Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
Matius 26:31-35
Petrus akan Menyangkal Yesus
Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya kepada Tuhan.
Salam jumpa dalam program Tuhan adalah Gembalaku.
Apakah Saudara pernah membuat resolusi?
Biasanya sebagian besar dari kita membuat resolusi di awal tahun baru, dengan anggapan bahwa tahun yang baru, maka saya pun harus baru, saya harus berubah.
Atau bisa juga di momen tertentu, kita membuat sebuah komitmen untuk berubah, misalkan olahraga rutin setiap minggu, atau komitmen untuk saat teduh setiap hari dan tidak bolong-bolong.
Setiap kita pasti pernah membuat tekad seperti ini, bukan? Namun dari sekian banyak yang pernah kita usahakan, berapa banyak yang kemudian, akhirnya berhasil dan berapa banyak yang gagal?
Kita mungkin bisa menjaga sebuah komitmen dengan baik di satu sampai tiga bulan pertama. Setelah sekian lama, bisa saja tiba-tiba kita kehilangan semangat untuk menjaga konsistensi, untuk menjaga komitmen, dan lambat laun tidak lagi kita lakukan.
Pertanyaannya, bagaimanakah cara kita menjaga komitmen-komitmen itu selama ini?
Mari kita membaca Firman Tuhan dari kitab Matius di bawah ini:
Matius 26:31-35 Petrus akan Menyangkal Yesus
31 Maka berkatalah Yesus kepada mereka: "Malam ini kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku. Sebab ada tertulis: Aku akan membunuh gembala dan kawanan domba itu akan tercerai-berai.
32 Akan tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea."
33 Petrus menjawab-Nya: "Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak."
34 Yesus berkata kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali."
35 Kata Petrus kepada-Nya: "Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau." Semua murid yang lain pun berkata demikian juga.
Saudara, inilah kisah malam sebelum Yesus ditangkap. Dimulai dengan sebuah peringatan saat Yesus sedang memberitahukan kepada para murid, bahwa Sang Gembala akan dibunuh dan domba-domba-Nya akan tercerai berai.
Kalimat ini merujuk kepada kematian Yesus, di mana ketika para murid menyaksikan Yesus ditangkap, dihakimi, dan dibunuh, lalu mereka akan tercerai berai.
Sebenarnya, tujuan Yesus menyampaikan peringatan adalah untuk menenangkan hati para murid jauh sebelum mereka mengalaminya.
Yesus berkata: “.. sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea.”
Jadi kisah ini sebenarnya dimulai dengan tujuan yang baik dari Yesus, yaitu Yesus ingin memberitahukan hal-hal yang akan dihadapi para murid-Nya di depan mereka.
Mereka akan terguncang tetapi mereka tidak perlu khawatir, sebab Yesus akan bangkit dan akan menjumpai mereka di Galilea.
Di dalam keterbatasan para murid pada waktu itu, sebagai manusia tentu merasa tidak bisa memahami dengan jelas, apa yang dimaksud oleh Yesus sesungguhnya.
Kemudian setelah Yesus bangkit, maka malaikatlah yang mengingatkan para murid akan perkataan Yesus ini: “Yesus sekarang sudah pergi ke Galilea mendahului kamu. Kalian akan bertemu-Nya di sana.”
Ini adalah sebuah pesan peringatan yang sederhana dan sebenarnya tujuannya baik, yaitu untuk menyadarkan pada murid sebelum mereka mengalami peristiwa yang mengguncang iman mereka.
Tapi ternyata kalimat Yesus ditangkap lain oleh Petrus, seorang murid Yesus, yang pada waktu itu terpicu oleh kalimat Yesus: “ ..kamu semua akan tergoncang imannya karena Aku.”
Petrus dengan kekuatan yang ia andalkan, berkata, "Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak."
Melihat Petrus yang terlalu percaya diri dengan kekuatannya, Yesus memperingati Petrus: "… sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali."
Mendengar jawaban ini Petrus lagi-lagi tidak mau kalah, untuk kedua kalinya dia menyatakan dengan kalimat yang terdengar sangat berani: "Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau."
Melihat kata yang dipakai Petrus “sekalipun”, sebenarnya menunjukkan Petrus tidak sepenuhnya mengira, bahwa Yesus akan benar-benar mati.
