Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Kamis, 06 November 2025

Tuhan Adalah Gembalaku

Pengkotbah 2:18-26

Hikmat dan Kebodohan adalah Sia-sia Belaka


Tidak ada yang lebih baik bagi manusia, selain dari menikmati kehidupan yang Allah berikan, dan menikmatinya di dalam Allah.


Bagi kita yang bekerja setiap hari, mungkin sebagian besar pernah merasakan kelelahan yang luar biasa.


Tidak jarang kita menanti-nantikan masa liburan, karena terlalu lelahnya kita bekerja setiap hati.


Mungkin yang membuat kita begitu lelah karena uang yang kita peroleh nantinya pun habis. Mungkin kita bertanya-tanya, kapan kita bisa berhenti mencari uang?


Apakah ini yang akan saya kerjakan sampai saya pensiun? Apakah hanya ini yang menjadi makna kehidupan saya?


Hari ini kita akan kembali bersama-sama mempelajari mengenai hal ini dari firman Tuhan.


Pengkotbah 2:18-26 Hikmat dan Kebodohan adalah Sia-sia Belaka


18 Aku membenci segala usaha yang kulakukan dengan jerih payah di bawah matahari, sebab aku harus meninggalkannya kepada orang yang datang sesudah aku.


19 Dan siapakah yang mengetahui apakah orang itu berhikmat atau bodoh? Meskipun demikian ia akan berkuasa atas segala usaha yang kulakukan di bawah matahari dengan jerih payah dan dengan mempergunakan hikmat. Ini pun sia-sia.


20 Dengan demikian aku mulai putus asa terhadap segala usaha yang kulakukan dengan jerih payah di bawah matahari.


21 Sebab, kalau ada orang berlelah-lelah dengan hikmat, pengetahuan dan kecakapan, maka ia harus meninggalkan bahagiannya kepada orang yang tidak berlelah-lelah untuk itu. Ini pun kesia-siaan dan kemalangan yang besar.


22 Apakah faedahnya yang diperoleh manusia dari segala usaha yang dilakukannya dengan jerih payah di bawah matahari dan dari keinginan hatinya?


23 Seluruh hidupnya penuh kesedihan dan pekerjaannya penuh kesusahan hati, bahkan pada malam hari hatinya tidak tenteram. Ini pun sia-sia.


24 Tak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya. Aku menyadari bahwa ini pun dari tangan Allah.


25 Karena siapa dapat makan dan merasakan kenikmatan di luar Dia?


26 Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia mengaruniakan hikmat, pengetahuan dan kesukaan, tetapi orang berdosa ditugaskan-Nya untuk menghimpun dan menimbun sesuatu yang kemudian harus diberikannya kepada orang yang dikenan Allah. Ini pun kesia-siaan dan usaha menjaring angin.



Setelah Pengkotbah menelusuri di dalam semua kehidupannya, bahwa hidup ini adalah sia-sia, bahkan ketika ia mencari kepada hikmat dan kenikmatan, yang semuanya itu hanya berujung kepada kefanaan.


Di dalam kondisi yang kita baca barusan, kita melihat kondisi Pengkotbah yang frustasi dengan kehidupan ini. Karenanya, ia mengatakan, “Aku membenci ini pun sia-sia, aku mulai putus asa. Apakah faedahnya?”


Pengkhotbah 2:20

20 Dengan demikian aku mulai putus asa terhadap segala usaha yang kulakukan dengan jerih payah di bawah matahari.


Wajar sekali bagi seseorang, yang hendak mencari makna dalam kehidupan ini, yang hendak mencari kepuasan, tetapi tidak juga menemuinya.


Kita pun bisa merasa putus asa, jika kita merasa sudah mengerjakan sesuatu tetapi tidak menghasilkan apa-apa.


Sebagai contoh, kita diperintahkan untuk mengerjakan sebuah proyek. