Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
Matius 26:26-30
Penetapan Perjamuan Malam
Yesus memberikan tubuh dan mencurahkan darah agar kita yang tidak berdaya menerima kehadiran dan mengalami kuasa-Nya yang memulihkan.
Sebagai orang percaya, kita menerima Perjamuan Kudus secara rutin di dalam ibadah. Menurut tradisi, setiap orang yang sudah menerima baptisan, boleh menerima roti dan anggur di dalam Perjamuan Kudus.
Beberapa orang menerima roti dan anggur setelah mengenal Tuhan dan dibaptis, tepatnya saat usia sudah dewasa.
Pada saat remaja, pembicara berpikir bahwa Perjamuan Kudus adalah kegiatan yang lumrah dilakukan oleh orang dewasa.
Saat beranjak dewasa, pembicara berpikir bahwa ini saatnya mengikuti kelas katekisasi, dibaptis, dan melakukan Perjamuan Kudus.
Dalam menerima roti dan anggur, pembicara memahami secara permukaan saja, bahwa roti melambangkan tubuh Kristus, anggur melambangkan darah Kristus. Sebenarnya, makna Perjamuan Kudus lebih dalam dari itu.
Kita akan melihat alasan Yesus menginisiasi roti dan anggur di dalam perjamuan malam sebelum Ia disalibkan.
Matius 26:26-30
26 Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: "Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku."
27 Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: "Minumlah, kamu semua, dari cawan ini.
28 Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.
29 Akan tetapi Aku berkata kepadamu: mulai dari sekarang Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur ini sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, bersama-sama dengan kamu dalam Kerajaan Bapa-Ku."
30 Sesudah menyanyikan nyanyian pujian, pergilah Yesus dan murid-murid-Nya ke Bukit Zaitun.
Kisah ini sering disampaikan saat menjelang Jumat Agung dan Paskah.
Perjamuan Kudus adalah sakramen yang rutin dilakukan setiap bulan. Ayat ini juga dikatakan oleh gembala kita saat melakukan prosesi Perjamuan Kudus.
Kita akan melihat makna dari perjamuan malam yang dilakukan oleh Tuhan Yesus kepada murid-muridNya.
Bagaimana kita menerima roti dan anggur, menunjukkan kebersamaan kita dengan Allah dalam kondisi hidup yang aman, melalui relasi perjanjian yang kekal.
Yesus melakukan perjamuan malam bersama para muridNya saat Hari Raya Roti Tidak Beragi dan Paskah. Jadi, roti yang disiapkan adalah roti tidak beragi.
Biasanya dalam tradisi Yahudi, saat malam Paskah, sebelum mereka memakan roti tidak beragi tersebut, mereka akan mengucapkan Hamotzi:Terpujilah Engkau, Tuhan Allah kami, Raja semesta alam, yang mengeluarkan atau menumbuhkan roti dari bumi.
Kebiasaan ini terus dilakukan oleh orang Yahudi dan diajarkan kepada anak-anak kecil.
Kalimat ini menempel dalam benak anak-anak sampai dewasa. Mereka tahu bahwa mereka harus mengucapkan kalimat ini saat mereka makan sebelum Paskah.
Tidak diinformasikan apakah Yesus mengucapkan kalimat yang sama sebelum makan roti. Satu hal yang pasti adalah Yesus mengambil roti, memecah-mecahkannya, dan mengucap syukur.
Dalam kata bahasa Ibrani, kata “syukur” yang diucapkan adalah Eucharisteses.Dalam bahasa Inggris adalah Eucharist, kata yang dipakai untuk menandakan Perjamuan Kudus, selain dari Communion.
Setelah Yesus mengucap syukur, Yesus mengatakan, "Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku." Bagi para murid, hal ini mengagetkan karena merupakan kalimat yang baru pertama kali didengar, berbeda dengan kalimat yang mereka sudah ingat sejak kecil.
Kemudian, Yesus mengambil cawan anggur, mengucapkan syukur atasnya dan memerintahkan para murid untuk minum dari satu cawan yang sama, yang dinyatakan Yesus sebagai darah-Nya.
Melalui minum anggur, murid-murid diajak untuk merasakan hal yang dimaksud dengan darah Yesus.
Melalui minum dari cawan yang sama, para murid diajak untuk mengalami hal yang dimaksud dengan tubuh Kristus.
Saat Yesus mengatakakan,”Inilah darah-Ku.” Yesus mengungkapkan bahwa ini merupakan darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.
Dalam Perjanjian Lama, seperti yang tercatat di dalam Keluaran 24:8: Ketika Musa hendak menerima firman dari Tuhan dan meneruskannya kepada bangsa Israel, Musa mengambil darah dari lembu-lembu yang menjadi korban keselamatan, menyiramkan darah tersebut.
Musa mengatakan. “Inilah darah perjanjian yang diadakan Tuhan dengan kamu, berdasarkan segala firman ini.”
Dahulu, darah dari hewan digunakan sebagai tanda perjanjian Allah dengan umat-Nya, Sekarang, anggur yang dipakai untuk minum.
Allah menyatakan bahwa darah Yesus adalah darah perjanjian yang baru, sehingga melalui kematian Yesus di kayu salib, semua umat Allah berada di dalam relasi perjanjian yang baru dengan Allah.
Maka, Yesus memberikan petunjuk bahwa roti dan anggur melambangkan tubuh dan darah-Nya yang tercurah, untuk membebaskan manusia dari dosa dan mengundang manusia berada dalam satu kesatuan relasi perjanjian dengan Kristus.
Saat itu, para murid tidak paham. Namun, setelah peristiwa kebangkitan dan kenaikkan Yesus, mereka menjadi paham.
Makna dari Perjamuan Kudus yang kita terima setiap bulan, bukan hanya supaya kita tidak melupakan karya pengorbanan Yesus di atas kayu salib
Perjamuan Kudus mengingatkan kita atas tindakan mulia dari Allah yang kudus, mau datang ke dalam penghinaan, agar kita manusia yang kotor dan berdosa, masuk menjadi satu dengan Allah, dan menikmati relasi perjanjian yang menyelamatkan itu.
Kabar ini adalah kabar yang melegakan saat kita bergumul dengan dosa atau permasalahan hidup; baik dalam pekerjaan, keadaan finansial, kesehatan, dan masalah keluarga.
Kita diingatkan bahwa melalui Perjamuan Kudus, kesatuan kita dengan Kristus di dalam relasi perjanjian itu, mampu memberikan penghiburan dan pemulihan di dalam hidup yang penuh sengsara di dunia ini.
Kiranya saat menerima Perjamuan Kudus, secara spiritual kita diingatkan bahwa Yesus hadir di sana.
Ia mengundang kita untuk bersekutu dengan-Nya, mengalami anugerah dan kebaikan-Nya yang Tuhan ingin limpahkan kepada kita.
Setiap kali kita memakan roti dan minum anggur, hati kita kembali dipuaskan.
Jiwa yang lesu kembali menemukan jalan pulang. Itu yang Yesus lakukan bagi kita, karena besar kasih-Nya kepada kita.
Doakan dan renungkan
* Kita diingatkan bahwa melalui Perjamuan Kudus, kesatuan kita dengan Kristus, memberikan penghiburan dan pemulihan.
* Ia mengundang kita untuk bersekutu dengan-Nya, mengalami anugerah dan kebaikan yang Tuhan ingin limpahkan kepada kita.
Perjamuan Kudus