Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Sabtu, 25 April 2026

Tuhan Adalah Gembalaku

Matius 20:20-28


Permintaan ibu Yakobus dan Yohanes


Bukan memerintah melainkan melayani


Salah satu godaan paling halus dalam kehidupan rohani kita adalah keinginan untuk menjadi besar.


Bukan hanya besar dalam dunia kerja, tetapi juga dalam pelayanan, pengaruh dan penghormatan.


Ternyata para murid Tuhan pun bergumul dengan hal yang sama, di tengah perjalanan menuju Yerusalem saat Yesus sedang menuju salib, muncul permintaan tentang kursi kehormatan.


Ini menunjukkan bahwa betapa mudahnya manusia berpikir tentang kemuliaan tanpa memahami jalan salib.


Matius 20:20-28


20 Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya.


21 Kata Yesus: “Apa yang kau kehendaki?” Jawabnya: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.”


22 Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya: “Kami dapat.”


23 Yesus berkata kepada mereka: “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.”


24 Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu.


25 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.


26 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,


27 dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu;


28 sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”


Di dunia ini jabatan biasanya selalu dikaitkan dengan hak istimewa. Semakin tinggi posisi seseorang biasanya semakin banyak fasilitasnya.


Semakin besar haknya, semakin banyak orang yang melayani dia. Itulah cara dunia memandang kebesaran.


Namun Yesus justru membalikkan pola itu. Dalam Kerajaan Allah semakin seseorang dipakai Tuhan, semakin ia dipanggil untuk merendahkan diri dan melayani.


Matius 20:21


Jawab ibu anak-anak Zebedeus: “Berilah perintah supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.”


Perintah ini jelas berbicara tentang kehormatan dan posisi, mereka ingin tempat yang paling dekat, paling tinggi, paling mulia diberikan.


Matius 20:22


Tetapi Yesus menjawab: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?”


Di sini Yesus mengkaitkan kemuliaan itu dengan cawan penderitaan yang Tuhan Yesus akan alami dan mungkin nanti pengikut-pengikut-Nya juga.


Mereka ingin mahkota, tetapi belum mengerti salib.


Ketika mereka jawab: ya kami dapat, Yesus mengatakan bahwa mereka memang akan ikut mengalami penderitaan itu, namun soal posisi dalam Kerajaan Allah bukan ditentukan oleh ambisi manusia, melainkan oleh kehendak Bapa.


Akhirnya murid-murid yang lain marah, mungkin mereka merasa lebih layak, mereka juga ingin seperti itu.


Mungkin bukan karena mereka lebih rohani, tetapi karena mereka punya ambisi yang sama.


Yesus memanggil semua murid-Nya dan memberikan pelajaran yang sangat penting.


Pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, Yesus sedang menunjukkan pola dunia bahwa kuasa dipakai untuk menguasai.


Tetapi Tuhan Yesus berkata tidaklah demikian di antara kamu. Inilah titik pembeda antara dunia dan Kerajaan Allah.


Dalam dunia, besar berarti dilayani, tinggi berarti berkuasa, yang utama berarti menuntut hormat.


Tetapi dalam Kerajaan Allah, besar berarti mau melayani, terkemuka berarti menjadi hamba, pemimpin berarti merendah.


Lalu Yesus memberikan teladan di mana Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya. Itulah inti daripada Injil.


Tuhan Yesus adalah Tuhan, justru datang untuk melayani, Dia adalah Allah yang maha kuasa tetapi Ia datang untuk melayani, Ia datang untuk menderita.


Tuhan Yesus datang bukan untuk melayani dengan perkataan, tetapi dengan nyawa-Nya sendiri. Ia memberikan teladan bagi setiap kita.


Firman ini sangat relevan untuk kita hari ini, karena dalam hati manusia ada kecenderungan untuk mencari pengakuan. Kita senang untuk dihargai, dianggap penting, diposisikan tinggi.


Tetapi Yesus berkata dan bertanya kepada setiap kita: apakah kita siap melayani ataukah hanya ingin dihormati? Ini berlaku di semua area hidup kita, di manapun kita berada.


Kadang orang ingin jabatan pelayanan, tetapi ia tidak ingin repotnya pelayanan. Ingin dipanggil sebagai pemimpin, tetapi tidak mau berkorban untuk orang yang dipimpin.


Tuhan Yesus menunjukkan bahwa kebesaran sejati bukan terlihat dari berapa banyak orang yang melayani kita, tetapi dari seberapa rela kita melayani orang lain dan itu hanya mungkin jika belajar dari Tuhan Yesus sendiri.


Dia yang sudah melayani setiap kita. Biarlah setiap kita boleh melayani yang lain.


Yesus tidak datang ke dunia untuk menuntut pelayanan dari manusia, Ia datang untuk melayani.


Tuhan Yesus menunjukkan bagaimana seharusnya setiap kita menjadi orang yang besar dengan melayani, bahkan Tuhan Yesus menyerahkan nyawa-Nya.


Pesan Firman Tuhan:


1. Di dalam Kerajaan Allah, kebesaran tidak diukur dari posisi yang kita duduki, tetapi dari hati yang rela untuk melayani.


2. Hari ini mari kita meminta kepada Tuhan, hati yang seperti Kristus, mengambil tempat sebagai seorang hamba yang mau melayani.


Hati yang seperti Kristus adalah hati yang tidak sibuk mencari tempat tertinggi, penghormatan dan pujian.


Melainkan rela menempatkan diri sebagai seorang hamba yang mau melayani, karena justru di situlah kemuliaan yang sejati ditemukan.


Doakan dan renungkan


* Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu.


* Dalam Kerajaan Allah, kebesaran tidak diukur dari posisi yang kita duduki, tetapi dari hati yang rela untuk melayani.


Mau jadi besar?