Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Jumat, 13 Maret 2026

Tuhan Adalah Gembalaku

Matius 12: 22-37

Yesus dan Beelzebul


Kita mendengar satu ungkapan, “Mulutmu adalah harimaumu.” Sering kali melalui kalimat dan perkataan yang kita ucapkan, hal itu bisa merusak dan juga menggambarkan siapa diri kita yang sesungguhnya.


Kata-kata yang kita ungkapkan bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mengungkapkan dunia kita dan akhirnya membentuk siapa jati diri kita.


Hari ini kita mau belajar bagaimana ketika Tuhan Yesus menegur orang Farisi, bukan hanya tentang perkataan mereka yang salah, tetapi karena kata-kata mereka itu mengungkapkan siapa yang sebenarnya menguasai hati mereka.


Matius 12: 22-37


22 Kemudian dibawalah kepada Yesus seorang yang kerasukan setan. Orang itu buta dan bisu, lalu Yesus menyembuhkannya, sehingga si bisu itu berkata-kata dan melihat.


23 Maka takjublah sekalian orang banyak itu, katanya: "Ia ini agaknya Anak Daud."


24 Tetapi ketika orang Farisi mendengarnya, mereka berkata: "Dengan Beelzebul, penghulu setan, Ia mengusir setan."


25 Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata kepada mereka: "Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa dan setiap kota atau rumah tangga yang terpecah-pecah tidak dapat bertahan.


26 Demikianlah juga kalau Iblis mengusir Iblis, ia pun terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri; bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan?


27 Jadi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa siapakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Sebab itu merekalah yang akan menjadi hakimmu.


28 Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.


29 Atau bagaimanakah orang dapat memasuki rumah seorang yang kuat dan merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu? Sesudah diikatnya barulah dapat ia merampok rumah itu.


30 Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.


31 Sebab itu Aku berkata kepadamu: Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni.


32 Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak.


33 Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal.


34 Hai kamu keturunan ular beludak, bagaimanakah kamu dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kamu sendiri jahat? Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati.


35 Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat.


36 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman.


37 Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum."


Kita baru saja membaca bagaimana kisah Tuhan Yesus melakukan mukjizat, menyembuhkan orang yang kerasukan, yang buta dan bisu, lalu dipulihkan.


Orang banyak takjub dan bertanya, “Mungkinkah ini Anak Daud?” Namun orang Farisi menuduh bahwa Tuhan Yesus mengusir setan dengan kuasa Belzebul.


Apa yang terjadi? Bukti sudah jelas, mukjizat nyata dilakukan, pemulihan terjadi. Namun hati yang jahat membalikkan kebaikan itu menjadi sebuah kecurigaan.


Benar jika orang berkata, “Kalau hatimu tidak benar, kamu tidak bisa melihat kebenaran sekalipun dan tetap menyebutnya sebagai kebohongan.”


Tuhan Yesus menunjukkan betapa tidak logisnya tuduhan orang Farisi. Setan tidak mungkin melawan dirinya sendiri karena kerajaannya pasti akan terpecah dan runtuh.


Mereka bukan sekadar salah paham. Orang Farisi menolak kehadiran Kerajaan Allah. Tuhan Yesus sedang mengatakan bahwa ini bukan sekadar mukjizat, tetapi tanda Allah yang sedang menyatakan diri-Nya.


Namun mereka justru berdiri melawan Kerajaan Allah yang datang itu. Di ayat 30 dikatakan, “Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku.” Tidak ada yang abu-abu secara rohani dan tidak ada netralitas di dalam Kerajaan Allah.


Jika Tuhan Yesus bukan Rajamu, pasti ada sesuatu yang lain yang akan menguasai hidupmu.


Tuhan tidak meminta kita sedikit-sedikit atau sebagian untuk mengikuti Dia dan percaya kepada-Nya. Ia mau kita mengikuti-Nya sepenuh hati.


Dalam hati hanya ada dua pilihan, dua takhta. Yesus yang memerintah atau ego, dosa, dan kegelapan yang memerintah hidup kita. Tidak ada yang lain.


Karena itu kita perlu memahami ayat 31 dan 32 tentang dosa menghujat Roh Kudus secara tepat.


Menolak karya Roh Kudus yang jelas-jelas menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias, lalu dengan sengaja, sadar, dan keras hati menyatakan bahwa pekerjaan Allah adalah pekerjaan setan, itulah yang dimaksud.


Ini bukan sekadar keceplosan kata-kata, tetapi sikap hati yang terus-menerus menolak Yesus Kristus secara total.


Hati yang sepenuhnya menolak Roh Kudus yang menyatakan-Nya tidak akan pernah merasa takut dan peduli. Tuhan memakai ilustrasi tentang pohon.


Pohon yang baik seharusnya menghasilkan buah yang baik, dan pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik pula.


Yesus menghubungkan hal ini dengan perkataan bahwa yang diucapkan mulut keluar dari hati.


Mungkin yang keluar dari mulut kita adalah kemarahan, gosip, fitnah, atau kepahitan. Itu bukan sekadar slip of the tongue, tetapi bisa menjadi slip of the heart.


Setiap perkataan perlu dipertanggungjawabkan karena itu menjadi ukuran kondisi rohani kita.


Mari belajar bertanggung jawab dan peduli terhadap apa yang kita lihat sebagai karya Tuhan dalam hidup kita. Jangan sampai kita justru merusakkannya.


Jangan sampai perkataan kita hanya menunjukkan siapa yang menguasai hati kita, apakah Tuhan atau ego kita.


Mintalah Roh Kudus melembutkan hati kita. Mungkin hari ini kita belajar berhenti berkata, “Aku tidak bisa. Dia memang begitu. Tidak ada harapan.”


Belajarlah berkata dengan iman, “Tuhan sedang bekerja. Ada harapan dalam Kristus.” Percayalah bahwa Tuhan dapat memulihkan kita. Itulah yang Tuhan mau kita alami.


Orang Farisi hanya mengucapkan satu kalimat, “Ia mengusir setan dengan kuasa setan.” Namun Yesus menjawab bahwa kata-kata mereka menunjukkan siapa raja yang memerintah dalam hidup mereka.


Inilah pilihan bagi kita. Izinkan Tuhan memerintah hidup dan hati kita, maka dunia kita akan berubah dimulai dari kata-kata yang keluar dari mulut kita.


Doakan dan renungkan


* Orang Farisi berkata: "Dengan Beelzebul, penghulu setan, Ia mengusir setan.”


* Tuhan Yesus melakukan mukjizat, dan pemulihan terjadi. Namun hati orang Farisi yang jahat membalikkan kebaikan itu menjadi sebuah fitnah.


Memutarbalikkan fakta