Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Selasa, 02 Juni 2026

Tuhan Adalah Gembalaku

Matius 26:17-19

Yesus Makan Paskah Dengan Murid-Murid-Nya.


Saudara, saya adalah tipe orang yang cenderung enggan untuk membuka aplikasi Google Maps jika sudah tahu jalannya, baik itu jalan yang saya sudah sangat hafal, maupun jalan yang hanya saya lewati beberapa kali.


Biasanya saya membuka aplikasi Google Maps untuk mengarahkan jalan dalam membantu suami saya yang sedang menyetir.


Suatu hari ketika kami dari perjalanan yang cukup jauh dan hendak pulang, waktu itu saya enggan untuk mengeluarkan HP dan membuka aplikasi navigasi maka saya mengandalkan ingatan samar-samar saya.


Alhasil saya sempat ragu antara jalan yang kiri atau yang kanan, meskipun keduanya sama-sama bisa dilewati, tapi ternyata kemudian kami masuk ke jalanan yang macetnya cukup parah sehingga memakan waktu lebih lama.


Padahal mungkin kemacetan ini bisa dihindari kalau saya cek di aplikasi navigasi terlebih dahulu. Akhirnya saya sadar sebenarnya saya tidak boleh mengandalkan pemikiran saya sendiri.


Mari membaca Alkitab kita yang terambil dari:


Matius 26:17-19


26:17 Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata: "Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?"


26:18 Jawab Yesus: "Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan Guru: waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku."


26:19 Lalu murid-murid-Nya melakukan seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka dan mempersiapkan Paskah.


Saudara, kalau kita sekilas membaca kisah ini kedengarannya seperti sebuah kisah yang normal dan sangat sederhana hanya perkara Yesus makan Paskah bersama dengan murid-murid-Nya.

Tapi kalau kita kupas lebih dalam sebenarnya ada makna yang jauh lebih mendalam yang penting untuk kita ketahui.


Dalam tradisi Yahudi saat itu ada yang namanya hari raya roti tidak beragi dan hari raya Paskah.


Kedua hari raya ini tadinya dipisah, tapi ada satu momen di abad pertama yang membuat kedua perayaan ini jadi digabung, maka hari raya Paskah atau Passover juga bersamaan dengan hari raya roti tidak beragi atau unleavened bread.


Catatan penting perhitungan hari bagi tradisi Yahudi itu dimulai pada saat malam (pk 18.00), bukan pagi (pk 00.00) seperti kita saat ini.


Kisahnya dimulai pada pagi hari sebelum hari raya Paskah, maka kejadian pagi hari itu bagi mereka terhitungnya masih 1 hari sebelum Paskah.


Ketika mereka makan malam bersama-sama pada malam hari, barulah itu kemudian dimulai sebagai hari Paskah yang pertama.


Saat itu para murid dan Tuhan Yesus sedang berada di luar kota Yerusalem dan menurut perkiraan mereka sedang berada di Betania sekitar 3 km jaraknya dari Yerusalem.


Menurut kebiasaan adat Yahudi pada waktu itu, makan Paskah itu seharusnya diadakan di kota Yerusalem.


Sehingga saat itu kota Yerusalem sangat ramai dan padat karena semua orang berkumpul untuk makan bersama-sama dengan keluarga masing-masing di kota Yerusalem.


Di sinilah menariknya karena para murid menyadari bahwa mereka itu sedang berada di luar kota Yerusalem yaitu di Betania, maka kemudian mereka tanya sama Yesus, "Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?"


Saudara, sebelum para murid mengambil tindakan sendiri, mereka bertanya kepada Yesus, sebelum para murid berinisiatif mencari ruangan atau tempat untuk makan, mereka bertanya dahulu kepada Tuhan.


Lebih menariknya jawaban Tuhan menunjukkan kalau Tuhan Yesus itu sudah mempersiapkan semua dengan sangat detail.


Persis seperti apa yang Ia inginkan untuk terjadi, bukan hanya sekedar karena Tuhan maunya seperti ini, tetapi ada sebuah rencana keselamatan yang Tuhan sedang ingin nyatakan.


