Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
Matius 17:1-13
Yesus dimuliakan di atas gunung
Di pasal sebelumnya, Tuhan Yesus berbicara tentang penderitaan, salib, dan pengorbanan.
Itu bukan berita yang mudah diterima oleh para murid-Nya. Namun dalam Matius 17, Tuhan Yesus memberikan sesuatu yang luar biasa: sekilas kemuliaan Kristus.
Seolah Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Jalan yang kamu tempuh memang menuju salib, tetapi jangan lupa siapa yang kamu ikuti. Karena di balik jalan penderitaan itu ada kemuliaan yang jauh lebih besar.”
Matius 17:1-13
1 Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja.
2 Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.
3 Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia.
4 Kata Petrus kepada Yesus: "Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia."
5 Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia."
6 Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan.
7 Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: "Berdirilah, jangan takut!"
8 Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorang pun kecuali Yesus seorang diri.
9 Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: "Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati."
10 Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Kalau demikian mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?"
11 Jawab Yesus: "Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu
12 dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka."
13 Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis.
14 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya kembali kepada orang banyak itu, datanglah seorang mendapatkan Yesus dan menyembah,
Seorang pendaki gunung sedang menempuh perjalanan panjang dan melelahkan. Jalannya curam, udaranya dingin, langkahnya terasa berat.
Di tengah perjalanan, ia mencapai satu titik di mana ia bisa melihat pemandangan yang luar biasa indah. Mungkin ada yang pernah mendaki gunung dan melihat pemandangan yang luar biasa.
Langit yang luas, lembah yang hijau, dan matahari yang bersinar terang. Pemandangan itu tidak menghilangkan perjalanan yang sulit, tetapi memberi kekuatan untuk melanjutkan perjalanan. Begitulah peristiwa di gunung ini bagi para murid.
Dalam ayat yang pertama dikatakan bahwa Yesus membawa tiga murid terdekat-Nya: Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Mereka naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di sana terjadi sesuatu yang luar biasa.
Yesus berubah rupa di depan mata mereka. Wajah-Nya bercahaya seperti matahari. Pakaian-Nya menjadi putih bersinar.
Ini bukan sekadar cahaya biasa. Ini adalah kemuliaan ilahi yang selama ini tersembunyi di balik kemanusiaan Yesus.
Para murid untuk sesaat melihat siapa Yesus sebenarnya. Lalu muncul dua tokoh besar dalam Perjanjian Lama, Musa dan Elia.
Musa melambangkan hukum Taurat, dan Elia melambangkan para nabi. Artinya, seluruh Perjanjian Lama menunjuk kepada Yesus.
Yesus bukan sekadar guru yang baru. Ia adalah penggenapan dari seluruh rencana Allah.
Petrus begitu terpesona hingga ia berkata, “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini.” Ia bahkan ingin mendirikan tiga kemah.
Namun ketika Petrus masih berbicara, tiba-tiba awan terang menaungi mereka dan terdengar suara dari surga, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan. Dengarkanlah Dia.”
Ini adalah pengakuan langsung dari Allah Bapa. Pesannya jelas: Yesus bukan sekadar nabi.
Yesus adalah Anak Allah yang dikasihi. Perintah-Nya sederhana: dengarkanlah Dia.
Ketika murid-murid mendengar suara itu, mereka tersungkur ketakutan. Namun Yesus datang, menyentuh mereka, dan berkata, “Berdirilah, jangan takut.”
Mereka mengangkat kepala dan hanya ada Yesus seorang diri. Ini sangat simbolis.
Pada akhirnya Musa dan Elia tidak lagi terlihat. Yang tersisa hanyalah Yesus. Karena pada akhirnya iman kita bukan pada hukum Taurat, bukan kepada nabi, tetapi kepada Kristus sendiri.
Hidup kita sering terasa seperti perjalanan turun dari gunung. Kita mungkin pernah mengalami momen-momen rohani yang indah: doa yang sangat menyentuh, ibadah yang menguatkan, pengalaman dengan Tuhan yang begitu nyata.
Namun setelah itu, kita harus kembali ke dalam kehidupan sehari-hari. Ada tantangan, ada masalah, ada pergumulan, dan kesulitan.
Peristiwa transfigurasi mengingatkan kita bahwa di balik semuanya itu, Yesus tetap adalah Tuhan Allah yang mulia.
Kadang kita hanya melihat Yesus dalam penderitaan seperti di salib. Namun Alkitab juga menunjukkan kemuliaan Yesus.
Tuhan berkata kepada setiap kita hari ini: dengarkanlah Dia. Bukan dunia yang harus kita ikuti, bukan suara mayoritas yang menentukan hidup kita, tetapi suara Kristus. Hanya Dialah yang memiliki otoritas sejati di dalam hidup setiap kita.
Di atas gunung itu para murid melihat kemuliaan Yesus. Namun setelah itu mereka harus turun kembali ke dunia yang penuh dengan tantangan.
Begitu juga dengan kita. Satu hal yang pasti: Tuhan Yesus yang berjalan bersama kita bukan sekadar guru biasa atau manusia biasa. Ia adalah Anak Allah yang mulia.
Jika Dia yang kita ikuti, maka jalan yang sulit sekalipun akan membawa kita kepada kemuliaan. Karena itu, mari kita terus berjalan bersama dengan Dia dan terus mendengarkan suara-Nya.
Doakan dan renungkan
* Pada peristiwa transfigurasi, terdengar suara yang berkata: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.”
* Hal ini mengingatkan kita bahwa Yesus bukan sekadar guru, Ia adalah penggenapan dari seluruh rencana Allah.
Sesungguhnyalah Dia Tuhan