Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Senin, 06 April 2026

Tuhan Adalah Gembalaku

Matius 16:1-4

Orang Farisi dan Saduki meminta tanda


Dalam perjalanan pelayanan-Nya, Yesus sering menghadapi berbagai kelompok orang.


Ada yang datang karena ingin mendengar kebenaran, membutuhkan pertolongan, tetapi ada juga yang datang karena ingin menguji dan menjebak Tuhan.


Matius 16:1-4


1 Kemudian datanglah orang-orang Farisi dan Saduki hendak mencobai Yesus. Mereka meminta supaya Ia memperlihatkan suatu tanda dari sorga kepada mereka.


2 Tetapi jawab Yesus: "Pada petang hari karena langit merah, kamu berkata: Hari akan cerah,


3 dan pada pagi hari, karena langit merah dan redup, kamu berkata: Hari buruk. Rupa langit kamu tahu membedakannya tetapi tanda-tanda zaman tidak.


4 Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus." Lalu Yesus meninggalkan mereka dan pergi.


Dalam Matius 16, dua kelompok yang biasanya tidak sejalan, yaitu Farisi dan Saduki, tiba-tiba bersatu.


Bukan untuk mencari Tuhan atau mendapat kebenaran, melainkan mereka bersatu untuk mencobai Tuhan. Mereka meminta untuk ditunjukkan tanda dari sorga.


Bayangkan seorang dokter yang sudah berkali-kali mengobati pasien dan akhirnya pasien tersebut sembuh.


Proses penyembuhannya pun disaksikan oleh banyak orang. Namun, suatu hari sekelompok orang datang dan berkata, “Buktikan pada kami jika engkau sungguh seorang dokter.”


Bukti sudah ada, namun apa yang menjadi masalah mereka sesungguhnya? Mereka tidak mau percaya.


Sering kali masalahnya bukan karena kurang bukti, tetapi hati yang tidak mau menerima kebenaran. Hal itu yang terjadi pada para pemimpin agama di zaman Tuhan Yesus.



Matius 16:1a


Farisi dan Saduki hendak mencobai Yesus…


Hal ini menarik, karena kedua kelompok tersebut sering berbeda pendapat. Orang Farisi sangat ketat memegang tradisi dan hukum Taurat.


Sedangkan, orang Saduki lebih rasional dan bahkan tidak percaya pada kebangkitan orang mati. Namun, mereka bersatu ketika membicarakan tentang Tuhan.


Hal ini dikarenakan terang selalu mengganggu mereka yang nyaman di dalam kegelapan.


Mereka meminta suatu tanda dari sorga. Padahal pada perikop bacaan sebelumnya, Tuhan sudah melakukan banyak tanda.


Menyembuhkan orang sakit, memberi makan ribuan orang, mengusir roh jahat, menenangkan badai.


Tanda sudah banyak, tetapi Tuhan mengatakan sesuatu yang sangat tajam, “Rupa langit kamu tahu membedakannya tetapi tanda-tanda zaman tidak.” (ay. 3b)


Orang-orang di zaman itu bisa membaca cuaca dari warna langit. Langit merah di sore hari berarti cuaca cerah, langit merah di pagi hari berarti akan datang badai.


Mereka peka terhadap tanda alam, namun gagal mengenali sesuatu yang lebih besar, yaitu Mesias yang berdiri di depan mereka.


Hal ini ironis karena mereka adalah orang-orang yang ahli dalam Kitab Suci dan belajar Taurat, tetapi mereka tidak mengenali penggenapan Kitab Suci.


Matius 16:4a


Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda…


Tuhan bukan menolak memberi tanda karena Ia tidak bisa melakukannya. Ia menolak karena tuntutan itu hadir dari hati yang keras.


Yesus hanya mengucapkan suatu tanda yaitu: “tanda nabi Yunus” (ay. 4b). Artinya adalah seperti Yunus berada di perut ikan selama 3 hari, demikian pula Anak Manusia yang berada di dalam perut bumi dan kemudian bangkit.


Tuhan merujuk pada kematian dan kebangkitan-Nya. Itu adalah tanda terbesar. Bukan mujizat spektakuler di langit, tetapi salib dan kubur yang kosong.


Matius 16:4c


Lalu Yesus meninggalkan mereka dan pergi.


Saat hati manusia terus menolak kebenaran, Tuhan tidak memaksa tetapi Ia pergi. Kisah ini bukan hanya tentang orang Farisi dan Saduki, tetapi bisa menjadi cermin bagi setiap kita.


Sering kali kita berkata pada Tuhan: “Jika Engkau benar ada, tunjukkan sesuatu pada saya”, “Tuhan berikan saya tanda”, “Tuhan lakukan sesuatu supaya saya percaya.”


Namun, sesungguhnya Tuhan bekerja begitu banyak dalam hidup kita. Nafas yang masih bisa kita hirup, pertolongan yang kita alami, firman yang kita dengar, kasih yang kita terima, dan yang terpenting salib Kristus yang telah menyelamatkan setiap kita.


Masalahnya bukan kurang tanda, tetapi apakah hati kita peka melihat pekerjaan Tuhan?


Tuhan berkata bahwa tanda terbesar adalah tanda Yunus. Kematian dan kebangkitan. Artinya bukti kasih Allah yang terbesar sudah diberikan pada setiap kita.


Hal yang perlu dipertanyakan adalah, “Apakah kita mau percaya pada tanda yang sudah Tuhan berikan?”


Farisi dan Saduki melihat Yesus, namun mereka tidak mengenal-Nya. Mereka menyaksikan mujizat, namun mereka menolak untuk percaya.


Hati yang keras tidak akan pernah puas dengan tanda, tetapi hati yang terbuka akan melihat Tuhan bekerja di mana pun mereka melihat.


Pesan Firman Tuhan bagi kita:

1. Hari ini mari janganlah kita menjadi seperti orang Farisi dan Saduki yang terus menerus menuntut bukti yang baru.


2. Mari kita melihat kembali kepada tanda terbesar, yaitu Yesus yang telah mati dan bangkit untuk kita.


Karena di situlah Allah telah menyatakan kasih dan kuasa-Nya yang paling nyata.


Doakan dan renungkan


* Orang Farisi dan Saduki mencobai Yesus. Mereka meminta suatu tanda dari sorga,

padahal Tuhan sudah melakukan banyak tanda.


* Hati yang keras tidak akan pernah puas dengan tanda, sedangkan hati yang terbuka akan melihat karya nyata Tuhan bekerja dalam hidup orang percaya.


Hidupku tanda Tuhan hidup