Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
Matius 8:5-13
Yesus menyembuhkan hamba-hamba seorang perwira di Kapernaum
Ada satu tokoh di dalam Alkitab yang informasinya minim dan hanya sekali dicantumkan.
Tokoh ini memiliki jabatan tinggi dan iman yang murni. Ia dipuji oleh Tuhan karena imannya. Kesaksiannya hingga saat ini, masih terasa segar dan menjadi berkat bagi banyak orang dari generasi ke generasi.
Matius 8:5-13
5 Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya:
6 "Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita."
7 Yesus berkata kepadanya: "Aku akan datang menyembuhkannya."
8 Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.
9 Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya."
10 Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel.
11 Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga,
12 sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi."
13 Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: "Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya." Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.
Ini adalah kisah seorang perwira dengan jabatan tinggi. Ia bukan orang Yahudi, tetapi percaya kepada Tuhan. Walaupun jabatannya tinggi, ia memiliki kepedulian kepada hambanya yang sakit lumpuh.
Ia berinisiatif untuk berjumpa dengan Yesus dan meminta Yesus menyembuhkannya. Pada ayat 6 dikatakan bahwa hambanya terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan sangat menderita.
Bayangkan seorang tuan yang memiliki empati yang sangat dalam kepada hambanya. Apakah masih ada tuan atau atasan seperti ini pada masa sekarang?
Saat hal itu dikatakakan oleh perwira tersebut, Tuhan Yesus menjawab bahwa Ia akan datang menyembuhkan hamba itu. Saat perwira ini mendengar jawaban Yesus, pasti ia terkejut.
Pada ayat 8, dijelaskan bahwa ia tidak layak menerima Yesus di dalam rumahnya dan meminta agar Yesus berkata sepatah kata saja agar hambanya menjadi sembuh.
Hal menarik dari argumentasi sang perwira adalah saat ia berkata, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku…”
Secara adat istiadat, orang Yahudi tidak dapat berelasi dan berhubungan dengan bukan Yahudi.
Saat itu, hal tersebut dianggap najis. Perwira tersebut tahu diri. Sebenarnya, Tuhan Yesus juga tahu akan hal itu tetapi Ia ingin datang untuk menyembuhkan hambanya itu.
Sang perwira sadar dirinya tidak layak di hadapan Tuhan Yesus sehingga ia berkata agar Tuhan Yesus katakan sepatah kata saja agar hambanya sembuh.
Perwira ini memiliki iman yang luar biasa. Ia percaya bahwa Tuhan Yesus sanggup menyembuhkan hamba itu hanya dengan sepatah kata.
Ia juga membandingkan dirinya sebagai seorang perwira, seorang bawahan yang juga memiliki atasan.
Namun, ia juga memiliki bawahan prajurit, yang dapat menuruti perintahnya untuk pergi, datang, dan kerja.
Pada waktu, Tuhan Yesus mendengar ekspresi iman perwira tersebut. Ia menjadi heran dan berkata,"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel…”
Tuhan Yesus tidak pernah menemukan iman seperti perwira ini sehingga Ia memujinya. Iman perwira ini bukanlah iman yang datang hanya karena ada kebutuhan lalu memohon kepada Tuhan.
Tuhan Yesus tahu bahwa iman orang ini meyakini bahwa Yesuslah Tuhan, Ia berkuasa atas segala sesuatu, dan sanggup memberikan pertolongan kepada orang-orang yang membutuhkannya.
Matius 8:13
13 Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: "Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya." Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.
Mujizat yang terjadi bukan karena iman hamba itu, melainkan karena iman seorang tuan yang mengasihinya dan memohon untuk kesembuhannya.
Kita bersyukur karena kita diberikan hal istimewa untuk dapat percaya kepada Tuhan.
Jika kita adalah orang percaya, iman seperti apa yang kita miliki saat ini? Apakah Tuhan akan memuji kita karena memiliki iman seperti perwira ini?
Pesan Firman Tuhan bagi kita
1. Mari kita memiliki iman yang genuine /murni, tulus, dan sejati.
Saat percaya kepada Tuhan, percayalah dengan sepenuhnya kepada kedaulatan Tuhan. Bukan karena ada kebutuhan dan keinginan.
Percayalah karena kita kenal siapa Tuhan kita, Ia berkuasa dan berdaulat atas segala sesuatu. Ia mampu mengatasi segala masalah yang kita hadapi.
Iman yang genuine adalah iman yang percaya bahwa kuasa Yesus tidak terbatas pada masalah atau persoalan apapun.
Sekalipun tidak langsung, namun kuasa Tuhan tetap sama dan tidak berubah.
2. Mari kita memiliki iman yang aktif, bukan pasif. Artinya iman yang peduli kepada persoalan-persoalan orang lain.
Bukan iman yang memikirkan kepentingan diri sendiri. Perhatikan seorang atasan dan bawahan yang dikatakan sebagai budak.
Hati sang atasan ini luar biasa dan ia memiliki iman yang aktif untuk memberikan pertolongan kepada budaknya.
Seringkali ekspresi iman kita terbatas pada kepentingan diri, orang-orang kalangan gereja, orang-orang seprofesi atau setingkat.
Iman kita tidak aktif untuk terjun kepada orang-orang di bawah, yang lebih tidak diperhatikan dan dipedulikan.
Iman yang aktif adalah iman yang peduli kepada orang kecil.
Iman yang dipuji oleh Tuhan, bukan hanya iman yang mengakui kedaulatan Tuhan, tetapi juga dinyatakan kepada orang-orang yang papa.
Kiranya kita menjadi orang yang memiliki iman yang dipuji oleh Tuhan.
Doakan dan renungkan
* Seorng perwira mendapatkan Yesus dan memohon kepada-Nya: "Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita."
* Mari kita miliki iman seperti perwira ini, yang peduli pada kesulitan orang lain.
Iman yang peduli