Tuhan menjawab, "Pergilah ke kota (yang artinya di Yerusalem)." Artinya tetap sesuai aturan tradisi Yahudi, mereka akan makan di dalam kota Yerusalem.


Tuhan memerintahkan para murid untuk pergi kepada seseorang tidak diberitahukan kepada kita namanya siapa, tetapi di tengah-tengah Yerusalem yang sangat padat untuk semua orang makan bersama, orang ini kemudian menyediakan tempat bagi Yesus.


Berikutnya Tuhan juga mengatakan bahwa “Waktu-Ku hampir tiba, di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku.”


Di sini kita perlu ketahui satu hal, pengaturan waktu yang ditetapkan oleh Yesus itu sangat tepat.


Pada malam hari, yaitu pada awal hari Paskah menurut perhitungan orang Yahudi Yesus makan bersama murid-murid-Nya.


Keesokan siangnya, yang dalam perhitungan hari tradisi Yahudi masih dalam hari yang sama, banyak domba sedang disembelih untuk dimakan pada perjamuan-perjamuan malam yang diadakan oleh keluarga-keluarga Yahudi, maka saat itulah Sang Anak Domba mati menjadi korban penebusan bagi kita semua.


Saudara, mungkin kedengarannya ini kisah yang sangat simple, hanya perkara murid-murid bertanya kepada Yesus di mana mereka akan mengadakan perjamuaan Paskah.


Tapi justru di situlah pada pertanyaan itu terletak penyataan dan penggenapan karya kisah keselamatan Allah bagi manusia.


Murid-murid bertanya tentang makan di mana, tetapi Tuhan sedang menyiapkan diri-Nya yang menjadi korban.


Ini bukan hanya sebuah kisah sederhana, tapi ini adalah kisah seorang murid yang memberikan dirinya dipimpin oleh kedaulatan Allah.


Ketika murid-murid-Nya bertanya dan memilih untuk taat, maka di situlah Allah bekerja melibatkan murid-murid-Nya di dalam kisah keselamatan Allah bagi dunia.


Saudara, jika dibandingkan dengan perenungan kita yang kemarin, kita bisa melihat bedanya seorang murid yang mementingkan kepentingan diri sendiri dibandingkan dengan murid yang berserah pada pimpinan Tuhan.


Bukan berarti bahwa kemudian murid-murid Yesus yang ke-11 ini adalah murid-murid yang setia dan sempurna, karena kita tahu bahwa ada pula kisah Petrus yang menyangkali Yesus, ada pula kisah Thomas yang meragukan kebangkitan Yesus.


Kita bisa menemukan bahwa orang-orang yang mau menanyakan kehendak Tuhan, Tuhan itu akan memandu dan memimpin tepat seperti apa yang Tuhan mau.


Kisah ini memberikan kepada kita sebuah perenungan penting.



Kita perlu untuk senantiasa memberikan diri kita dipimpin oleh kehendak Tuhan, tapi dalam keseharian kita, apakah kita selalu bertanya kepada Tuhan sebelum kita berbuat sesuatu?


Mungkin untuk keputusan-keputusan besar kita selalu mendoakan cukup lama, tanya kehendak Tuhan, dan minta Tuhan yang pimpin.


Tapi bagaimana dengan hal-hal sederhana yang kita lalui di dalam kehidupan kita sehari-hari? Adakah kita masih meminta Tuhan memimpin hidup kita?


Mari dalam segala hal kita selalu bersandar kepada hikmat Tuhan dan di setiap waktu kita selalu menyerahkan diri kita untuk taat pada kehendak Tuhan.


Sebab orang-orang yang mengandalkan Tuhan dalam segala keadaan, hidupnya akan berjalan tepat seperti kehendak Allah.


Doakan dan renungkan


* Para murid Yesus bertanya kepada-Nya: "Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?"


* Seperti Tuhan memandu dan memimpin para murid, kita pun akan dipimpin Tuhan berjalan pada rencanaNya jika kita mau menanyakan kehendakNya.


Masihkah kita bertanya?