Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Jumat, 07 November 2025

Tuhan Adalah Gembalaku

Pengkhotbah 1: 9 & 11

Keteraturan dan Akibatnya


Dunia selalu mengajarkan kita untuk menggapai mimpi setinggi-tingginya, sehingga kemudian kita bisa menjadi orang yang sukses atau dipandang bernilai oleh dunia.


Namun Alkitab mengatakan kepada kita: hanya ketika kita melihat bahwa akhir dari kehidupan ini adalah kematian, di situlah kita baru bisa memahami makna atau arti kehidupan kita yang sesungguhnya.


Ada satu hal yang pasti terjadi dalam kehidupan kita sebagai manusia, yaitu ulang tahun.


Mungkin pada saat kita kecil, kita begitu menyukai momen ulang tahun karena kita dikelilingi oleh orang-orang yang kita kasihi yang mengucapkan, merayakan dan memberikan hadiah yang begitu menarik dan kita juga mendapatkan kue yang begitu menarik.


Mungkin seiring dengan berjalannya usia, kita semakin dewasa dan sudah tidak lagi menikmati ulang tahun.


Tapi, ada satu ciri khas dari ulang tahun yang saya yakin semua pasti pernah mengalaminya, yaitu meniup lilin.


Meniup lilin ulang tahun itu menandakan bahwa kita telah berjalan satu tahun lagi dalam kehidupan kita.


Tapi, pernahkah kita perhatikan pada saat kita meniup lilin? Berapa lama asap dari lilin itu akan bertahan?


Kita bisa mencium, kita bisa melihat lilin itu, tapi itu semua sangat temporer dan berakhir dengan begitu cepatnya. Api dari lilin itu muncul dan pergi tanpa meninggalkan jejak yang lama.


Selama enam hari kita membaca Kitab Pengkhotbah, inilah yang dinyatakan kepada kita. Mungkin hal ini terdengar sangat ironis.


Ketika kita merayakan ulang tahun, kita sedang menuju satu tahun lagi dalam kehidupan kita, dan kita melihat asap yang begitu cepat hilangnya dari lilin itu. Sehingga kita pun tersadar bahwa kehidupan kita begitu singkat dan begitu cepat selesai.


Kita lahir, kita hidup, kita mati, itu semua terjadi dengan begitu cepatnya.


Pengkhotbah 1: 9 &11


9 Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.


11 Kenang-kenangan dari masa lampau tidak ada, dan dari masa depan yang masih akan datang pun tidak akan ada kenang-kenangan pada mereka yang hidup sesudahnya.


Inilah hal pertama yang Pengkhotbah ingin ajarkan kepada kita. Pengkhotbah mendorong kita untuk melihat kepada sejarah kehidupan tentang kehidupan yang lampau yang membuat kita belajar sesuatu daripadanya.


Pada pasal 1, Pengkhotbah ingin mengajak kita untuk melihat pada kehidupan dari generasi-generasi sebelumnya.


Semuanya itu hanyalah berulang. Semuanya itu hanyalah repetitif. Dan kita tidak bisa menghindari kenyataan ini. Tidak ada yang baru. Semuanya sama.


Kecenderungan kita sebagai manusia inginnya membuat sesuatu yang baru; ingin membuat sesuatu yang lain daripada yang lain.


Tapi ke mana pun kita mencari di bawah matahari ini, tidak ada satu pun yang baru, dan semuanya akan berakhir pada hal yang sama yang terus-menerus akan berulang dari zaman ke zaman.


Hidup manusia itu selalu memiliki pola yang sama dari generasi ke generasi, dan semuanya itu akan berakhir pada waktunya.


Keteraturan ini dikendalikan oleh Allah. Semuanya itu Allah yang mengaturnya, dan kita sebagai manusia tidak ada satu pun yang bisa mengubahnya.


Yang kedua, di pasal kedua, Pengkhotbah menyadarkan kita bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah sebagai seorang musafir.


Dunia ini bukanlah tempat tinggal yang sesungguhnya. Tapi kecenderungan kita sebagai manusia, sering kali kita menganggap bahwa dunia ini tempat tinggal kita.


Itu semua terpancar dari cara kita hidup — rumah yang kita bangun, uang yang kita keluarkan, gereja yang kita bangun, investasi-investasi yang kita tanamkan, dan semua prioritas lainnya.


Seolah-olah hal itu menarik kita sehingga kita menginvestasikan segala sesuatu di dunia ini.


Pengkhotbah kembali menyadarkan kita: apa pun yang kita kejar dalam dunia— baik itu materi, kesenangan duniawi, bahkan hikmat sekalipun yang kita pikir adalah hal yang baik untuk kita, itu semua sia-sia dan itu semua adalah usaha menjaring angin.


Pengkhotbah menyatakan kepada kita bahwa hidup yang Tuhan berikan adalah hadiah ataugift, bukannya keuntungan ataugain.


Pengkhotbah 2: 24–25


24 Tak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya. Aku menyadari bahwa ini pun dari tangan Allah.


25 Karena siapa dapat makan dan merasakan kenikmatan di luar Dia?


Waktu kita benar-benar menyadari bahwa hidup ini akan berujung pada kematian, di situlah akan membuat kita berhenti untuk mengejar ekspektasi dari hal-hal dunia ini.


Dan di situlah kita belajar untuk mengusahakan segala sesuatu sebagai pemberian Allah, bukan untuk memuaskan kesenangan kita.


Hanya ketika kita sadar bahwa tidak ada satu pun yang dapat kita bawa dalam kekekalan nanti, barulah kita bisa memahami bahwa semua yang tersedia bagi kita di dunia ini hanyalah anugerah pemberian Allah.


Dunia ini tidak pernah diciptakan untuk kita kuasai, melainkan kita hidup hanya untuk menikmati semua pemberian Allah dan menikmati relasi dengan Allah sebagai Sang Pemberi segala sesuatu.


Dua poin dari Kitab Pengkhotbah pasal pertama dan kedua yang telah kita rangkumkan hari ini:


1. Segala sesuatu yang ada di dunia ini hanyalah sebuah keteraturan yang berulang. Tidak ada yang baru, dan kita sebagai manusia tidak bisa mengubahnya.


2. Hidup ini hanyalah sementara dan tidak ada satu pun dari dunia ini yang bisa menjadi keuntungan kekal bagi kita.


Ketika kita diajak oleh Pengkhotbah untuk melihat dua hal ini, bagaimana respon kita? Nilai dan makna hidup kita ini tidak pernah ditentukan oleh apa yang dunia ini bisa berikan kepada kita.


Arti hidup kita terletak di tangan Allah yang bermurah hati memberikan kita kesempatan untuk hidup di dunia yang singkat ini.


Bukan untuk mengejar sesuatu yang fana, melainkan untuk mengenal Dia, mengasihi Dia sebagai sumber hikmat, kepuasan, dan makna dalam hidup kita.


Maukah kita memaknai hidup kita berdasarkan nilai yang Tuhan berikan kepada kita?


Doakan dan renungkan


* Nilai dan makna hidup kita tidak pernah ditentukan oleh apa yang dunia bisa berikan kepada kita.


* Sesungguhnya makna hidup kita terletak di tangan Allah yang bermurah hati memberikan kita kesempatan untuk hidup di dunia ini.


Makna hidup itu dari Allah