Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
Matius 23:37-39
Keluhan terhadap Yerusalem
Mari kita sama-sama melanjutkan perenungan kita yang terambil dari injil:
Matius 23:37-39
37 "Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.
38 Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi.
39 Dan Aku berkata kepadamu: Mulai sekarang kamu tidak akan melihat Aku lagi, hingga kamu berkata:
Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!"
Apa yang menjadi respons kita ketika berhadapan dengan kelompok orang-orang yang sudah di kenal sebagai kelompok orang yang tidak tahu diuntung.
Mungkin terbersit dalam pikiran kita, ini adalah kelompok orang yang dikasih kesabaran, tapi malah ngelunjak;
Mungkin ada diantara kita juga yang berfikir, ini kelompok orang yang sudah dikasih tahu yang terbaik, baik, benar, namun memilih jalan yang salah;
Atau mungkin ada juga diantara kita yang berfikir, ini adalah kelompok yang sudah di kasih tahu sesuatu itu berbahaya, namun tetap melakukan kegiatan yang berbahaya dan berdampak negatif terhadap dirinya dan orang disekitarnya.
Kalau mau disingkat kelompok ini adalah kelompok yang “AUBAN”, kelompok yang tidak tahu diuntung, kelompok keras kepala yang susah berubah.
Menghadapi kelompok orang yang “AUBAN” ini maka respon kita biasanya menjadi “BOHUAT”, kita merasa, “Aduh, susah banget si diaturnya”, “Aduh, susah banget dikasih tahunya.”
Sehingga secara manusia kadang kita, tidak langsung menyumpahi, tapi kita mungkin menjadi pribadi yang berkata, “Udahlah, biarin aja sampai dia kena batunya baru nanti dia tobat.”
Mungkin itu yang menjadi respon secara sadar ataupun tidak sadar dari kita.
Bersyukurnya, kita punya Tuhan yang tidak gampang “Bohuat” dengan hidup kita.
Ayat 37-39 bukanlah keluhan karena Dia bohuat menghadapi umat israel, tidak! Sebaliknya ini adalah respons belas kasihan dari Tuhan Yesus yang mengharapkan sebuah pertobatan daripada kebinasaan.
Kata yang dipakai oleh Tuhan Yesus di ayat ke-37, ”Yerusalam, Yerusalem”. Ini menunjukkan bagaimana Dia sangat mengasihi dan berbelas kasihan terhadap kota ini.
Yerusalem adalah kota yang di pilih oleh Allah sendiri, disana akan di bangun bait Allah sebagai lambang kehadiran dari Allah.
Ini adalah kota yang menjadi pusat peribadatan umat Israel.
Kalau mau dikaitkan dengan bangsa Israel, bukankah hal ini mengingatkan kita bahwa Allah yang memilih bangsa Israel menjadi umat kepunyaannya.
Bukan karena kehebatan mereka, bukan karena kekuatan mereka namun karena Allah mengasihi mereka.
Tragisnya bangsa Israel tidak menyadari keistimewaan ini. Mereka merasa risih ketika ada nabi-nabi, utusan-utusan Allah yang memberitakan kebenaran.
Padahal itu spesial buat mereka, khusus di kirim oleh Allah untuk mempertobatkan.
Yang mereka lakukan adalah menganiaya dan membunuh orang-orang yang diutus Allah untuk menyatakan kebenaran ini.
Klimaksnya adalah mereka bukan hanya menganiaya dan membunuh para utusan Allah ini merekapun menganiaya dan membunuh Putra Allah Sendiri yang adalah Sang Kebenaran.
Tuhan Yesus dan Allah adalah pribadi yang sanggup langsung membalas segala perbuatan mereka.
Namun sekali lagi, Tuhan masih memberikan kesempatan karena Dia masih mengharapkan pertobatan daripada kebinasaan.
Itu yang digambarkan oleh Tuhan Yesus, “Aku rindu mengumpulkan anak-anak seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya.”
Dikatakan berkali-kali, ini menunjukan bahwa Dia sudah melakukan terus menerus.
Namun sekali lagi responsnya ajaib, responsnya bikin kita geleng-geleng, responsnya adalah tidak mau.
