Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
Matius 12:9-15a
Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat
Bayangkan suatu Minggu pagi, kita hendak pergi ke gereja. Dalam perjalanan, kita bertemu dengan seseorang yang mengalami kecelakaan kecil, ia terjatuh di samping mobil kita.
Apa yang akan kita lakukan? Apakah kita akan berhenti untuk menolongnya atau kita lewati saja lalu membiarkan orang lain menolong karena kita harus pergi beribadah?
Kebanyakan kita mungkin akan memilih untuk melewati saja dan membiarkan orang lain yang mengurus.
Mungkin kita tidak mengatakan, “Saya tidak peduli”, tetapi mungkin kita terlalu sibuk untuk peduli.
Matius 12:9-15a
9 Setelah pergi dari sana, Yesus masuk ke rumah ibadat mereka.
10 Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya. Mereka bertanya kepada-Nya: "Bolehkah menyembuhkan orang pada hari Sabat?" Maksud mereka ialah supaya dapat mempersalahkan Dia.
11 Tetapi Yesus berkata kepada mereka: "Jika seorang dari antara kamu mempunyai seekor domba dan domba itu terjatuh ke dalam lobang pada hari Sabat, tidakkah ia akan menangkapnya dan mengeluarkannya?
12 Bukankah manusia jauh lebih berharga dari pada domba? Karena itu boleh berbuat baik pada hari Sabat."
13 Lalu kata Yesus kepada orang itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Dan ia mengulurkannya, maka pulihlah tangannya itu, dan menjadi sehat seperti tangannya yang lain.
14 Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan bersekongkol untuk membunuh Dia.
15 Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana.
Tuhan Yesus mengajarkan sesuatu yang sederhana, tetapi sangat penting. Iman yang sejati tidak hanya berhenti pada peraturan, melainkan selalu bergerak mengulurkan tangan.
Dikisahkan Tuhan Yesus masuk ke dalam rumah ibadah dan bertemu dengan seorang yang lumpuh tangan sebelah. Permasalahannya bukan kondisi tangan, melainkan hati yang dingin dan mati.
Orang Farisi melihat penderitaan orang yang lumpuh tangan ini, tetapi mereka mengabaikannya. Mereka hanya mencari kesempatan untuk menjebak Tuhan Yesus.
Musuh terbesar dari kasih bukan kebencian, tetapi ketidakpedulian. Orang Farisi tidak jahat, mereka hanya tidak peduli.
Jika di sekitar kita ada tangan-tangan yang lumpuh atau mati, apakah akan kita abaikan dan tetap sibuk dengan rutinitas agamawi kita?
Tuhan Yesus menjawab dan mengungkapkan kondisi hati manusia, dengan pertanyaan siapa yang tidak akan menolong domba yang terperosok pada hari Sabat.
Artinya, Tuhan Yesus ingin menegur. Apabila mereka peduli dengan hewan, seharusnya mereka juga peduli dengan sesama.
Seringkali dalam kehidupan kita, kita merespon notifikasi yang ada pada ponsel kita, tetapi mengabaikan orang yang ada di depan kita.
Kita lebih peduli dengan hasil pekerjaan kita, daripada hal yang terjadi dengan keluarga kita di rumah.
Kebenaran yang Tuhan Yesus ajarkan yaitu hukum yang diberikan, tidak pernah membatasi kasih itu untuk bergerak.
Hukum Tuhan selalu mendorong kasih itu bisa dipraktikkan. Jika kita kurang mengasihi, kita bisa saja salah memahami isi hati Tuhan. Tuhan Yesus tidak hanya berbicara, tetapi juga bertindak.
Ia berkata,"Ulurkanlah tanganmu!”,tanpa ada kondisi yang luar biasa, perintah ini sederhana. Maka, terjadi mujizat. Orang lumpuh tangan ini berani mengulurkan tangannya dan dipulihkan.
Tuhan bisa melakukan sesuatu yang mustahil. Ia selalu minta kepada kita untuk mengerjakan sesuatu yang paling mungkin.
Yesus menyembuhkan orang itu saat ia mengambil langkah pertama untuk mengulurkan tangannya.
Orang Farisi tidak menyukai hal ini, tidak bersyukur, dan mencari kesempatan untuk menjatuhkan Yesus. Mereka terusik saat ada yang berbuat kebaikan karena kenyamanannya terganggu.
Tuhan Yesus melanjutkan pelayanan untuk menyembuhkan banyak orang. Ia tidak pernah berhenti berbuat baik.
Apakah kita juga dipanggil untuk melihat dengan peka dan kepedulian? Untuk mengulurkan tangan kita kepada orang yang membutuhkan?
Pesan Firman Tuhan bagi kita
1. Mari kita menjadi orang yang mau berhenti ketika seseorang lewat dengan satu kebutuhan. Mintalah kepekaan kepada Tuhan untuk boleh berkarya dalam hidup orang lain.
Mintalah agar hal ini turut menyembuhkan rasa yang mati atau lumpuh di dalam diri kita.
Mungkin itu karakter, pengharapan, kebiasaan buruk, atau hubungan yang rusak. Tuhan Yesus juga mengulurkan tangan-Nya di dalam hidup kita.
2. Mari kita menjadi gereja yang selalu hadir. Bukan untuk membangun tembok, melainkan untuk mengulurkan tangan kepada sesama manusia.
Doakan dan renungkan
* Orang Farisi melihat penderitaan orang yang tangannya lumpuh, tetapi mereka tidak peduli.
* Iman yang sejati seharusnya tidak berhenti pada peraturan, melainkan selalu bergerak mengulurkan tangan untuk menolong orang yang membutuhkan.
Ajar kami peduli