Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Jumat, 08 Mei 2026

Tuhan Adalah Gembalaku

Matius 23: 1-12

Yesus mengecam ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi (part 1)


Matius 23: 1-12


1 Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya:


2 "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa.


3 Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.


4 Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.


5 Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang;


6 mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat;


7 mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.


8 Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara.


9 Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga.


10 Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.


11 Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.


12 Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.


Kita pasti tidak asing dengan lagu yang viral beberapa waktu yang lalu.


Lagu yang sebenarnya adalah lagu sekolah minggu, sederhana namun menjadi viral. Lagu ini dinyanyikan bahkan oleh orang-orang yang bukan Kristen.


“Tuhan Yesus tidak berubah, tidak berubah, tidak berubah. Tuhan Yesus tidak berubah. Tak berubah selama-lamanya.” Ya, itulah lagu “Tuhan Yesus Tidak Berubah.”


Sebuah lagu yang viral karena melodinya enak, kemudian dinyanyikan oleh banyak orang, termasuk yang non-Kristen.


Pertanyaannya, apakah ketika seseorang menyanyikan lagu itu, otomatis orang itu menjadi seorang Kristen atau murid Tuhan? Tentu saja jawabannya tidak.


Mengapa demikian? Karena kekristenan adalah sesuatu yang lebih mendalam. Kekristenan bukan hanya diukur dari apa yang diucapkan atau yang terlihat, entah itu aksesoris atau penampilan.


Kekristenan bukanlah sesuatu yang dangkal. Sebaliknya, kekristenan adalah sesuatu yang menyeluruh. Hal itu tercermin dari hidup kita, yang lahir dari hati yang mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama.


Oleh karena itu, di awal ayat 1–3, Tuhan Yesus mengajak para murid-Nya dan para pendengar, termasuk kita, untuk melihat bahwa gaya hidup seorang murid bukanlah gaya hidup yang FOMO atau sekadar ikut-ikutan.


Hal ini terlihat dari perkataan Tuhan Yesus, “Turutilah dan lakukanlah.” Namun Ia juga berkata, “Tetapi janganlah.”


Ini adalah sebuah himbauan dan undangan yang Tuhan Yesus berikan saat Ia mengajar para murid dan pendengar-Nya, termasuk kita.


Kita diminta untuk menuruti dan melakukan semua yang diajarkan oleh ahli Taurat.


Namun kita harus berhenti meniru gaya hidup orang Farisi dan ahli Taurat.


Mengapa demikian? Ada dua hal:


1. Ahli Taurat dan orang Farisi adalah kelompok yang suka menambah beban bagi orang lain.


Mereka menganggap diri lebih tinggi daripada orang lain.


Setelah mereka merumuskan berbagai aturan, mereka menuntut orang lain untuk melakukannya tanpa memberikan bantuan.


Ini adalah gambaran orang yang merasa dirinya lebih tinggi.


2. Mereka selalu ingin dipuji, dilihat, dan dihormati.


Ini adalah gaya hidup yang tidak tulus, bukan berasal dari hati yang mengasihi Tuhan dan sesama.


Mereka suka dipanggil “Rabi” atau “Bapak” karena itu menunjukkan posisi mereka lebih tinggi dari orang lain.


Setelah Tuhan Yesus mengkritisi sifat-sifat tersebut, Ia mengajak para murid untuk melakukan dua hal.


Yang pertama, jangan menganggap diri lebih penting atau lebih utama dari orang lain. Tuhan Yesus berkata, “Kalian adalah saudara.” Tidak ada yang lebih utama atau lebih penting.


Jangan ada yang ingin dipanggil “Rabi” atau “Bapak,” tetapi layanilah dan tolonglah sesama. Itulah yang Tuhan Yesus ajarkan dalam ayat 8 sampai ayat 10.


Di sisi lain, Tuhan Yesus juga mengajak kita untuk meneladani Mesias yang sesungguhnya, yaitu Tuhan Yesus sendiri.


Ia menunjukkan bagaimana melayani dan bagaimana menyerahkan diri untuk menyelamatkan kita.


Di akhir renungan ini, ada sebuah kutipan dari pendeta Benny Solihin. Ia berkata, “Melayani itu mudah, diperlakukan seperti pelayan itu susah.”


Ada banyak kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita untuk melayani. Karena itu, mari melayani dengan kerendahan hati.


Ketika pelayanan kita menjadi berkat dan orang memuji kita, ingatlah bahwa bukan perkenanan manusia yang kita cari, melainkan perkenanan Allah.


Jika pelayanan kita disalah mengerti, jangan kecewa, jangan patah semangat, dan jangan mundur.


Seperti Tuhan Yesus yang tetap menjalankan kehendak Allah, meskipun Ia ditolak dan disalibkan.


Ia tetap setia sampai mati di kayu salib untuk menyelamatkan setiap orang yang percaya kepada-Nya.


Mari jangan berhenti melayani. Layanilah Tuhan setiap kali kita memiliki kesempatan.


Doakan dan renungkan


* Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan.


* Jangan menganggap diri lebih penting dari orang lain. Tuhan Yesus berkata, “Kalian adalah saudara.” Jadi tidak ada yang lebih utama atau lebih penting.


Kita adalah saudara