Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Kamis, 23 April 2026

Tuhan Adalah Gembalaku

Matius 20:1-16

Perumpamaan tentang Orang-orang Upahan di Kebun Anggur


Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita sangat terbiasa dengan prinsip keadilan berdasarkan usaha.


Jadi jika seseorang bekerja lebih lama, lebih giat, ia akan menerima upah lebih banyak.


Tetapi jika seseorang bekerja lebih sedikit, tentu upahnya akan lebih kecil. Logika ini suatu yang sangat masuk akal bagi setiap kita.


Namun, dalam perumpamaan yang Yesus sampaikan, Yesus menggambarkan sesautu yang berbeda.


Sebuah gambaran tentang Kerajaan Allah, di mana cara kerja kasih karunia Tuhan tidak selalu mengikuti perhitungan manusia.


Mari kita bersama-sama membaca dari kitab Matius di bawah ini.


Matius 20:1-16 Perumpamaan tentang Orang-orang Upahan di Kebun Anggur


1 "Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya.


2 Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya.


3 Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar.


4 Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan merekapun pergi.


5 Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi.


6 Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari?


7 Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.


8 Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu.


9 Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar.


10 Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi merekapun menerima masing-masing satu dinar juga.


11 Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu,


12 katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.


13 Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?


14 Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu.


15 Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?


16 Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir."


Jika kita memperhatikan kehidupan kerja sehari-hari, biasanya gaji dihitung berdasarkan waktu kerja.


Orang yang bekerja delapan jam tentu menerima upah yang lebih besar daripada orang yang bekerja satu jam.


Karena itu, jika dua orang bekerja dengan durasi yang sangat berbeda, tetapi menerima upah yang sama, maka kebanyakan orang akan merasa tidak adil. Saya bekerja lebih banyak, tetapi kenapa bayarannya sama?


Perasaan itulah yang muncul pada perumpamaan yang Yesus sampaikan.


Yesus menggambarkan seorang tuan rumah yang mencari pekerja untuk kebun anggurnya. Pagi-pagi ia mengupah beberapa pekerja dengan kesepakatan satu dinar sehari.


Ini adalah upah yang wajar pada waktu itu, kerja 1 hari = 1 dinar.


Namun, sepanjang hari dia terus keluar mencari pekerja lain, yaitu jam 9, jam 12, jam 3, bahkan jam 5 sore.


Artinya ada pekerja yang bekerja hampir seharian penuh dan ada yang hanya bekerja sekitar satu jam.


Ketika waktu pembayaran, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Para pekerja yang datang terakhir menerima satu dinar.


Tiga pekerja lain yang datang lebih awal melihat itu, mereka pikir akan menerima lebih banyak. Tetapi, ternyata mereka juga menerima satu dinar.


Mereka merasa diperlakukan tidak adil, dan mulai bersungut-sungut. Tetapi tuan itu menjawab, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat satu dinar sehari?


Artinya tuan itu sebenarnya tidak melanggar kesepakatan. Masalahnya bukan ketidakadilan. Masalahnya adalah perbandingan dan iri hati.


Lalu tuan itu berkata sesuatu yang menjadi inti perumpamaan ini: Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?


Dalam bahasa aslinya, kalimat ini secara harafiah berarti: Apakah matamu menjadi jahat, karena aku baik?


Yesus sedang mengajarkan bahwa dalam Kerajaan Allah keselamatan bukan upaya yang diperoleh melalui kerja keras manusia. Keselamatan adalah kasih karunia dari Allah.


Orang yang datang lebih awal dan orang yang datang akhir, sama-sama diselamatkan oleh anugerah Allah.


Jika kita mengingat saat peristiwa penyaliban Tuhan Yesus, di mana ada seorang penjahat yang juga disalib, berkata, “Ingatlah aku.”


Tuhan Yesus berkata, “Hari ini juga engkau ada bersama-sama dengan Aku di Firdaus.”


Di detik-detik akhir kehidupannya, dia datang kepada Yesus, dan Yesus memberikan anugerah pengampunan keselamatan itu.


Sama dengan setiap kita, yang dari awal sudah mengikut Kristus, sudah bertahun-tahun, puluhan tahun mengikut Yesus, dengan orang yang diakhir hidupnya percaya kepada Tuhan Yesus, sama-sama menerima anugerah keselamatan.


Bukan karena usaha kita, tetapi itu adalah anugerah yang Allah berikan.


Perumpamaan ini menantang kita, untuk memahami bahwa:


1) Keselamatan adalah kasih karunia, bukan upah.


Kita tidak bisa berkata bahwa kita lebih layak diselamatkan daripada orang lain. Tidak.


Baik orang yang bertobat sejak muda maupun orang yang bertobat diakhir hidupnya, semua diselamatkan oleh kasih karunia Tuhan.


2) Hati manusia mudah membandingkan.


Kadang kita bisa berkata dalam hati. Mengapa orang itu mendapat berkat? Mengapa saya tidak?


Mengapa hidupnya lebih mudah, tapi saya lebih susah? Mengapa Tuhan memberkati dia seperti itu dan Tuhan tidak memberkati saya seperti Tuhan memberkati dia? Kenapa?


Apa yang Tuhan Yesus sampaikan ini, mengingatkan kita untuk tidak hidup didalam perbandingan.


Anugerah Tuhan cukup untuk setiap kita. Tuhan tahu yang terbaik untuk setiap kita.


Karena itu, mari kita syukuri untuk apa yang Tuhan berikan kepada setiap kita.


3) Tuhan berdaulat dalam kemurahan-Nya.


Tuhan bebas menyatakan kasih karunia-Nya kepada siapa pun. Dan kabar baiknya, kasih karunia Tuhan juga berlaku bagi setiap kita yang percaya kepada-Nya.


Jadi Kerajaan Allah bukan tentang siapa yang paling lama bekerja atau siapa yang paling banyak jasanya. Bukan.


Kerajaan Allah adalah tentang kasih karunia Tuhan yang sangat besar untuk setiap kita.


Pesan firman Tuhan bagi kita:


1. Keselamatan bukan upah yang kita peroleh, tetapi anugerah yang Tuhan berikan.


2.Karena itu, daripada membandingkan diri kita dengan orang lain,lebih baik kita bersyukur bahwa Tuhan sudah memanggil kita untuk masuk ke dalam kebun anggur-Nya,untukbekerja melayani Dia, dan bersama-sama ada dalam komunitas orang percaya.


Kiranya hati kita selalu bersukacita melihat kemurahan Tuhan, bukan iri hati yang ada dalam hidup setiap kita.


Doakan dan renungkan


* Pekerja yang masuk terakhir hanya bekerja 1 jam tapi diberi upah yang sama dengan mereka yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.


* Demikianlah, kerajaan Allah bukan tentang siapa yang paling lama bekerja atau siapa yang paling banyak berjasa. Tetapi tentang kasih karunia Tuhan yang sangat besar untuk setiap kita.


Upahnya sama; bersamaNya di surga