Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Jumat, 06 Maret 2026

Tuhan Adalah Gembalaku


Matius 10: 34 - 11: 1

Yesus membawa pemisahan Bagaimana mengikut Yesus


Kita mendengar satu istilah yang sering disebut belakangan ini, yaitu kata “healing”, atau ingin bisa melepaskan diri dari kepenatan dan kelelahan, lalu pergi atau berangkat mengalami sesuatu yang menyenangkan.


Kalau kita lagi stres, kita ingin cepat healing. Kalau lagi padat dan merasa tidak tahan, kita ingin pergi “healing.”


Ini adalah sebuah istilah generasi muda hari ini untuk bisa melepaskan diri dari sesuatu yang mungkin mencengkram hidup mereka dan membuat mereka mengalami ketenangan.


Apakah itu damai yang sejati yang Tuhan berikan dalam hidup kita?


Setiap kali ada banyak ancaman dan masalah, kita hanya ingin healing, tetapi kita tidak mengundang Tuhan untuk masuk ke hidup kita.


Matius 10: 34 - 11: 1


34 "Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.


35 Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya,


36 dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.


37 Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.


38 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.


39 Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.


40 Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.


41 Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar.


42 Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya."


1 Setelah Yesus selesai berpesan kepada kedua belas murid-Nya, pergilah Ia dari sana untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka.


Kita hidup di dalam abad modern seperti ini dan cenderung selalu mencari kedamaian. Kita ingin memiliki ketenangan hidup, hubungan yang mulus, keluarga yang harmonis, bahkan pengakuan dari orang lain.


Tetapi Tuhan Yesus mengatakan sesuatu yang begitu mengejutkan. “Jangan menyangka,” kata-Nya, “bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi. Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.”


Pedang itu berlawanan dengan gambaran kisah Natal yang penuh damai dan lagu-lagu yang menenangkan.


Secara naluri kita ingin memiliki hidup dalam kedamaian.


Namun Tuhan Yesus berkata bahwa kehadiran-Nya dan kepengikutan kepada-Nya akan memunculkan satu kondisi yang sulit, yaitu pilihan yang seakan-akan memisahkan.


Sebenarnya Tuhan Yesus di sini tidak sedang mempromosikan kehidupan konflik demi konflik.

Ia juga tidak sedang mengatakan bahwa kita tidak boleh mengasihi keluarga.


Ia menyatakan bahwa Injil itu sendiri memanggil kita untuk sungguh-sungguh bersandar kepada Tuhan di tengah dunia yang mungkin menolak berita Injil.


Tuhan Yesus tahu bahwa pengikut dan murid-murid-Nya bisa mengalami tekanan, bahkan dari orang-orang terdekat termasuk keluarga.


Karena itu Ia berkata, “Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya,” dan seterusnya.


Ini bukan sesuatu yang terjadi secara harfiah di meja makan. Ketika kita mau mengikut Kristus, itu menjadikan kita menjalani hidup yang berbeda.


Mengikut Kristus bisa terjadi secara radikal karena bukan sekadar hidup dalam perbuatan baik, tetapi memilih Kristus sebagai pusat hidup kita.


Bahkan ketika itu menentang kondisi dunia yang kita tinggali. Mengasihi Kristus harus menjadi yang utama, melebihi segala-galanya.


Namun itu bukan berarti kita tidak boleh mengasihi orang-orang terdekat. Justru hal itu tetap harus dilakukan. Tuhan Yesus memberikan sebuah standar yang berbeda.


“Barang siapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.”


Memikul salib adalah gambaran hiperbola, di mana salib berbicara tentang melepaskan kendali hidup kita, melepaskan kebutuhan untuk selalu ingin menang dan terdepan.


Mengikut Kristus berarti hidup kita diubah oleh fokus kita kepada Tuhan. Itu bukan sekadar menjalani aturan agama atau hubungan sosial yang baik.


Bukan pula tentang apa yang kita lakukan, tetapi tentang apa yang sesungguhnya kita cintai di dalam hati kita yang menentukan siapa yang kita ikuti.


Apakah kita mengasihi Tuhan, mengasihi dunia, atau memilih mengasihi Kristus lebih daripada segala sesuatu.


Ini bukan sekadar kata-kata teologis yang sulit, tetapi inilah strategi hidup yang Tuhan mau kita hidupi.


Ketika dikatakan kita kehilangan diri kita, sesungguhnya kita akan mendapatkan hidup yang sepenuhnya.


Apa yang mungkin kita anggap sebagai kerugian, seperti dipandang aneh atau dikucilkan, justru menjadi jalan hidup yang lebih nyata. Itu bukan sekadar hidup yang memiliki damai yang semu di dalam dunia.


Tuhan Yesus memberitahukan kepada murid-murid-Nya bahwa tindakan kecil mencerminkan Kerajaan Allah. “Barang siapa menyambut kamu, ia menyambut Aku,” kata Tuhan Yesus.


Iman bukan hanya soal siapa yang kita akui, tetapi juga tindakan nyata untuk mengalami kehidupan yang berbuah.


Ketika kita menunjukkan kehidupan yang penuh cinta kasih dan kemurahan hati, bahkan kepada mereka yang terabaikan, kita sedang menyatakan berita Injil dalam kehidupan sehari-hari.


Tuhan Yesus disebut sebagai Raja Damai. Namun damai itu bukan berarti tidak ada konflik sosial atau emosional. Damai itu justru lahir dari kedamaian dengan Tuhan sendiri.


Relasi yang benar harus diletakkan di atas segalanya. Damai itu datang bukan karena dunia menerima kita, tetapi karena kita menerima Kristus lebih dari apa pun.


Keberanian untuk mengikut Kristus bukan berarti tidak akan ada konflik dan masalah dalam hidup kita.


Ketika kita memilih mengikut Kristus dan menjalankannya dalam tindakan sehari-hari, kita akan memegang damai yang sejati.


Mungkin itulah salib kita hari ini. Maukah kita mengikut Kristus hari ini?


Doakan dan renungkan


* Yesus berkata,”Barang siapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.”


* Salib berbicara tentang melepaskan kendali hidup yang selalu ingin menang dan terdepan.

Mengikut Kristus berarti mengubah fokus hidup kita kepada Tuhan.


Salib dan Fokus hidupku