Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
Matius 18: 15-20
Tentang menasihati sesama saudara
Konflik. Satu kata yang mungkin tidak asing untuk setiap kita. Saya yakin setiap kita pernah mengalami konflik atau bahkan sering mengalaminya.
Konflik bisa terjadi di tengah keluarga, di tempat kerja, bahkan di dalam komunitas orang percaya.
Masalahnya bukan apakah konflik itu akan terjadi, tetapi bagaimana kita menanganinya.
Matius 18: 15-20
15 "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.
16 Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.
17 Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.
18 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.
19 Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.
20 Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."
Dalam perikop ini Tuhan Yesus memberikan prinsip yang bijaksana tentang bagaimana menghadapi dosa atau kesalahan dalam relasi.
Yang menarik, tujuan utamanya bukan untuk menghukum, melainkan untuk menolong dan memulihkan.
Bayangkan sebuah jembatan yang retak di tengahnya. Jika retakan itu dibiarkan, lama-lama jembatan itu akan runtuh dan membahayakan banyak orang.
Namun jika segera diperbaiki, jembatan itu akan tetap kuat dan berfungsi dengan baik.
Begitu juga dengan hubungan antar manusia. Kesalahan yang tidak diselesaikan bisa merusak relasi.
Ketika ditangani dengan benar, hubungan itu justru bisa dipulihkan dan bahkan menjadi lebih kuat.
Tuhan Yesus memulai dengan langkah. Jika seseorang berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata.
Prinsipnya adalah empat mata, artinya masalah ini tidak langsung disebarkan kepada orang lain.
Masalah tidak diceritakan kepada orang lain, tidak menjadi gosip, dan tidak diumumkan kepada banyak orang.
Langkah pertama adalah berbicara secara pribadi. Tujuannya bukan untuk mempermalukan, tetapi untuk menolong dan memulihkan relasi itu.
Tuhan Yesus berkata, “Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.”
Keberhasilan bukan ketika kita menang dalam konflik, tetapi ketika orang itu dipulihkan. Itulah kemenangan yang sesungguhnya.
Namun Tuhan Yesus juga realistis. Kadang orang tidak langsung mau mendengar. Saat kita menegur, orang tersebut bisa saja tidak mau menerima.
Karena itu Tuhan Yesus memberikan langkah kedua. Dikatakan, bawalah seorang atau dua orang lagi.
Ini mengikuti prinsip Perjanjian Lama bahwa suatu perkara diteguhkan oleh dua atau tiga orang saksi.
Tujuannya tetap sama, yaitu mencari kebenaran dan pemulihan, bukan untuk mempermalukan.
Jika masih tidak berhasil, Tuhan Yesus berkata, “Sampaikan kepada jemaat.” Ini adalah langkah terakhir ketika komunitas perlu terlibat demi menjaga kesehatan rohani bersama.
Kemudian Tuhan Yesus berkata sesuatu yang sangat kuat. Apa yang kamu ikat di dunia akan terikat di surga, dan apa yang kamu lepaskan di dunia akan terlepas di surga.
Ini menunjukkan bahwa ketika jemaat bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan, keputusan itu memiliki otoritas rohani.
Tuhan Yesus juga menambahkan janji yang sering kita dengar. Jika dua orang sepakat meminta sesuatu, Bapamu di surga akan mengabulkannya.
Puncaknya adalah ketika dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Nya, Ia ada di tengah-tengah mereka.
Ini berarti ketika orang percaya berkumpul dengan hati yang mencari kehendak Tuhan, Kristus sendiri hadir di tengah-tengah mereka. Kuncinya adalah mencari kehendak Tuhan.
Firman ini memberikan pelajaran penting.
1. Jangan menyelesaikan masalah dengan gosip.
Sering kali ketika seseorang bersalah kepada kita, reaksi pertama adalah menceritakannya kepada orang lain.
Hal itu mungkin dibungkus dengan sesuatu yang rohani, tetapi sebenarnya adalah gosip. Namun Tuhan Yesus berkata, “Mulailah dengan bicara langsung.”
Kejujuran yang penuh kasih jauh lebih membangun daripada gosip yang merusak.
2. Tujuannya adalah pemulihan relasi.
Tuhan Yesus tidak berkata, “Tegur supaya malu.” Ia berkata, “Jika ia mendengar, engkau telah mendapatkannya kembali.”
Artinya tujuan utama adalah memulihkan relasi dan menyelesaikan konflik dengan baik.
Fokusnya bukan memperbesar masalah atau membuat banyak orang tahu. Fokusnya adalah pemulihan.
3. Tuhan hadir dalam komunitas yang mencari kehendak-Nya.
Tuhan Yesus menjanjikan bahwa ketika orang percaya berkumpul dalam nama-Nya, Ia hadir di tengah mereka.
Ini mengingatkan bahwa gereja bukan hanya organisasi manusia. Gereja adalah tempat di mana Kristus hadir di tengah umat-Nya. Karena itu kita harus selalu mencari apa yang Tuhan kehendaki.
Saat ada konflik, kita harus menyelesaikannya berdasarkan kehendak Tuhan.
Mungkin saat ini sedang menghadapi konflik atau masalah. Cobalah berbicara dengan baik. Tegurlah jika memang perlu ditegur.
Jangan menceritakan ke mana-mana sehingga masalah menjadi besar. Konflik justru akan semakin tajam.
Konflik mungkin tidak bisa dihindari, tetapi cara kita menanganinya mencerminkan hati Tuhan Yesus Kristus.
Tuhan Yesus mengajar kita untuk berbicara dengan kasih, mencari pemulihan, dan menjaga kesatuan.
Kita berbicara bukan untuk mempermalukan, menjatuhkan, atau menghakimi, tetapi untuk membawa pemulihan.
Tujuan menegur bukan memenangkan perdebatan, tetapi memenangkan kembali orang itu.
Kiranya Tuhan memberikan hati yang rendah dan penuh kasih. Supaya dalam setiap hubungan, nama Kristus dimuliakan.
Doakan dan renungkan
* Konflik mungkin tidak bisa dihindari, tetapi cara kita menanganinya mencerminkan hati Tuhan Yesus. Ia mengajar kita untuk mencari pemulihan, dan menjaga kesatuan.
* Tujuan menegur bukan memenangkan perdebatan, tetapi memenangkan kembali orang itu.
Konflik dan pemulihan relasi