Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
Matius 22:1-14
Perumpamaan tentang perjamuan kawin
Hari ini kita akan sama-sama membaca, merenungkan dan menggumulkan bagian Firman Tuhan yang terambil dari:
Matius 22:1-14
1 Lalu Yesus berbicara pula dalam perumpamaan kepada mereka:
2 "Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya.
3 Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang.
4 Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini.
5 Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya,
6 dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya.
7 Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka.
8 Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu.
9 Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu.
10 Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu.
11 Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta.
12 Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja.
13 Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.
14 Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih."
Kita pasti tidak asing dengan istilah “titip angpao”, bahkan kita mungkin pernah melakukan apa yang namanya “titip angpao.”
Ketika kita berhalangan untuk menghadiri sebuah pesta pernikahan yang diadakan oleh kerabat ataupun saudara, kita biasanya “titip angpao.”
Bahkan zaman sekarang kita bisa langsung transfer ke rekening mempelai. Seperti ungkapan yang mungkin pernah kita dengar, “Gak apa tidak datang, yang penting angpao-nya sampai.”
Sehingga orang-orang yang membaca bacaan diatas mungkin berpendapat, “Aduh, raja ini lebay banget ya”, “Aduh, raja ini koq baper banget”, “Aduh raja ini koq sampai segitunya, kan tidak bisa datang karena dia berhalangan.”
Mari kita perhatikan perumpamaan diceritakan bahwa orang-orang yang diundang adalah memang orang-orang yang tidak berniat hadir.
Ketika diundang mereka menolak untuk hadir. Maka sebenarnya penolakan mereka itu berbicara dua hal:
1. Penghinaan
Mereka mengangganp anak raja dan raja itu tidak layak untuk menerima hadiah yang akan mereka berikan sehingga ini berbicara tentang, “Penghinaaan.”
2. Pemberontakan
Ketika menolak sebenarnya mereka itu sedang berusaha untuk memberontak.
Bayangkan, orang-orang ini sampai berani memukuli hamba-hamba atau utusan yang dikirim oleh raja untuk mengirimkan undangan tersebut. Inilah yang terjadi ketika orang-orang ini menolak untuk hadir.
Bayangkan betapa raja ini benar-benar mengusahakan yang terbaik untuk mengatur pesta perkawinan anaknya. Bahkan orang-orang itu diundang sampai 3x.
Pada zaman itu, undangan pertama biasanya disebar atau diberitahu bahwa keluarga A akan menikahkan anak mereka.
Kemudian mendekati harinya akan ada orang yang kembali mengingatkan para undangan bahwa pestanya akan segera dimulai.
Namun perhatikan orang-orang ini menolak untuk hadir. Raja bingung.
Bayangkan, raja yang begitu sabar sampai mengirimkan lagi orang-orang yang ketiga untuk kasih tahu apa saja yang sudah dia siapkan.
Dikatakan bahwa hidangan sudah tersedia, lembu-lembu jantan dan ternak sudah disembelih.
Bayangkan kata “ternak” dalam bagian ini, bukan hanya bicara tentang ternak biasa yang dibeli dipasar.
“Ternak” dalam bagian ini menunjukan bahwa ini adalah hewan yang memang benar-benar disiapkan, digemukkan untuk kemudian disembelih dan disajikan pada hari yang sangat special.
Ini bukan sembarang pesta, ini adalah undangan kerajaan.
Sehingga penolakan tadi menunjukan bahwa orang-orang ini sama sekali tidak perduli, tidak menghormati, menghina raja dan mungkin mereka adalah orang yang memberontak.
Sehingga tepatlah respon raja yang langsung dikatakan dalam perumpamaan ini, untuk membakar dan membinasakan orang-orang tersebut.
Ini bukan raja yang baper, namun ini raja yang melihat adanya sebuah penghinaan dan pemberontakan yang sengaja dilakukan oleh para undangan.
Menariknya adalah ketika undangan yang pertama tidak mau hadir, mereka dihukum. Namun pesta perkawinan tetap harus dijalankan.
