Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Senin, 04 Mei 2026

Tuhan Adalah Gembalaku

Matius 22:15-22

Tentang membayar pajak kepada kaisar


Matius 22:15-22


15 Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan.


16 Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka.


17 Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?"


18 Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?


19 Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu." Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya.


20 Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?"


21 Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."


22 Mendengar itu heranlah mereka dan meninggalkan Yesus lalu pergi.


Pada pembahasan sebelumnya, Tuhan sudah tiga kali menegur orang-orang Farisi melalui perumpamaan.


Namun, mereka merasa diperlakukan tidak adil dan mereka ingin melakukan serangan balik.


Orang Farisi tidak berani untuk menghadapi Tuhan sendiri, sehingga mereka mengirim murid-muridnya untuk bergabung dengan kelompok orang-orang Herodian. Mereka ingin menjebak Tuhan.


Pada ayat 16 tercatat ungkapan “…Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka.”


Pujian tersebut seolah-olah adalah pengakuan yang berasal dari hati mereka.


Secara tidak langsung, mereka mengakui bahwa Tuhan adalah orang yang tulus, setia pada kebenaran, tidak mencari keuntungan diri sendiri, dan tidak pilih kasih.


Namun sesungguhnya, pujian tersebut adalah jebakan untuk memberikan tekanan kepada Tuhan agar menjawab pertanyaan mereka.


Jika tidak, maka itu akan mengindikasikan bahwa Tuhan sama dengan guru-guru lainnya.


Mereka berharap Tuhan akan menjawab pertanyaan yang mereka ajukan dengan jawaban “Ya” atau “Tidak”. Ini adalah sebuah jebakan yang luar biasa.


Jika Tuhan menjawab “Ya”, maka kelompok Herodian akan senang, namun kelompok murid-murid orang Farisi dan Yahudi akan menganggap bahwa Ia telah menghina Allah.


Tetapi jika Tuhan menjawab “Tidak”, maka kelompok orang Herodian akan menganggap Tuhan sebagai seorang pemberontak, walau di satu sisi mungkin Tuhan akan mendapat lebih banyak pengikut.


Menariknya, apa yang Tuhan lakukan berbeda dari apa yang dibayangkan.


Tuhan tidak menjawab dengan “Ya” atau “Tidak”, melainkan Ia meminta koin yang akan mereka pakai untuk membayar pajak kepada Kaisar.


Hal itu mencerminkan bahwa koin itu berasal dari sang penanya, bukan milik Tuhan.


Saat Tuhan bertanya, gambar siapa yang tertera di koin itu? Mereka pun menjawab gambar dan tulisan Kaisar.


Hal itu berarti, sekalipun mereka tidak mau membayar pajak kepada pemerintah, mereka tetap memiliki dan dapat menggunakan koin tersebut.


Saat kepemilikan koin itu ada di tangan mereka, maka sudah sewajarnya mereka membayar pajak kepada pemerintah.


Tuhan mengaitkan kewajiban membayar pajak dengan sebuah kewajiban kepada Allah (ay. 21).


William Barclay pernah berkata: Kegagalan dalam kewarganegaraan yang baik juga merupakan kegagalan dalam kewajiban Kristen.


Apa yang Tuhan sampaikan dan ungkapan dari William mengingatkan bahwa kita memiliki dua kewarganegaraan.


Dalam bahasa mandarin ada kata王(wáng), yang berarti raja, pemimpin dalam sebuah negara. Dan kata主(zhǔ) yang berarti Tuhan.


Sebagai anak-anak Tuhan yang tinggal di sebuah negara, kita wajib mengikuti segala kebijakan yang dibuat oleh pemimpin negara kita.


Namun, kita tidak boleh memisahkan ketaatan kita sebagai warga negara yang baik dan ketaatan kita kepada Tuhan.


Saat kita melakukan segala kebijakan yang diharuskan oleh negara, maka itu semua harus dilakukan dalam ketaatan kita kepada Tuhan.


Kewajiban kita kepada pemerintah merupakan bentuk ketaatan kita kepada Tuhan.


Pesan Firman Tuhan bagi kita:


1. Sudahkah kita menjadi warga negara yang baik?


2. Sudahkah kita menjadi pribadi yang mengusahakan kesejahteraan bagi negara di mana Tuhan menempatkan kita dan penempatan-Nya tidak pernah salah?


Doakan dan renungkan


* "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."


* Sebagai anak-anak Tuhan yang tinggal di sebuah negara, kita wajib mengikuti peraturan yang dibuat oleh pemimpin negara tersebut sebagai bentuk ketaatan kita kepada Tuhan.


Bagian dari ketaatan kita