Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
Matius 23:16-22
Yesus mengecam ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi (part 4)
Perenungan Firman Tuhan terambil dari:
Matius 23:16-22
16 Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat.
17 Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, apakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu?
18 Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat.
19 Hai kamu orang-orang buta, apakah yang lebih penting, persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu?
20 Karena itu barangsiapa bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan juga demi segala sesuatu yang terletak di atasnya.
21 Dan barangsiapa bersumpah demi Bait Suci, ia bersumpah demi Bait Suci dan juga demi Dia, yang diam di situ.
22 Dan barangsiapa bersumpah demi sorga, ia bersumpah demi takhta Allah dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya.
Ada 3 āCā yang menjadi prinsip usaha yang biasanya dimiliki oleh orang keturunan Tionghoa, yaitu:
1. Cincai. Tidak boleh terlalu perhitungan terhadap pegawai atau orang yang dikenal dekat.
2. Cengli. Tidak boleh menipu, harus jujur dan adil.
3. Cuan. Harus menghasilkan untung, jika tidak maka itu dinamakan kerja rodi.
Saat kita mengidentifikasi kelompok orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menggunakan prinsip tersebut, ternyata mereka tidak melakukan 2 āCā yang pertama, namun hanya mementingkan prinsip ketiga, yaitu: Cuan.
Pengabaian prinsip pertama terlihat karena mereka menerapkan banyak tuntutan kepada pengikut mereka dan orang-orang Yahudi yang awam.
Pada ayat 16-22, kita akan menemukan betapa rumitnya sumpah-sumpah yang diucapkan. Antara yang mengikat dan tidak mengikat. Hal ini sangat rumit, sehingga dapat dikatakan orang Farisi pun tidak cengli.
Mereka berusaha agar kalau sampai gagal menepati sumpah atau janji, maka mereka tidak mendapat hukuman yang terlalu banyak.
Tuhan mengecam langsung kelompok orang ini dengan mengatakan bahwa kelompok ini adalah kelompok orang yang bodoh dan buta. Hal ini dikarenakan mereka tidak mengenal siapa Allah mereka.
Siapakah Allah kita?
1. Allah kita adalah Allah yang tidak bisa dimanipulasi/ditipu.
Tuhan memperhatikan hal-hal kecil yang kita janjikan, bahkan ucapan yang mungkin kita lupakan.
2. Allah yang menuntut kejujuran dari setiap umat-Nya.
Tuhan ingin agar kita berlaku apa adanya dan terbuka di hadapan-Nya.
3. Allah yang memperhitungkan keseriusan dari setiap perkataan umat-Nya.
Setiap kata yang terucap dalam doa-doa umat-Nya diperhitungkan dan diperhatikan oleh Tuhan.
Sehingga seperti yang Tuhan sampaikan, sebagai anak dan murid Tuhan, kita dilarang untuk bersumpah.
Namun, mari kita usahakan untuk berpikir sebelum berkata-kata, sehingga apa yang kita ucapkan adalah kata-kata yang berisi kebenaran.
Jika ya, katakan: ya; jika tidak, katakan: tidak. Itulah yang Tuhan ajarkan dan ini adalah prinsip yang sama yang tercatat dalam Matius 5:33-37.
Singkatan yang dapat kita ingat tentang perikop tersebut adalah kata TRUTH :
T : Tuhan yang jadi saksi. Kita perlu ingat bahwa dalam hidup bukan hanya manusia yang jadi saksi, namun Tuhanlah saksi kita.
R : Real. Katakan apa adanya, tanpa melebihkan atau mengurangi sesuatu.
U : Utamakan kebaikan bersama. Jangan hanya mempertahankan keuntungan kita atau menipu orang hanya demi keuntungan pribadi. Tuhan sudah merelakan segalanya demi menyelamatkan dan untuk kebaikan kita semua.
T : Tepati janji kita. Jangan pernah mengucapkan janji yang tidak bisa kita tepati.
H : Hati yang menghormati Tuhan. Apa pun yang kita lakukan harus berdasarkan hati yang hormat kepada Tuhan karena Ia adalah Tuhan yang tidak dapat ditipu atau dimanipulasi.
Pesan Firman Tuhan bagi kita:
1. Mari kita mohon pertolongan Tuhan agar bisa menjaga setiap perkataan kita.
2. Mari kita mohon pertolongan Tuhan agar apa yang akan kita ucapkan bisa selaras dengan isi hati Tuhan.
Doakan dan renungkan
* Yesus melarang manusia bersumpah, karena manusia tidak berkuasa atas apapun.
* Yesus mengajarkan kita untuk berintegritas: "Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak."
Cukup: Ya atau Tidak