Apa yang dilakukan? Dia mengundang orang-orang lain yang ada di jalanan, di persimpangan- persimpangan jalan sehingga benar-benar ruangan pesta itu penuh.
Jangan pernah lupa, ketika seorang raja mengadakan pesta maka sebenarnya raja itu bukan cuma mengajak orang-orang yang hadir, untuk menikmati makan malam yang berbeda dari yang biasanya.
Ini adalah sebuah bentuk undangan dimana raja bisa bersekutu, berkomunikasi, saling mengenal satu sama lainnya.
Dan menarik nya, mereka yang terakhir diundang bahkan disiapkan baju pesta. Zaman dulu itu bahkan baju pesta pun sangat mungkin disediakan.
Oleh karena itu tidak heran ketika ada orang yang tidak memakai pakaian pesta, raja ini berkata, “Bagaimana mungkin kamu bisa masuk kemari tanpa pakaian pesta?”
Dan ketika ditanya orang itu diam. Mengapa? Karena dia tahu dia salah.
Untuk membangun persekutuan, raja ini menetapkan sebuah standar, dimana standard itu pun disiapkan, disediakan oleh raja. “wow” betapa murah hati raja ini.
Namun dalam perumpamaan ini kembali lagi diingatkan bahwa kesabaran Allah kita adalah kesabaran yang ada batasnya.
Ketika kita terus menerus tidak mengikuti standarNya kita menjadi orang-orang yang sebenarnya memberontak terhadap Dia.
Saya suka sekali dengan Simon J. Kistemaker yang mengatakan seperti ini dalam buku perumpamaan-perumpamaan Tuhan Yesus:
”Kesabaran dan belas kasihan Allah yang tidak menghasilkan pertobatan akan menimbulkan penghakiman!”
Kalimat ini seharusnya mengingatkan kita bahwa kalau kita punya Allah yang begitu sabar, begitu murah hati, mari hiduplah dalam sebuah pertobatan yang terus menerus.
Saya teringat dengan khotbah di hari Jumat Agung yang bertemakan korban pendamaian, saya suka sekali dengan istilah yaitu “挽回祭wanhuí jì.”
Kata “挽wan” ini saya coba cari di dictionary dan saya menemukan bahwa kata ini terdiri dari radikal tangan dan huruf “mien” sehingga di dicitionary tersebut mengatakan, ini menggambarkan sebuah tangan yang menarik.
Ini mengingatkan saya tentang gambaran tangan Tuhan yang terulur untuk menarik dan memulihkan kita.
Bukankah itu yang Allah lakukan ketika dia mengirimkan Anak-Nya Tuhan Yesus Kristus.
Dia mengirimkan korban pendamaian untuk memulihkan hubungan kita yang rusak, Dia mengundang kita ke dalam perjamuannya, Dia ingin membentuk persekutuan dengan kita, Dia ingin di kenal dan mengenal kita.
Namun apa yang menjadi respons kita? Apakah kita berespons dengan menyia-nyiakan kesabaran dan belas kasihan Tuhan dengan terus menolak undangan-Nya?
Atau kita menjadi pribadi yang merespons kasih Tuhan dengan tangan yang terus mau di pegang oleh-Nya.
Betapa berbahagia dan bersyukurnya kita, kalau kita punya respons yang tepat.
Betapa berbahagia dan bersyukurnya kita, kalau kita diizinkan Tuhan untuk membentuk dan membangun sebuah persekutuan yang indah dengan Nya.
Pesan Firman Tuhan Bagi kita:
1. Mari responi undangan Tuhan ini dengan sebuah sikap hati yang terus mau diubahkan, mau hidup di dalam standard-Nya Tuhan yaitu kebenaran Firman Tuhan.
2. Mari hidup dalam persekutuan di dalam kebenaran Firman Tuhan.
Doakan dan renungkan
* Kerajaan Sorga seumpama raja yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil para undangan, tapi mereka tidak mau datang.
* Demikianlah Allah mengirim korban pendamaian untuk memulihkan hubungan kita yang rusak, Dia mengundang kita ke perjamuanNya, Dia ingin di kenal dan mengenal kita.
Mari hadiri undanganNya