Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
Matius 21:23-27
Pertanyaan Mengenai Kuasa Yesus
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali seseorang mempertanyakan tentang otoritas.
Misalnya, ketika seseorang memberi arahan atau teguran. Orang lain bisa bertanya, “Siapa yang memberikanmu hak untuk mengatakan itu?” Pertanyaan tentang otoritas bukan sesuatu yang baru.
Di dalam Alkitab, Tuhan Yesus juga pernah mengalami hal yang sama.
Mari kita bersama-sama membaca dari kitab Matius di bawah ini.
Matius 21:23-27 Pertanyaan Mengenai Kuasa Yesus
23 Lalu Yesus masuk ke Bait Allah, dan ketika Ia mengajar di situ, datanglah imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi kepada-Nya, dan bertanya: "Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu?"
24 Jawab Yesus kepada mereka: "Aku juga akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu dan jikalau kamu memberi jawabnya kepada-Ku, Aku akan mengatakan juga kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.
25 Dari manakah baptisan Yohanes? Dari sorga atau dari manusia?" Mereka memperbincangkannya di antara mereka, dan berkata: "Jikalau kita katakan: Dari sorga, Ia akan berkata kepada kita: Kalau begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepadanya?
26 Tetapi jikalau kita katakan: Dari manusia, kita takut kepada orang banyak, sebab semua orang menganggap Yohanes ini nabi."
27 Lalu mereka menjawab Yesus: "Kami tidak tahu." Dan Yesus pun berkata kepada mereka: "Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu."
Bayangkan seorang guru yang mengajar di kelas dengan hikmat. Namun, bukan memperhatikan pelajaran, beberapa muridnya justru sibuk mempertanyakan siapa yang memberi dia hak untuk mengajar?
Kadang pertanyaan seperti itu bukan muncul karena ingin diajar, melainkan karena tidak mau menerima kebenaran.
Itulah yang terjadi dalam peristiwa ini. Para pemimpin agama datang kepada Yesus bukan untuk belajar, tetapi untuk menjebak dan mempertanyakan otoritas-Nya.
Di sini dikatakan, Yesus sedang mengajar di Bait Allah. Bait Allah adalah pusat kehidupan rohani dari bangsa Israel.
Namun, para imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi datang dan bertanya:"Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu?”
Mereka mempertanyakan otoritas dari Yesus. Karena sebelumnya, Yesus sudah menyucikan Bait Allah, mengajar dengan penuh kuasa, dan melakukan banyak mukjizat.
Para pemimpin agama merasa posisi mereka terganggu. Namun, Tuhan Yesus tidak langsung memberikan jawaban atas pertanyaan mereka, tetapi justru memberikan sebuah pertanyaan balik.
Dari manakah baptisan Yohanes? Dari sorga atau dari manusia?
Pertanyaan yang tajam. Kenapa? Karena Yohanes Pembaptis dikenal luas sebagai nabi yang diutus oleh Tuhan. Ia juga bersaksi tentang Tuhan Yesus sebagai Mesias.
Para pemimpin agama kemudian berdiskusi dan memikirkan jawaban apa yang harus diberikan. Mereka justru berpikir secara politis.
Jika mereka berkata dari sorga, maka mereka harus mengakui, bahwa mereka salah karena mereka tidak percaya kepada Yohanes. Harusnya mereka percaya kalau mengatakan dari sorga.
Tetapi, jika mereka berkata dari manusia, maka orang banyak akan menyerang mereka. Mereka takut kepada orang banyak yang percaya, bahwa Yohanes adalah nabi.
Karena itu, mereka menjawab: "Kami tidak tahu." Jawaban ini bukan karena mereka benar-benar tidak tahu, tetapi karena mereka tidak mau jujur terhadap kebenaran.
Yesus berkata, "Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu."
Yesus menunjukkan bahwa hati mereka tidak terbuka terhadap kebenaran. Masalah mereka bukan karena kurang informasi, tetapi karena ketidakmauan untuk percaya.
Dari perikop ini, kita belajar dua hal penting:
1) Hati yang tertutup akan sulit menerima kebenaran.
Para pemimpin agama sebenarnya mengetahui banyak tentang kitab suci Taurat. Mereka adalah orang-orang yang terdidik secara rohani. Mereka belajar dengan serius dan sungguh-sungguh.
Tetapi pengetahuan saja tidak cukup, jika hati tidak mau tunduk kepada Tuhan.
Kita bisa saja melihat kebenaran tetapi tetap menolaknya. Kita tidak mau terima. Kita tidak mau mendengar.
Saat kita mendengar kotbah dan kotbah itu menegur kita. Firman itu menegur kita, mengingatkan sesuatu kepada kita.
Tetapi karena hati kita tertutup, kita tidak mau tunduk, kita merasa firman itu salah, firman itu tidak benar. Atau kita mengatakan, ini cocok untuk orang lain, tapi tidak untuk saya.
Karena itu, yang Tuhan cari, bukan hanya pengetahuan, bukan hanya kita yang banyak tahu. Tetapi yang Tuhan cari adalah hati yang rendah, dan hati yang mau diajar.
2) Dalam peristiwa ini kita melihat Yesus memiliki otoritas Ilahi.
Pertanyaan tentang otoritas Yesus, sebenarnya sudah dijawab oleh banyak hal.
Mukjizat-mukjizat yang Tuhan Yesus lakukan yang begitu banyak, pengajaran-pengajaran yang penuh kuasa, orang-orang yang mengikuti, orang-orang yang mau mendengarkan-Nya, bahkan berhari-hari.
Kesaksian dari Yohanes Pembaptis adalah Yesus bukan sekedar guru biasa. Dia adalah Anak Allah yang tentu saja memiliki otoritas dari Allah Bapa.
Karena itu, respon yang tepat, bukan mempertanyakannya dengan hati yang keras, melainkan percaya dan tunduk kepada-Nya.
Pesan Firman Tuhan bagi kita:
1. Sikap hati sangat menentukan bagaimana kita meresponi Firman Tuhan.
Para pemimpin agama melihat Yesus, mendengar pengajaran-Nya bahkan menyaksikan mukjizat-Nya. Namun, mereka tetap tidak percaya.
2. Kebenaran tidak hanya perlu didengar, tetapi juga diterima dengan hati yang mau taat.
Kiranya ketika kita mendengar Firman Tuhan, hati kita tidak keras seperti para pemimpin agama itu, melainkan dengan lembut menerimanya dan siap mengikuti setiap kehendak Tuhan.
Doakan dan renungkan
* Para pemimpin agama sebenarnya tahu banyak tentang kitab Taurat. Tapi pengetahuan mereka tidak berarti karena hati mereka tidak mau tunduk kepada Tuhan.
* Kita bisa saja seperti mereka, saat kita mendengar kebenaran Firman Tuhan, tetapi kita menolak dan mengabaikannya.
Hati yang mau diajar