Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Jumat, 01 Mei 2026

Tuhan Adalah Gembalaku

Matius 21: 28-32


Perumpamaan tentang dua orang anak


Matius 21: 28-32


28 "Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur.


29 Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi.


30 Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga.


31 Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" Jawab mereka: "Yang terakhir." Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.


32 Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya."


Setiap kita pasti percaya dan setiap dari kita pasti setuju bahwa berjanji adalah hal yang mudah.


Namun, menepati sebuah janji membutuhkan tekad yang bulat. Menyetujui sebuah permohonan dapat dilakukan dalam waktu yang singkat.


Namun, untuk memenuhi sebuah permohonan dibutuhkan kerelaan hati dan juga penyangkalan diri untuk keluar dari zona nyaman.


Hal itu mungkin memakan waktu yang cukup lama. Jika kita membaca bagian ini, kita melihat bahwa inilah yang menjadi kegagalan dari anak pertama.


Sebenarnya, permintaan sang ayah sangat sederhana dan wajar. Dia meminta kepada kedua anaknya untuk pergi ke kebun anggur dan bekerja di sana.


Ini adalah sesuatu yang wajar karena kebun anggur adalah sumber keuangan atau mata pencaharian bagi keluarga tersebut dan dikerjakan secara bersama-sama.


Oleh karena itu, anak pertama dengan segera berkata, “Baik.” Namun, seperti yang kita tahu, anak ini sama sekali tidak pergi.


Kita tidak pernah tahu apa yang menyebabkan atau alasan mengapa anak pertama ini akhirnya tidak jadi pergi atau gagal memenuhi janjinya kepada sang ayah.


Mari kita bayangkan bahwa ketika seseorang taat melakukan sesuatu, pada saat yang bersamaan dia harus meninggalkan kenyamanan atau aktivitas yang sedang dia lakukan.


Mungkin itu adalah hobinya. Mungkin itu adalah kenyamanan yang sedang benar-benar dia nikmati.


Inilah yang menjadi kegagalan dari anak pertama. Contohnya, bayangkan ketika kita meminta anggota keluarga untuk membantu membersihkan rumah, maka orang yang membantu itu harus meninggalkan kenyamanannya.


Dia harus menghentikan apa yang sedang dia kerjakan.


Mungkin saat itu dia sedang bermain game. Mungkin dia sedang bermain media sosial. Mungkin dia sedang menonton Netflix atau YouTube, atau sekadar menikmati posisi rebahan.


Apapun alasannya, ketika dia akan membantu dan taat menolong, maka dia harus meninggalkan kenyamanannya tersebut. Inilah yang menjadi kegagalan anak pertama.


Berbeda dengan anak kedua. Ketika dimintai tolong, dia langsung berkata, “Tidak.” Penolakannya tidak pernah bisa dibenarkan, baik di zaman dahulu maupun sekarang.


Penolakan ini menunjukkan sikap yang tidak mengakui otoritas sang ayah. Sikap penolakannya menunjukkan bahwa dia tidak menghormati ayahnya.


Namun, seiring waktu, anak kedua ini menyesal dan melakukan kehendak ayahnya.


Menarik sekali Tuhan Yesus menutup perumpamaan ini dengan berkata, “Sesungguhnya para pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.”


Apa artinya? Singkatnya, Tuhan Yesus menegur para imam kepala dan tua-tua Yahudi yang terus mempertanyakan otoritas atau kuasa Tuhan Yesus saat Dia melayani.


Teguran ini menekankan bahwa pertobatan sejati seharusnya ditunjukkan dengan ketaatan.


Pertobatan sejati ditunjukkan dengan pengakuan akan adanya kesalahan dalam diri, lalu melakukan kebenaran tersebut.


Tuhan Yesus ingin mengatakan bahwa pertobatan sejati bukan hanya berbicara tentang janji atau komitmen yang diucapkan pada waktu tertentu.


Pertobatan sejati bukan seperti imam kepala dan tua-tua Yahudi yang terus membicarakan kebenaran tanpa melakukannya.


Mereka terus membicarakan hal-hal rohani tanpa mau melakukan kebenaran yang sedang mereka diskusikan.


Pertobatan sejati berbicara tentang kerelaan hati untuk meninggalkan segala dosa.


Ini juga berarti meninggalkan segala sesuatu yang selama ini terasa nyaman, dinikmati, bahkan digenggam.


Oleh karena itu, mari kita menjadi pribadi yang taat.


T: terus mempelajari kebenaran Firman Tuhan.


A: akui kebenaran Firman Tuhan.


A: akui kesalahan kita di hadapan Allah.


T: terus terapkan kebenaran Firman Tuhan dalam hidup kita.


Tuhan Yesus memberkati kita semua.


Doakan dan renungkan


* Berbeda dengan anak pertama, anak kedua langsung berkata, “Tidak” ketika dimintai tolong bapanya. Namun seiring waktu, anak ini menyesal dan melakukan kehendak ayahnya.


* Tuhan Yesus menyampaikan bahwa pertobatan sejati dimulai ketika kita mau meninggalkan kenikmatan dan kenyamanan kita untuk melakukan apa yang dikehendakiNya.



Genapi MisiNya