Ketika Petrus mengatakan ini, Alkitab juga mencatat, bahwa para murid yang lain juga mengatakan demikian.
Ini adalah sebuah kisah, saat para murid belum sepenuhnya memahami, apa yang akan terjadi pada kehidupan Yesus.
Nampaknya tidak pernah terlintas dalam kepala mereka, bahwa Yesus yang mereka lihat sebagai Mesias, yang mereka harapkan akan menyelamatkan mereka, akan mati.
Dari ketidakpahaman mereka, dengan yakinnya mereka menganggap, bahwa diri mereka mampu untuk melawan pencobaan dan godaan.
Dalam kisah ini, Petrus telah mengabaikan kelemahan dan keterbatasan dirinya. Petrus sedang memberikan ruang potensi dalam dirinya, bahwa ia mungkin juga bisa jatuh, bahwa mungkin ia juga bisa gagal.
Namun, ia sangat yakin, bahwa ia tidak akan menyangkal Tuhan. Dalam hal ini, Petrus gagal untuk meminta anugerah pertolongan Tuhan untuk meneguhkan imannya.
Petrus hanya bersandar kepada pengertian dan kekuatan sendiri, bahkan ketika Tuhan sudah memberikan peringatan apa yang akan terjadi.
Dari kisah ini kita bisa belajar, bahwa:
1) Ketika Tuhan telah mengingatkan kita akan firman-Nya, itu lahir dari kepedulian-Nya kepada kita dan Dia mau supaya kita benar-benar melakukan firman-Nya.
Panggilan ini bukan sebuah kebetulan, tetapi adalah sebuah pesan dari Roh Kudus, yang membawa kita untuk peka pada suara Tuhan dan melakukannya.
Oleh sebab itu jika kita mendengar suara Tuhan dalam bentuk apa pun, lewat apa pun, jangan abaikan.
Karena mungkin, ini adalah sebuah pesan yang sedang Tuhan peringatkan untuk masa depan, atau untuk sebuah penuntun yang sedang kita hadapi saat ini.
2) Penyerahan diri pada pertolongan Allah adalah sikap yang harus kita miliki.
Mengandalkan kekuatan kita sendiri tidak akan pernah berakhir baik. Seperti yang kita ketahui, akhir dari kisah ini, Petrus benar-benar menyangkal Yesus, tepat seperti yang Tuhan Yesus katakan.
Ini menunjukkan, bahwa ketika kita bersandar pada pengertian dan kekuatan kita sendiri, maka kita bisa gagal.
Kegagalan ini sepertinya bukan secara sengaja, bahwa Yesus ingin mencelakai hidup kita. Tapi Yesus ingin kita belajar, bahwa hanya anugerah Tuhan-lah yang memampukan kita supaya tidak terjatuh.
Jika Saudara sudah membuat solusi di awal tahun ini, atau komitmen apa pun yang Saudara buat dihadapan Tuhan;
berupa kerinduan membaca firman Tuhan setiap hari, atau tidak lagi jatuh pada dosa atau kebiasaan buruk yang sama,
atau komitmen untuk tidak marah-marah lagi, atau apa pun tekad Saudara, selidiki dan tanya dalam hati kita, siapa yang kita andalkan saat kita membuat komitmen-komitmen itu?
Pada saat kita melayani, maupun mempersiapkan rencana untuk masa depan, apakah kita selalu menyerahkannya kepada pimpinan Tuhan dan membiarkan Dia yang bekerja mengatur semuanya?
Perenungan hari ini mengingatkan kita, bahwa kita perlu berhati-hati terhadap keyakinan kita, saat kita bisa melakukannya sendiri tanpa pertolongan Tuhan.
Tuhan selalu siap menolong dan selalu siap menopang kita dalam setiap waktu.
Tetapi pertanyaannya; apakah kita mau memberikan diri kita ditopang dan ditolong oleh Tuhan?
Doakan dan renungkan
* Petrus yang mengandalkan diri sendiri, akhirnya menyangkal Yesus, tepat seperti yang telah Tuhan Yesus katakan.
* kita perlu berhati-hati terhadap keyakinan kita, khususnya saat kita merasa bisa melakukan-nya tanpa pertolongan Tuhan.
Merasa sanggup