Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Sabtu, 18 April 2026

Tuhan Adalah Gembalaku

Matius 18:21-35

Perumpamaan tentang pengampunan


Salah satu hal yang paling sulit yang kita lakukan dalam hidup adalah mengampuni.


Mengampuni bukan masalah kecil, terlalu sering luka yang dibuat orang lain meninggalkan bekas yang sangat dalam untuk setiap kita.


Ketika itu terjadi, kita mungkin bertanya sampai berapa kali aku harus mengampuni?


Pertanyaan tersebut sangat manusiawi, namun jawaban Yesus menunjukkan pengampunan dalam kerajaan Allah bukan soal menghitung jumlah, melainkan soal mengenal hati Bapa.


Matius 18:21-35

Perumpamaan tentang pengampunan


21 Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?”


22 Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.


23 Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.


24 Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.


25 Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya.


26 Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.


27 Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.


28 Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!


29 Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku akan kulunaskan.


30 Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskan hutangnya.


31 Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.


32 Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.


33 Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?


34 Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.


35 Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”


Petrus memulai dengan pertanyaan: sampai tujuh kali? Bagi ukuran orang Yahudi saat itu, angka 7 sudah sangat murah hati, tetapi jawab Yesus: bukan tujuh kali, melainkan tujuh puluh kali tujuh kali.


Tuhan Yesus tidak sedang memberi angka secara matematika empat ratus sembilan puluh kali, maksudnya adalah pengampunan dalam Kerajaan Allah tidak hidup dari hitungan, tidak perlu dihitung berapa banyak kita mengampuni.


Yesus memberi perumpamaan tentang raja dan dua hambanya, yang berhutang jumlah sangat besar dan mustahil untuk bisa dibayar.


Artinya hutang itu menggambarkan sesuatu yang tidak sanggup diselesaikan oleh manusia itu sendiri.


Ketika hamba itu memohon, Raja berbelas kasihan dan menghapuskan hutangnya. Ini adalah gambaran kasih Allah kepada setiap kita.


Dosa kita di hadapan Allah begitu besar dan kita tidak sanggup untuk melunasinya.


Seharusnya kita menerima hukuman dan kematian kekal, tetapi dalam belas kasihan-Nya, Allah mengampuni setiap kita.


Masalahnya muncul setelah itu. Hamba yang baru saja diampuni ini keluar dan bertemu dengan kawannya yang berhutang hanya seratus dinar, jumlah yang jauh lebih kecil dari hutangnya.


Namun ia yang sudah diampuni dan dihapuskan hutangnya menolak untuk bermurah hati, ia malah mencekik kawannya, menuntut pembayaran dan memasukkannya ke dalam penjara yang akan menyebabkan kawannya tidak akan bisa melunasi hutangnya.


Ketika raja itu mendengar, ia berkata: bukankah engkau harusnya mengasihi kawanmu seperti aku telah mengasihi engkau?


Kita mengampuni bukan karena orang lain itu layak diampuni, bukan karena kita mampu mengampuni, melainkan karena kita sudah terlebih dahulu menerima pengampunan yang jauh lebih besar dari Allah kita.


Matius 18:35


Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”


Tuhan Yesus menekankan bahwa pengampunan bukan hanya ucapan bibir, pengampunan itu harus keluar dari hati kita.


Firman ini menantang kita dengan sangat pribadi, mungkin hari ini ada nama yang langsung muncul dalam hati dan pikiran kita. Orang yang melukai, mengecewakan kita, yang sampai hari ini masih sangat sulit untuk kita ampuni.


Yesus tidak sedang berkata bahwa luka itu tidak nyata, harus diabaikan, apa yang orang lakukan kepada kita itu kecil. Tuhan Yesus mengingatkan kita untuk melihat sesuatu yang lebih besar, yaitu pengampunan Allah atas hidup kita.


Saat kita sungguh-sungguh menyadari bahwa betapa besar dosa kita dan Tuhan sudah mengampuni itu, hati kita akan dilembutkan untuk bisa mengampuni yang lain.


Mengampuni bukan berarti membenarkan kesalahan, mengampuni berarti menyerahkan hak pembalasan itu kepada Tuhan dan membiarkan hati kita dibebaskan dari racun kepahitan.


Jangan biarkan hidup, diri, hati kita rusak karena kita membenci orang lain.


Mungkin saja orang yang tidak bisa kita ampuni itu sudah tidak ingat dan peduli lagi, tetapi kita masih menyimpan kebencian, kemarahan dan luka itu dan perlahan-lahan merusak diri kita.


Mari kita belajar untuk mengampuni, karena seringkali orang yang tidak mau mengampuni bukan hanya mengikat orang lain tetapi akhirnya memenjarakan dirinya sendiri.


Kita semua adalah hamba yang pernah memiliki hutang yang sangat besar kepada Allah, namun di dalam Kristus hutang itu telah dihapuskan.


Pesan Firman Tuhan:


1. Tuhan memanggil kita untuk hidup sebagai orang-orang yang juga mau mengampuni.


Orang yang sungguh menyadari dirinya telah diampuni akan belajar mengampuni dengan hati yang lembut.


2. Mari kita datang kepada Tuhan dan berkata, “Tuhan, lembutkan hatiku, ajarku untuk mengampuni, karena Engkau sudah terlebih dahulu mengampuni aku.”


Maukah kita melepaskan pengampunan kepada orang-orang yang sudah menyakiti dan mengecewakan kita?


Doakan dan renungkan


* Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.


* Mengampuni bukan karena orang bersalah layak diampuni, atau kita mampu mengampuni, tapi karena kita sudah menerima pengampunan yang jauh lebih besar dari Allah.


Mengampuni untuk diampuni