Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
Matius 26: 36-39
Di taman Getsemani
“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.” Ibrani 4:14-16
Bayangkan jika Anda adalah seorang yang telah bekerja keras cukup lama di sebuah perusahaan.
Anggaplah Anda sudah bekerja selama 10 tahun dan tinggal sedikit lagi untuk dipromosikan ke posisi direktur.
Namun ketika sedang berada dalam masa promosi tersebut, Anda diminta oleh dewan direksi untuk melakukan tindakan korupsi atau suap demi sebuah proyek besar bagi perusahaan.
Kalau Anda menolak, maka Anda akan dipecat, reputasi Anda akan hancur, dan Anda akan kehilangan pekerjaan.
Tetapi jika Anda menjalani aksi suap atau korupsi itu, maka hidup Anda akan aman. Kalau Anda berada di posisi seperti ini, apa yang akan Anda lakukan?
Apakah Anda akan memilih melakukan sebuah perbuatan yang Anda tahu salah demi mempertahankan pekerjaan, atau Anda memilih tetap taat pada kehendak Tuhan dan kehilangan pekerjaan?
Pencobaan seberat apa pun yang kita alami, Tuhan memanggil kita untuk tetap taat pada kehendak-Nya.
Matius 26: 36-39
36 Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa."
37 Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar,
38 lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku."
39 Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."
Kisah Getsemani adalah kisah sebelum Yesus ditangkap oleh para tentara Romawi untuk dihakimi dan diadili. Yesus yang kita percayai sebagai 100% Allah dan 100% manusia.
Kisah ini menunjukkan betapa Yesus mengalami pergulatan diri yang begitu berat sebelum Ia menghadapi semua kesengsaraan-Nya.
Mungkin saya bisa mengatakan bahwa perikop yang baru kita baca ini adalah salah satu bagian dalam Alkitab yang sangat menunjukkan sisi kemanusiaan Yesus.
Ada beberapa aspek yang menunjukkannya. Yang pertama, Yesus mengajak para murid-Nya untuk menemani Dia saat Ia berdoa kepada Allah.
Secara khusus, Yesus mengajak tiga orang murid-Nya untuk berada dekat dengan-Nya.
Awalnya Yesus tidak memerintahkan para murid untuk berdoa, tetapi Yesus mengatakan, “Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.”
Artinya, Yesus saat itu menunjukkan bahwa Ia membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekat-Nya untuk menemani Dia melalui masa-masa ini.
Kedua, dikatakan juga bahwa Yesus merasa sangat sedih dan gentar. Dikatakan oleh Yesus, “Hati-Ku sangat sedih seperti mau mati rasanya.”
Kedua kalimat ini menunjukkan ada sebuah perasaan yang amat mendalam. Perasaan sedih yang begitu besar dirasakan oleh Yesus.
John Walvoord pernah mengatakan di dalam bukunya, “Tak seorang pun dalam daging yang berdosa dan fana dapat memahami pergumulan dalam jiwa kudus Yesus, yang tidak pernah mengalami sedikit pun bayang-bayang dosa dan tidak pernah mengenal penghalang apa pun antara diri-Nya dan Bapa.”
Yesus yang tidak pernah mengalami dosa dan tidak pernah mengalami keterpisahan dengan Bapa adalah sesuatu yang tidak pernah bisa kita bayangkan betapa besar kesedihannya.
Ketika Ia tahu bahwa Ia akan mengalami keterpisahan itu dengan Allah, menanggung hukuman dosa yang tidak pernah Ia lakukan, di situlah Yesus merasakan kesedihan yang luar biasa.
Dalam kesedihan yang Yesus rasakan, Ia menyatakan permohonan-Nya kepada Bapa dengan mengatakan, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu daripada-Ku.”
Panggilan “Ya Bapa-Ku” adalah satu-satunya dalam kitab Injil ketika Yesus memanggil Allah Bapa dengan sebutan yang begitu intim.
“Ya Bapa-Ku.” sekali lagi menunjukkan ada sebuah intensitas emosional yang begitu mendalam.
