Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Selasa, 28 April 2026

Tuhan Adalah Gembalaku

Matius 21:12-17

Yesus Menyucikan Bait Allah.


Seringkali orang hanya melihat 1 sisi dari pribadi Tuhan Yesus yang penuh kasih, kelembutan dan mengampuni.


Hal itu benar, Yesus adalah Tuhan Allah yang penuh belas kasihan, namun dalam perikop hari ini kita melihat sisi lain dari Tuhan Yesus.


Yesus yang membela kekudusan rumah Allah. Mari kita bersama-sama membaca dari:


Matius 21:12-17


21:12 Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati


21:13 dan berkata kepada mereka: "Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun."


21:14 Maka datanglah orang-orang buta dan orang-orang timpang kepada-Nya dalam Bait Allah itu dan mereka disembuhkan-Nya.


21:15 Tetapi ketika imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat melihat mujizat-mujizat yang dibuat-Nya itu dan anak-anak yang berseru dalam Bait Allah: "Hosana bagi Anak Daud!" hati mereka sangat jengkel,


21:16 lalu mereka berkata kepada-Nya: "Engkau dengar apa yang dikatakan anak-anak ini?" Kata Yesus kepada mereka: "Aku dengar; belum pernahkah kamu baca: Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu Engkau telah menyediakan puji-pujian?"


21:17 Lalu Ia meninggalkan mereka dan pergi ke luar kota ke Betania dan bermalam di situ.


Bayangkan di sebuah tempat yang seharusnya tenang dan penuh hormat, misalnya tempat ibadah tetapi di dalamnya justru penuh dengan suara, di sana ada transaksi, tawar-menawar, dan kegiatan bisnis, bahkan kegiatan bisnis yang dilakukan bukanlah kegiatan bisnis yang baik.


Tempat yang seharusnya membantu orang dekat kepada Tuhan justru menjadi tempat yang mengalihkan perhatian dari Tuhan, situasi seperti inilah yang terjadi di Bait Allah pada waktu itu.


Dicatat bahwa Yesus masuk ke Bait Allah dan melihat orang-orang yang berjual beli di halaman Bait Allah.


Pada waktu itu memang ada sistem penukaran uang dan penjualan hewan untuk kurban, namun masalahnya bukan sekedar adanya transaksi.


Masalahnya adalah bahwa tempat yang seharusnya dipakai untuk berdoa dan mencari Tuhan telah berubah menjadi tempat yang penuh dengan keserakahan dan penyalahgunaan.


Di mana orang-orang melakukan penjualan kurban dengan mengatakan bahwa hewan kurban yang mereka bawa itu cacat dan tidak layak, sehingga mereka harus membelinya kembali.


Hal inilah yang membuat akhirnya Tuhan Yesus bertindak tegas.


Ia mengusir para pedagang, Ia membalikkan meja penukaran uang, Ia membalikkan bangku pedagang merpati.


Lalu Yesus berkata, “Rumah-Ku akan disebut rumah doa, tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.”


Tuhan Yesus mengutip 2 bagian Perjanjian Lama, di Yesaya 56:7 “Rumah Doa”, dan Yeremia 7:11 “Sarang Penyamun”, artinya orang-orang ini tidak hanya berjualan, mereka telah merusak tujuan utama dari rumah Tuhan.


Setelah membersihkan Bait Allah, ada sesuatu yang indah bahwa orang-orang datang untuk disembuhkan.


Ketika rumah Tuhan dipulihkan, orang-orang yang membutuhkan pertolongan itu datang.


Menariknya yang memuji Yesus justru anak-anak, bukan orang-orang dewasa, mereka berseru “Hosana bagi Anak Daud.”


Namun para pemimpin agama justru malah marah dan mereka tidak suka, mereka lebih terganggu oleh pujian kepada Yesus daripada penyalahgunaan Bait Allah.


Lalu Yesus mengutip Mazmur “Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu Engkau telah menyediakan puji-pujian.”


Ini menunjukkan bahwa kadang orang yang paling sederhana justru lebih peka terhadap karya Tuhan dibandingkan mereka yang merasa paling religius.


Ada beberapa hal yang kita bisa renungkan:


1. Tuhan peduli pada kekudusan.


Yesus penuh kasih tetapi Dia juga kudus, Ia tidak acuh ketika sesuatu yang kudus disalahgunakan.


Ia mengingatkan kita bahwa hubungan dengan Tuhan tidak boleh diperlakukan dengan sembarangan, kita harus serius dan sungguh-sungguh.


2. Hati manusia bisa menjauh dari tujuan yang sebenarnya.


Orang-orang yang berjualan di Bait Allah mungkin awalnya punya alasan praktis, namun lambat laun kegiatan ini justru menutupi tujuan utama membantu orang untuk bertemu dengan Tuhan.


Hal yang sama bisa terjadi di kehidupan rohani setiap kita, kita sibuk dengan aktivitas rohani, tetapi kehilangan hati yang sungguh-sungguh mencari Tuhan.


Aktivitas rohani menjadi fokus kita, bukan Tuhan, karena itu jangan sampai kita jadi salah dari tujuan awal kita, mari kita sungguh-sungguh mencari Tuhan.


3. Tujuan menyambut orang yang datang dengan hati yang sederhana.


Menarik, setelah Bait Allah dibersihkan yang datang kepada Yesus Adalah orang buta, orang timpang, orang yang membutuhkan pertolongan, dan anak-anak.


Mereka bukan orang berkuasa, mereka bukan orang yang terpandang, mereka bukan orang yang dianggap religius, namun justru mereka yang mengalami kasih dan kuasa Tuhan.


Tuhan Yesus berkata bahwa Rumah Tuhan adalah rumah doa, Tuhan rindu tempat ibadah menjadi tempat di mana manusia benar-benar mencari Dia.


1. Tuhan tidak mencari aktivitas yang ramai, tetapi hati yang sungguh-sungguh datang kepada-Nya.


2. Kiranya hidup kita juga menjadi tempat di mana Tuhan dihormati dan di mana doa, pujian, penyembahan, dan kerinduan kepada Tuhan itu menjadi hal yang utama.


Doakan dan renungkan


* Yesus masuk ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati


* Yesus memang penuh kasih tetapi Dia juga kudus, Ia tidak acuh ketika sesuatu yang kudus diperlakukan dengan salah.


Ia kasih sekaligus kudus