Bangsa israel menolak/ enggan/ tidak bersedia untuk dikumpulkan dan dilindungi, mereka menolak itu semua.
Bayangkan, ini adalah respons sebuah bangsa yang dipilih oleh Allah.
Sedangkan Allah sendiri di dalam Matius 1:23 pada waktu malaikat memberitahukan kelahiran Tuhan Yesus kepada Yusuf dalam mimpinya dikatakan orang akan menyebut Dia Immanuel yang artinya Allah yang beserta dengan kita.
Ini kontras bukan? Bangsa ini tidak mau bersama dengan Allah sedangkan Allah rindu bersama dengan umat-Nya agar umatnya tidak sendirian.
Mungkin ada diantara kita yang berfikir, waduh ini sih keterlaluan.
Tetapi mari kita berfikir, jangan-jangan itupun yang menjadi respons kita, ketika ada orang yang menegur kita supaya kita kembali kejalan yang benar atau ketika kita berhadapan dengan kebenaran itu sendiri, bagaimana respons kita?
Apakah respon kita adalah, “Oke Tuhan saya bertobat, saya butuh Tuhan, saya mengaku salah.”
Atau jangan-jangan respon kita adalah, “Aduh ngapain sih ngomongin tentang Allah, ngapain sih ngomongin tentang dosa, aduh dosa lagi, dosa lagi, udah deh, jangan sok suci semua orang juga melakukan hal yang sama.”
Jangan-jangan respons terakhir yang menjadi respon kita.
Kita tidak peduli dengan kebenaran, kita mengabaikan kebenaran, kita tidak peduli dengan Allah yang hadir, bahkan kita merasa risih ada Allah yang menyertai kita yang tahu segala dosa kita, yang tahu segala perbuatan kita.
Kalau kita punya respons yang terakhir, perhatikan apa yang Tuhan Yesus katakan di ayat 39, “Aku berkata kepadamu.”
Ini adalah sebuah undangan untuk mikir secara serius bahwa ada satu waktu di mana kita tidak lagi bisa mengabaikan atau menolak kebenaran tersebut.
Di ayat 39 ada kata, “Hingga”, ada satu masa di mana pada akhirnya kita akan berhadapan muka dengan muka dengan Sang Kebenaran tersebut.
Dan tidak ada yang tersembunyi, karena Dia datang untuk menjadi hakim dimana kita harus mempertanggungjawabkan semuanya itu dihadapan Dia
Dimana kita tidak bisa lagi menolak kebenaran atau sikap acuh tidak acuh terhadap kebenaran tersebut.
Bagaimana dengan respons kita ?
Sadarilah bahwa kehidupan yang paling menyedihkan bukanlah kehidupan yang disertai oleh Tuhan seolah-olah kita menjadi pribadi yang tidak punya privacy.
Sebaliknya, kehidupan yang paling menyedihkan adalah kehidupan yang tidak atau tanpa disertai oleh Tuhan.
Sekuat-kuat dan sehebat-hebatnya manusia tidak akan pernah bisa menjalani kehidupan sendirian.
Bersyukur sebagai anak-anak Tuhan, kita menyadari bahwa ada Allah yang penuh kasih, yang mau bersama dengan kita.
Sehingga sesulit apapun kehidupan kita, Tuhan tidak membiarkan kita berjalan sendirian.
Inilah pengharapan yang kita miliki, bayangkan, kemustahilan kita diselamatkan diselesaikan dengan cara Dia mati di kayu salib menggantikan kita sehingga kita boleh menjadi pribadi yang diselamatkan.
Pesan Firman Tuhan bagi kita:
1. Kita punya sebuah pengharapan di dalam kehidupan yang sulit dan rumit, karena Kristus yang bangkit selalu bersama dengan kita.
2. Kristus yang bangkit menyertai kehidupan kita, ditengah ketidakpastian hidup.
Biarlah ini menjadi sebuah ingatan yang membantu kita menjalani hari-hari di depan yang penuh dengan ketidakpastian.
Doakan dan renungkan
*"Yerusalem,..Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.
* Seperti bangsa Israel, kadang kita tidak mau disertai Allah, padahal Allah rindu menyertai dan menolong umat-Nya.
Jangan jalan sendiri