Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Selasa, 10 Maret 2026

Tuhan Adalah Gembalaku

Matius 12:1-8

Murid-Murid Memetik Gandum Pada Hari Sabat.


Belakangan ini kita mendengar satu istilah yang muncul di opini publik, yaitu tentang restorative justice atau keadilan yang restoratif, yaitu pendekatan penyesuaian satu perkara pidana yang berfokus kepada pemulihan kerugian yang dialami korban.


Seringkali konflik ataupun perkara-perkara yang dikedepankan dengan hukum ini bukan sekedar pendekatan aturan, tapi bagaimana juga berpihak kepada pribadi, kondisi personal yang mengalami dan situasi daripada kasus tersebut, sehingga ini mulai mendapatkan satu simpati dari masyarakat.


Apakah kita hanya bicara soal aturan atau kita melihat di balik aturan itu ada satu maksud yang mau diberikan kepada kita?


Ini yang dibahas oleh Tuhan Yesus di dalam:


Matius 12:1-8


1 Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya.


2 Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya: "Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat."


3 Tetapi jawab Yesus kepada mereka: "Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar,


4 bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam?


5 Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah?


6 Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah.


7 Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah.


8 Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat."


Ketika aturan menjadi lebih penting dari manusia, maka itu melanggar satu rasa simpati atau juga kondisi hati kita.


Masalah terbesar orang Farisi di sini bukan karena mereka terlalu mencintai hukum Taurat, tapi karena mereka kehilangan hati nurani mereka di balik pelaksanaan hukum-hukum tersebut.


Pada waktu itu diceritakan kondisi murid-murid Tuhan Yesus kelaparan, tapi orang Farisi marah karena Tuhan Yesus mengizinkan mereka untuk melihat kebutuhan dan mendapatkan makanan.


Yesus tidak membela aturan, tetapi sebenarnya Dia memposisikan diri berada di sisi murid-murid sebagai manusia.


Mungkin orang Farisi bertanya, "Apakah ini melanggar hukum?" Tapi Yesus sebenarnya bertanya, "Apakah yang mereka lakukan ini mencerminkan hati Tuhan?"


Seringkali kehidupan agamawi kita membuat kita kehilangan yang namanya belas kasihan sehingga kita menjadi orang yang mudah cepat menghakimi, lambat untuk memahami.


Bahkan sibuk menjaga aturan, tetapi kita lupa bahwa ada manusia di situ yang sebenarnya dihadirkan oleh Tuhan.


Tuhan Yesus tidak pernah meniadakan hukum Taurat, tapi Ia selalu menempatkan manusia di atas semua nilai-nilai aturan tersebut.


Di sini Tuhan lebih peduli kepada kondisi hati daripada sekedar ritual yang dijalani. Maka Ia mengutip Nabi Hosea, "Aku menghendaki belas kasihan, bukan sekedar persembahan.”


Masalahnya sebenarnya bukan pada hari Sabat, tapi masalahnya pada hati yang tidak lagi memaknai apa maksud, kenapa hari Sabat itu diberikan?


Kita perlu belajar bahwa Sabat diciptakan untuk memulihkan kondisi manusia, memberikan ruang, istirahat untuk bisa bernafas dan mempertemukan kembali manusia itu dengan Tuhan.


Bagi orang Farisi, justru hari Sabat itu diubah menjadi sesuatu alat kontrol untuk menilai sebuah standar kesalehan hidup dan akhirnya menjadi beban yang harus dilakukan.


Tuhan Yesus dikatakan lebih besar, bahkan yang adalah menjadi Tuhan atas hari Sabat.


Jelas di sini Tuhan Yesus itu lebih besar dari sekedar tradisi, semua sistem keagamaan, bahkan aturan-aturan yang bisa dibuat oleh manusia.


Jika Tuhan Yesus adalah Tuhan atas hari Sabat, maka Ia berdaulat atas waktu-waktu dalam hidup kita, Ia berdaulat atas cara kita beribadah, dan Dia berdaulat atas cara kita memperlakukan sesama.


1. Iman Kristen itu bukan sekedar mengikuti aturan yang benar, tapi bagaimana mempercayai dan mengikuti pribadi Allah yang setia.


Aturan tanpa sebuah relasi akan memimpin kepada satu pemberontakan dan mematikan iman, tetapi relasi yang benar dengan Yesus justru akan menghidupkan sebuah ketaatan dan kerelaan untuk mengikut Tuhan.


2. Belas kasihan bukanlah tanda iman yang lemah, belas kasihan adalah bukti bahwa kita sungguh mengenal hati Tuhan.



Doakan dan renungkan


* Yesus berkata, “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah.”


* Seringkali kehidupan agamawi kita membuat kita kehilangan belas kasihan sehingga kita menjadi orang yang mudah menghakimi dan lambat untuk memahami.


Kenakan belas kasih Tuhan