Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
Matius 7:1-5
Hal Menghakimi.
Menurut saudara, apa itu menghakimi?
Secara sederhana kita memahami bahwa menghakim adalah sebuah tindakan seseorang seperti seorang hakim yang menilai atau mengecam, mengkritik, menyalahkan, dan juga bisa menghakimi ataupun menghukum seseorang,
Dalam penghakiman itu bisa saja sangat subjektif karena berdasarkan penilaian atau perspektif ataupun pengamatan diri sendiri.
Penilaian tersebut bisa saja salah tetapi, persoalannya bukan salah atau benar, masalahnya apapun keputusan ataupun penghakiman seseorang, konsekuensinya sangat mempengaruhi kehidupan seseorang.
Nah, untuk itu kita ingin tahu apa kata Tuhan Yesus berkaitan dengan topik menghakimi ini. Mari kita bersama-sama membaca firman Tuhan di dalam:
Matius 7:1-5
1 "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.
2 Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.
3 Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?
4 Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu.
5 Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."
Tuhan Yesus secara gamblang mengatakan di sini, "Jangan kamu menghakimi supaya kamu tidak dihakimi."
Ini sebuah kebenaran yang hebat sekali karena kebenaran ini melarang kita agar tidak menghakimi sesama kita, tetapi juga sekaligus melindungi kita dari penghakiman.
Manusia memang punya tendensi dan potensi untuk mudah menilai, bahkan menghakimi orang lain.
Ketika seseorang melihat atau mendengar tentang orang lain, seringkali secara spontan kita punya pemikiran ataupun punya penilaian yang sifatnya negatif, itu sebabnya Tuhan Yesus berkata begini:
Matius 7:3
3 Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?
Apa maksud Tuhan Yesus mengatakan hal ini?
Sederhana sekali Tuhan Yesus mengatakan begini, "Ya, mudah sekali bagi kita itu melihat jelas masalah kecil orang lain, tetapi masalah besar yang ada pada diri kita kita tidak pernah sadari atau tahu.”
Dengan persepsi, penilaian ataupun dengan kita menghakimi orang lain, maka firman Tuhan katakan begini, “Ukuran yang kau pakai untuk mengukur orang lain akan diukurkan juga kepadamu.”
Seringkali kita memahami bahwa apa yang kita lakukan itu juga yang akan kita juga terima.
Apa yang kita lakukan kepada orang lain, mungkin itu juga akan dilakukan orang lain kepada kita, ada timbal balik yang terjadi kepada kita.
Ketika kita melakukan sesuatu pada waktu kita menilai orang lain negatif, mungkin saja orang lain juga akan kembali menilai kita negatif, ini prinsip:
Matius 7:4
4 Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu.
Apa artinya? Kadangkala kita ingin menyelesaikan masalah orang lain, padahal kita sendiri punya masalah yang tidak terselesaikan.
Kalau demikian, bagaimana mungkin kita bisa mengurus atau menyelesaikan masalah orang lain?
Jika kita orang yang punya masalah, tetapi kita suka kepo atau suka ingin mengurus masalah orang lain, bahkan mungkin kita suka menghakimi orang lain, Tuhan Yesus mengatakan kita adalah orang-orang yang munafik, yang hidup di dalam kepalsuan.
Kita menyalahkan orang lain padahal kita adalah orang yang mungkin jauh tidak lebih baik daripada orang itu.
Kita perlu jujur bahwa kita ini adalah orang-orang yang suka latah sosial, latah dengan masalah-masalah orang yang lain, latah, suka kepo ataupun suka kepengin tahu masalah orang lain.
Mungkin kita sampai kepada tahap di mana kita mulai men-judge dan menghakimi seseorang, padahal penilaian kita adalah penilaian yang sifatnya sangat subjektif.
Kadang-kadang dengan mudah kita juga menghakimi orang lain yang belum tentu faktanya seperti apa yang kita pikirkan atau yang kita kira ataupun yang kita katakan.
Lalu hal-hal itu, akan menambah persoalan baru dan kerumitan dalam hidup kita, kemudian akan muncul rasa curiga, sinis, apatis, tidak hormat, dan kemungkinan bisa berujung kepada pertengkaran, secara tidak sadar kita sedang mencemplungkan diri kita di dalam persoalan yang rumit.
1. Mari kita belajar untuk tidak lebih mengurus masalah orang lain, tetapi lebih mengutamakan untuk melihat dan menilai diri kita sendiri.
2. Dengan kita melihat diri kita, kita mempunyai kemampuan menolong diri kita untuk semakin hari semakin mengalami pembaharuan.
Ketika kita melihat kelemahan, kekurangan, keterbatasan kita, kita tahu apa yang harus kita lakukan untuk membangun diri kita supaya kehidupan kita semakin lebih baik, lebih berkualitas, dan kehidupan yang menyenangkan hati Tuhan.
Doakan dan renungkan
* Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu.
* Jika kita suka mengurusi urusan orang lain, bahkan menghakiminya, padahal kita tidak lebih baik dari orang tersebut, maka kita termasuk orang munafik yang hidup dalam kepalsuan.
Selumbar vs Balok