Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
Matius 26:14-16
Yudas mengkhianati Yesus
Hidup menjadi murid Tuhan bukan tentang apa yang kita harapkan untuk didapat dari Tuhan. Murid yang sejati adalah murid yang taat pada kehendak-Nya dan tunduk pada kedaulatan-Nya.
Pernahkah kita berada dalam kondisi di mana orang-orang terdekat kita, seperti: keluarga, sahabat, atau teman dekat, tidak mampu memenuhi ekspektasi kita? Apa yang biasa kita lakukan jika berada dalam kondisi tersebut?
Saat ekspektasi tidak terpenuhi, ada godaan besar yang muncul, seperti: mencari pemenuhan ekspektasi atau kompensasi dari tempat lain; tidak jarang juga timbul rasa kecewa yang membuahkan tindakan pengkhianatan.
Kita akan melihat bagaimana rasa kecewa yang salah arah bisa mengubah seorang murid menjadi seorang pedagang yang menjual gurunya sendiri.
Matius 26:14-16
14 Kemudian pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala.
15 Ia berkata: "Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?" Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya.
16 Dan mulai saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.
Pembahasan ini adalah kisah permulaan Yudas Iskariot mengkhianati Yesus.
Ayat 14 diawali dengan kata “kemudian”, yang berarti bahwa pembahasan ini masih berlanjut dari perikop sebelumnya, yaitu kisah di mana seorang murid merasa minyak wangi yang diurapi ke kepala Yesus terlalu mahal dan merupakan pemborosan.
Pada Mat 26:6-13 tidak dicantumkan siapa nama murid yang mengatakannya. Tetapi tercatat dalam kitab Yohanes dengan kisah yang sama dan disebutlah nama Yudas Iskariot. Sehingga perikop di atas sepertinya merupakan lanjutan dari kisah sebelumnya.
Kita tidak dapat mengetahui dengan pasti mengapa Yudas ingin mengkhianati Yesus. Namun, beberapa penafsir menduga Yudas kecewa dengan tindakan Yesus sebelumnya yang membiarkan minyak wangi mahal tercurah bagi-Nya.
Ada juga penafsiran lain yang mengatakan bahwa Yudas kecewa karena Yesus menjauh dari sosok yang ia harapkan.
Yudas berharap Yesus datang ke dunia untuk menjadi Raja Politik yang bisa membebaskan Israel, sehingga Yudas sebagai bendahara pada masa itu bisa memiliki posisi yang penting.
Terlepas dari alasan apa pun yang dimiliki Yudas untuk mengkhianati Yesus, terlihat jelas bahwa Yudas lebih mementingkan apa yang bisa ia dapatkan ketika ia menjual Yesus dengan harga yang sangat murah.
Alkitab mencatat bahwa Yudas menjual Yesus seharga 30 keping perak.
Kel 21:32
Tetapi jika lembu itu menanduk seorang budak laki-laki atau perempuan, maka pemiliknya harus membayartiga puluh syikal perak kepada tuan budak itu, dan lembu itu harus dilempari mati dengan batu.
Dari ayat di atas, 30 syikal perak itu setara dengan biaya yang harus digantikan pemilik lembu ketika lembunya menanduk seorang budak.
Hal ini menunjukkan bahwa Yudas menilai Yesus dengan sangat rendah, yaitu setara dengan nilai seorang budak.
Alkitab menyatakan bahwa Yudas mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus. Sebagian besar orang akan merasa bahwa ini adalah hal yang sangat ironis.
Tiga tahun lamanya Yudas menjadi murid Yesus, secara fisik mereka berdekatan. Yesus banyak memberikan rahasia Injil yang hanya diberikan kepada para murid-Nya saja.
Yudas banyak mendapat perlakuan dari Yesus seperti: dibasuh kakinya, didoakan, dipercaya memegang keuangan para murid.
Namun ternyata hati Yudas jauh dari Tuhan, ia tidak pernah mengenal dengan sungguh siapa Tuhan itu. Yudas hanya mementingkan apa yang menguntungkan baginya, yaitu harta dan materi dibanding Tuhan.
Bagaimana dengan kita? Bagaimana cara kita mengenal-Nya? Siapa Tuhan bagi kita? Mungkin kita tidak seperti Yudas yang terpikir untuk menjual Tuhan demi kepentingan sendiri.
Namun ketika Tuhan tidak menjawab doa kita, pekerjaan kita tidak maju, masalah datang bertubi-tubi dan berlangsung sangat lama, bagaimana kita memandang Tuhan?
Saat kita kecewa kepada Tuhan karena Ia tidak sesuai dengan yang kita harapkan, apa sikap kita?
Dalam pergumulan yang terjadi, kita sering dipenuhi rasa frustrasi, dan hal itu wajar dialami oleh kita sebagai manusia.
Tetapi arti dari mengikut dan percaya Tuhan seharusnya berarti kita percaya Dialah Tuhan dan apa pun yang diizinkan terjadi adalah kedaulatan-Nya sebagai Allah.
Mengenal Allah itu seharusnya bukan berdasarkan pemahaman dan idealisme kita sendiri, melainkan kita mengizinkan Allah bekerja sesuai dengan cara dan kehendak-Nya, dan kita percaya segala hal yang Ia lakukan itu adalah yang mulia di mata-Nya.
Melalui kisah Yudas kita diperingatkan agar jangan sampai sekian lama kita menjadi murid Tuhan, namun apa yang kita cintai dan hargai bukanlah Tuhan itu sendiri.
Jangan sampai selama ini kita belum sepenuhnya membiarkan Allah bekerja sebagai Allah dalam hidup kita.
Jangan sampai tampaknya kita adalah orang yang rajin beribadah dan pelayanan, tetapi di dalam hati kita ditemukan bahwa kita bukanlah murid Kristus yang sesungguhnya.
Pesan Firman Tuhan bagi kita:
1. Selagi kita masih mempunyai kesempatan hidup di dalam dunia ini, mari kita berjuang menjadi murid yang sejati dalam Kristus.
2. Walau perjalanan kita tidak mudah, mari tetap percaya bahwa Roh Kudus akan selalu menuntun setiap hati yang mau berserah pada pimpinan dan pembentukan-Nya.
Doakan dan renungkan
* Kitab Keluaran menuliskan; Jika lembu menanduk seorang budak laki-laki atau perempuan, maka pemiliknya harus membayar ganti 30 syikal perak kepada tuan budak itu.
* Dengan harga seorang budak yaitu 30 syikal perak, Yudas menjual Yesus. Hal ini menunjukkan bahwa Yudas tidak mengenal Yesus, dan baginya Ia setara dengan seorang budak.
Ironi kelam seorang Yudas