Penderitaan jiwa yang begitu luar biasa, sekaligus momen penyerahan diri yang paling intim dan personal yang pernah dialami oleh Yesus.
Namun, dari seluruh beban emosional dan kesedihan mendalam yang dialami oleh Yesus, tetap Ia menunjukkan ketaatan-Nya.
Ia mengatakan, “Tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”
Dari seluruh ungkapan sisi kemanusiaan Yesus, kita melihat bahwa Yesus mengalami pencobaan yang begitu berat.
Tetapi kemudian Ia tetap memilih untuk melakukan apa yang Allah kehendaki. Saya rasa kisah ini menunjukkan kepada kita bahwa Yesus adalah pribadi yang paling memahami apa itu penderitaan.
Ia tidak pernah berbuat dosa, tetapi Ia menanggung hukuman dosa. Ia menderita sedemikian rupa.
Bahkan kemudian Ia menunjukkan kedukaan dan kegundahan-Nya terhadap hal yang harus Ia alami. Tetapi di dalam ketaatan-Nya, Ia tetap memilih untuk membiarkan kehendak Bapa yang jadi.
Apa yang Yesus alami ketika Ia berada di dunia memberikan kepada kita sebuah nilai bahwa Yesus bukanlah pribadi yang jauh dari kita dan tidak memahami pergumulan kita.
Tetapi Yesus adalah pribadi yang turut merasakan apa itu penderitaan di dunia. Yesus memberikan contoh bahwa meskipun semuanya terasa berat secara fisik, Ia tetap taat pada kehendak Bapa.
Ketaatan Yesus pada kehendak Bapa kemudian memberikan kepada kita keselamatan yang kekal.
Kalau Yesus dalam kemanusiaan-Nya lebih mengutamakan kesedihan-Nya sebagai manusia dan tidak melakukan kehendak Bapa, maka tidak mungkin kita bisa ada hari ini, hidup dengan tenang dan meyakini bahwa ada jaminan keselamatan yang kita terima.
Kalau permasalahan terberat manusia telah diselesaikan oleh Yesus dan Yesus mau menanggungnya bagi kita, maka mari kita ingat bahwa seluruh pergumulan kita pun pasti sudah dipahami oleh Yesus.
Yesus mau memberikan diri-Nya sebagai jawaban atas persoalan hidup kita.
Kisah Yesus berdoa di Taman Getsemani menunjukkan kepada kita bahwa saat Yesus menjadi manusia di dunia, Yesus pun mengalami kesedihan yang mendalam.
Tetapi Ia tidak membiarkan kesedihan itu menguasai-Nya. Ia juga tidak membiarkan dukacita-Nya mendahului ketaatan kepada Bapa.
Kalau kita mengalami kesedihan dan kegundahan yang begitu berat akibat pergumulan-pergumulan yang kita hadapi di dunia, perasaan-perasaan itu lumrah kita alami karena kita manusia.
Tetapi perasaan-perasaan itu bukan dimaksudkan untuk menguasai kita atau menjadi panduan atas seluruh tindakan kita.
Perasaan-perasaan itu diberikan kepada kita sebagai tanda bahwa kita perlu berserah kepada pimpinan Tuhan.
Kita perlu berserah pada kehendak Bapa. Kita dipanggil untuk tetap taat pada kehendak Bapa yang mengasihi kita, sama seperti Yesus taat pada kehendak Bapa.
Meskipun ini bukan hal yang mudah, mari kita terus berjuang dalam pertolongan Roh Kudus.
Doakan dan renungkan
* Dalam bukunya, John Walvoord menulis bahwa manusia berdosa tidak pernah dapat memahami sepenuhnya pergumulan dalam jiwa kudus Yesus, saat Ia di Getsemani.
* Ia yang tidak pernah berbuat dosa dan tidak pernah mengalami keterpisahan dengan Bapa, harus menanggung semua hukuman seberat itu demi kita, manusia yang dikasihiNya.
Tak mampu memahami