Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Minggu, 19 April 2026

Tuhan Adalah Gembalaku

Matius 19:1-12


Perceraian


Di dalam perjalanan pelayanan-Nya, Tuhan Yesus sering mendapat pertanyaan yang sesungguhnya bukan untuk pembelajaran tetapi untuk menguji dan menjebak-Nya.


Matius 17:22-23


1 Setelah Yesus selesai dengan pengajaran-Nya itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang sungai Yordan.


2 Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan Ia pun menyembuhkan mereka di sana.


3 Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?"


4 Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?


5 Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.


6 Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."


7 Kata mereka kepada-Nya: "Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?"


8 Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian.


9 Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah."


10 Murid-murid itu berkata kepada-Nya: "Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin."


11 Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja.


12 Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti."


Di dalam Maitus 19, orang-orang farisi datang dengan pertanyaan yang sangat sensitif, “Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja.”


Pertanyaan ini bukan hanya soal hukum, tetapi menyangkut pandangan tentang pernikahan, kesetiaan dan hati manusia.


Menariknya, Yesus tidak langsung masuk ke perdebatan hukum itu, Ia justru membawa mereka kembali kepada rencana Allah sejak semula.


Jika kita melihat sebuah bangunan yang sudah rusak, misalnya ada tembok yang retak, pondasi yang bergeser.


Biasanya ada dua pendekatan, ada orang yang mencoba menambal bagian yang rusak sedikit demi sedikit.


Tetapi ada juga yang berkata coba kita lihat dulu gambar rancangan awalnya, bagaimana sebenarnya bangunan ini di rancang.


Karena seringkali solusi terbaik bukan hanya memperbaiki kerusakan tetapi kembali kepada design semula.


Itulah yang Yesus lakukan di dalam perikop ini.


Ketika orang Farisi bertanya tentang perceraian, Yesus menjawab dengan mengutip kitab Kejadian, “Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan.”


Lalu Yesus melanjutkan, “Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya.”


Yesus membawa mereka kembali ke penciptaan, artinya untuk memahami pernikahan yang benar kita tidak mulai dari masalah perceraian tetapi dari rencana Tuhan sejak semula.


Dan rencana itu sangat jelas, keduanya menjadi satu daging, ini bukan hanya penyatuan fisik tetapi penyatuan hidup.


Pernikahan menurut Alkitab adalah perjanjian yang dalam dan menyeluruh.


Lalu Yesus berkata sesuatu yang sangat kuat, ”apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh
diceraikan manusia."


Artinya pernikahan itu bukan sekedar kontrak sosial. Pernikahan adalah sesuatu yang Allah sendiri persatukan.


Kemudian orang Farisi menyinggung hukum Musa yang mengijinkan surat cerai.


Yesus menjelaskan,"Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu.”


Perhatikan kalimat, “Ketegaran hati”


Masalah terbesar dalam relasi manusia sering bukan aturan tetapi hati yang keras.


Hukum Musa memberi ruang tertentu karena realitas dosa manusia, tetapi Yesus menegaskan sejak semula tidaklah demikian.


Yesus sedang mengangkat kembali standar Allah. Kemudian murid-murid berkata sesuatu yang menarik, ”kalau begitu lebih baik jangan kawin.”


Mereka sadar bahwa pernikahan menurut standar Yesus bukanlah perkara yang ringan.


Yesus lalu menjelaskan bahwa hidup selibat juga adalah panggilan khusus bagi sebagian orang demi Kerajaan Allah.


Artinya, baik menikah maupun tidak menikah keduanya harus dijalani dengan kesadaran akan panggilan yang Tuhan berikan kepada setiap kita.


Baik menikah maupun tidak menikah, itu sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki.


Dari Perikop ini, kita belajar beberapa hal penting, yaitu:


1. Tuhan melihat pernikahan sebagai sesuatu yang kudus;


Pernikahan bukan hanya soal perasaan atau kenyamanan, pernikahan bukanlah sesuatu yang main-main, pernikahan adalah sesuatu yang serius, pernikahan adalah perjanjian yang Allah sangat hargai.


Karena itu kesetiaan di dalam pernikahan adalah sesuatu yang sangat berharga di mata Tuhan dan sesuatu yang harus ada kesetiaan.


2. Masalah terbesar sering kali adalah hati yang keras;



Yesus berkata bahwa perceraian diijinkan karena ketegaran hati.


Sering kali konflik dalam relasi tidak dimulai dari masalah besar tetapi hati yang tidak mau mengampuni, hati yang tidak mau merendah, hati yang tidak mau berubah.


Karena itu, hal yang paling penting bukan hanya memperbaiki hubungan itu, tetapi meminta Tuhan untuk melembutkan hati setiap kita.


Sehingga pada akhirnya, konflik atau masalah itu bisa diselesaikan bukan dengan perceraian.


3. Hidup kita harus kembali kepada rencana Tuhan.


Baik dalam pernikahan, keluarga, kehidupan pribadi, sering kali kita mencoba memperbaiki masalah dengan cara manusia.


Namun Tuhan Yesus mengajak kita kembali pada satu hal yaitu rencana Tuhan sejak semula.


Ketika hidup kita kembali kepada kehendak Tuhan, kita akan menemukan arah yang benar.


Pesan Firman Tuhan bagi kita:


1. Tuhan memiliki renana yang indah sejak awal.


Ketika hati manusia menjadi keras, relasi akhirnya rusak, tetapi ketika hati manusia kembali kepada Tuhan, pemulihan selalu mungkin terjadi.


2. Kiranya Tuhan menolong setiap kita untuk memiliki hati yang lembut, hidup setia di dalam panggilan kita dan selalu kembali kepada kehendak Tuhan di dalam setiap bagian hidup kita.


Doakan dan renungkan


* Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.



* Sering kali konflik hingga perceraian tidak dimulai dari masalah besar, tetapi dari hati yang tidak mau mengampuni, tidak mau merendah, dan tidak mau berubah.


Kekerasan hati suami & istri