedangnya.
Yesus juga sangat bisa untuk memanggil lebih dari 12 pasukan (sekitar enam ribu malaikat per pasukan) malaikat untuk membantu saat itu. Tetapi Yesus memilih untuk tidak memanggil para malaikat, meskipun bisa.
Karena Yesus tetap memilih untuk menggenapi apa yang tertulis dalam Kitab Suci.
2. Yesus meresponi tindakan Yudas bukan dengan kemarahan/kecaman, tapi dengan kelemahlembutan.
Pengkhianatan oleh murid-Nya sendiri, pasti adalah buruk, tetapi setelah Yesus dicium Yudas untuk menandakan penangkapan, Yesus hanya berkata: “Hai teman, untuk itukah engkau datang?”
TEMANdalam bahasa aslinya disebut companion (teman dalam satu kelompok), ini adalah sebuah panggilan rahmat.
Pada akhirnya semua murid-Nya melarikan diri meninggalkan Yesus, sebagai manusia Yesus sendiri, dikhianati, diperlakukan seperti penjahat yang tidak pernah Ia lakukan.
Dari semua yang Yesus alami, respon-Nya tetap lemah lembut, sesuai dengan atribut-Nya. Bukankah ini melampaui akal kita?
Yesus tidak pernah memperlakukan seseorang dengan buruk karena Ia diperlakukan buruk oleh orang lain, tetapi Yesus menghadapinya dengan kelemahlembutan dan tetap mengasihi mereka.
Menjadi lemah lembut bagaikan seekor kuda yang memiliki otot kuat, kemampuan lari yang kencang dan tenaga yang besar, tetapi dijinakkan.
Meskipun kekuatan kuda sangat besar, tetapi ia tunduk kepada kepada kendali tuannya.
Meskipun dalam bahasa Indonesia kata kelemah lembutan ada kata lemahnya, ini bukan berarti menjadi lemah, tetapi artinya ada kekuatan yang terkendali.
Kita bisa marah, merespon dengan kasar, tetapi dengan kelemahlembutan kita memilih untuk tidak melakukannya.
Kelemahlembutan Yesus bukanlah hanya angan-angan kisah, melainkan sebuah fakta yang Allah kita miliki. Ialah Allah yang begitu lemah lembut, itulah Allah yang mengasihi kita.
Yesus mengundang kita untuk turut meneladani Dia, mengikuti jejak-Nya, belajar untuk menjadi lemah lembut.
Doakan dan renungkan
* Dihianati oleh orang dekat pasti menyakitkan. Terlebih Yesus, dicium oleh Yudas untuk penangkapanNya. Tapi tanpa kecaman Yesus berkata,“Hai teman, untuk itukah engkau datang?”
* Dalam keadaan terpuruk sekalipun, kita tetap dipanggil untuk memiliki kelemahlembutan.
Tetap lemah lembut