Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
Matius 24:29-31
Kedatangan Anak Manusia
Perumpamaan tentang pohon ara
Matius 24: 29-31
29 "Segera sesudah siksaan pada masa itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa langit akan goncang.
30 Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.
31 Dan Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya dengan meniup sangkakala yang dahsyat bunyinya dan mereka akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi, dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain.
“Welcome” Itu adalah sebuah sambutan yang kita ucapkan ketika bertemu dengan seseorang yang hadir ke rumah kita.
Kedatangan orang tersebut biasanya adalah sesuatu yang sudah dinantikan, sesuatu yang
dirindukan, sehingga ketika ia datang respons kita penuh sukacita.
Ketika kita mengatakan “welcome,” itu menyatakan bahwa kita menerima tamu tersebut dengan sukacita.
Namun berbeda ceritanya ketika yang datang bukanlah orang yang kita harapkan, melainkan orang yang mengganggu kenyamanan kita.
Contohnya ketika yang datang adalah debt collector atau penagih utang. Apa yang menjadi respons kita?
Mungkin kita pura-pura tidak ada di rumah atau bahkan mencoba keluar lewat pintu belakang.
Mengapa demikian? Karena kita tahu ada kewajiban yang harus dilunasi, tetapi belum kita selesaikan. Ada utang yang harus segera dibereskan.
Reaksi pura-pura tidak ada atau melarikan diri hanya bisa dilakukan ketika berhadapan dengan manusia yang terbatas pengetahuannya.
Namun berbeda ketika yang datang bukan sekadar penagih utang, melainkan Anak Manusia yang mengetahui segala sesuatu.
Bukan hanya apa yang tampak kita lakukan, tetapi juga apa yang ada di dalam hati dan pikiran kita.
Ayat 29 sampai 31 menunjukkan tentang kedatangan Anak Manusia, kedua kali, yang akan membangun kerajaan yang baru. Kedatangan-Nya yang kedua sangat berbeda dari kedatangan-Nya yang pertama.
Pada kedatangan pertama, Ia hadir dalam rupa seorang bayi yang terbaring di palungan. Hal itu menunjukkan kerendahan hati dan rupa seorang hamba.
Namun kali ini Ia datang bukan lagi dalam rupa seperti itu. Ia datang sebagai Raja yang penuh keagungan dan kemuliaan.
Ia datang di atas awan-awan, yang menunjukkan bahwa setiap orang akan mengakui bahwa Dialah Allah yang sesungguhnya.
Kedatangan-Nya yang kedua menjadi akhir dari kenyamanan setiap manusia yang mengalami kematian rohani.
Mereka adalah orang-orang yang hidup dengan prinsip “yang penting selamat,” bahkan rela mengorbankan karya keselamatan yang Tuhan sudah berikan.
Hal itu menjadi akhir kenyamanan mereka karena mereka harus mempertanggungjawabkan segala sesuatu di hadapan Allah. Itulah yang tercatat di dalam ayat 30: mereka akan meratap.
Namun kedatangan Anak Manusia yang kedua juga menjadi sukacita dan kebahagiaan bagi setiap orang yang melandaskan hidupnya pada keselamatan yang telah Tuhan berikan. Mereka adalah orang-orang pilihan-Nya seperti yang disebutkan di ayat 31.
Kira-kira apa yang akan menjadi respons kita jika Tuhan datang hari ini? Apakah kita akan meratap karena kenyamanan kita terganggu dan perbuatan kita tersingkap? Ataukah kita akan penuh sukacita menyambut Raja di atas segala raja?
Bagaimana jika Tuhan Yesus datang hari ini? Apakah kita akan gemetar karena ada dosa yang belum diselesaikan dan masih dinikmati? Ataukah kita siap menyambut-Nya?
Biarlah respons kita seperti ungkapan Mandarin “huān yíng.” Ini bukan sekadar ucapan selamat datang biasa, tetapi ungkapan sukacita dalam menyambut kedatangan seseorang.
Huruf “huān” berbicara tentang sukacita. Sedangkan “yíng” memiliki arti bergerak aktif untuk menyongsong, menyambut, dan meninggikan seseorang yang datang dengan kemuliaan dan kehormatan.
Biarlah kita menjadi orang yang bergerak aktif dan bersukacita menyambut kedatangan Tuhan Yesus Kristus.
“Huān yíng” mengingatkan seperti rakyat yang menyambut tentara yang pulang membawa kemenangan.
Namun yang datang kembali bukan panglima perang yang suatu hari bisa kalah. Yang datang adalah Raja di atas segala raja. Ia membawa kemenangan yang kekal.
Biarlah kita sebagai orang pilihan-Nya menyambut-Nya dengan penuh sukacita.
Kita menyongsong dan bergerak aktif mengagungkan Tuhan yang sudah lama kita nantikan kehadiran-Nya.
Doakan dan renungkan
* Pada waktu tampak tanda Anak Manusia di langit, semua bangsa akan meratap dan melihat Anak Manusia datang di atas awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.
* Apa respon kita jika Tuhan datang hari ini? Apakah kita akan meratap atau kita akan menyambut Raja di atas segala raja dengan penuh sukacita?
Meratap atau Sukacita?