Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Kamis, 05 Maret 2026

Tuhan Adalah Gembalaku

Matius 10:24-33

Penganiayaan yang akan datang dan Pengakuan akan Yesus; Part 2


Kebanyakan dari kita tidak menginginkan kehidupan yang biasa-biasa saja.


Kita ingin suatu kehidupan yang menyenangkan dan penuh dengan petualangan. Tetapi, seringkali kita takut dengan resiko, karena untuk mengalami suatu hal yang luar biasa, biasanya akan ada tantangan dan ancaman.


Dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dalam kesempatan kita bisa membuka usaha baru. Kita tahu ada tantangan dan resiko yang akan kita hadapi.


Seringkali kita takut untuk melangkah. Kita tidak bisa memahami apa yang sebenarnya tersedia di depan bagi kita.


Dari perenungan hari ini, kita akan belajar bagaimana kita hidup berjalan bersama Tuhan. Meskipun, kita tahu akan ada risiko yang akan kita hadapi.


Matius 10:24-33 Penganiayaan yang akan Datang dan Pengakuan akan Yesus; Part 2


24 Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya.


25 Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.


26 Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui.


27 Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah.


28 Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.


29 Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu.


30 Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya.


31 Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.


32 Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga.


33 Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga."


Satu kata yang terus berulang dalam bagian ini, yaitu takut.


Yesus mengajak murid-murid-Nyabukanuntuk berpetualang tanpa risiko, tetapi untuk menghadapi ketakutan yang nyata dalam hidup mereka.


Dia tahu, ketakutan seringkali bisa lebih merusak, daripada ancaman yang ada di luar diri kita. Ketakutan bisa membuat kita mundur, berdiam, bahkan tidak berani untuk melangkah.


Yesus mengatakan: seorang murid tidak lebih daripada gurunya. Intinya adalah ketakutan kita seringkali terbentuk oleh identitas kita.


Pengenalan terhadap siapa diri kita, sebenarnya harus menyatu dengan siapa Kristus bagi kita.


Jika murid adalah seperti guru, maka bagian kita sebenarnya tidak akan lebih mudah, daripada apa yang dialami oleh Sang Guru, yaitu Yesus sendiri.


Ketakutan terbesar kita, bukan pada apa yang dunia bisa lakukan kepada kita. Tetapi, ketakutan kita justru berasal dari kehilangan akan siapa jati diri kita.


Yesus menunjuk kepada diri-Nya sebagai sebuah standar. Di dalam Dia, kita dibentuk untuk menjadi serupa dengan kasih-Nya. Bukan sekadar untuk diterima oleh dunia.


Menariknya, Tuhan mengetahui yang tersembunyi. Dia ingin, kita berangkat dari satu ketakutan kepada sebuah langkah keberanian.


Iman di sini bukan berarti kita menolak risiko. Tetapi, bagaimana menjadi berani berdasarkan satu kebenaran yang lebih besar.


Tuhan mengetahui apa yang tersembunyi, bahkan dalam hati kita sendiri.


Jadi sebenarnya, kita tidak harus terlalu pusing dan takut atas opini/pendapat/ tekanan manusia di luar diri kita.


Kita harus memahami, bahwa Tuhan tidak pernah kehilangan sesuatu yang sudah Dia akui.


Hari ini, kita berdiri menjadi sebuah saksi Kristus di tengah dunia.


Dikatakan, bahwa Tuhan tahu dan bisa menghitung, bahkan sampai rambut yang ada di kepala kita.


Matius 10:30

30 Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya.


Ini bukan bicara tentang data, tetapi bicara tentang keintiman relasi Tuhan dengan setiap anak-anak-Nya.


Ketika dunia menakutkan kita, dengan apa yang orang lain bisa lakukan kepada diri kita, Tuhan sudah mengetahui seluruh hidup kita.


Bahkan jauh lebih berharga hidup kita daripada sekecil burung pipit. Artinya,keberadaan diri kita bukan diukur dari apa yang dunia nilai, tetapi kita adalah anak-anak Tuhan yang berharga di mata-Nya.


Jika kita bisa memahami kedekatan relasi dan kasih yang begitu intim, maka keberanian menjadi suatu buah yang ada dalam hidup kita, sehingga setiap orang yang dikatakan mengakui Tuhan di hadapan manusia, Dia juga akan mengakuinya di depan Bapa yang di sorga.


Matius 10:32

32 Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga.


Matius 10:32 adalah sebuah panggilan untuk kita berakar kepada keselamatan yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus sendiri.


Hari ini, kita kuat karena Dia sudah menjadi kekuatan bagi hidup kita. Kita tidak sempurna, tapi kita sudah diselamatkan oleh anugerah-Nya yang sempurna.


Tuhan menjanjikan saat kita mau berdiri dalam terang kasih Bapa, maka seluruh hidup kita, termasuk ketakutan-ketakutan kita akan diubahkan oleh sebuah berita atau keberanian dari Injil.


Pesan firman Tuhan bagi kita:


1.Dalam dunia yang terus ingin agar kita dibentuk dari pendapat dan opini orang lain,sebaliknya kita dipanggil untuk hidup berdasarkan kasih Tuhan yang tidak berubah. Kasih yang lebih besar dari apa pun yang dunia bisa berikan kepada kita.


Maukah kita mengakui Tuhan dalam setiap laku dan jalan hidup kita?


2. Percayalah, Tuhan akan melihat, mengasihi, menjaga dan menganggap kita berharga di hadapan-Nya.


Doakan dan renungkan


* Tuhan berkata,”Rambut kepalamu pun terhitung semuanya.”


* Kalimat di atas tidak bicara tentang angka/data, tetapi bicara tentang keintiman relasi Tuhan dengan setiap anak-anak-Nya.


Sedalam itu Dia tahu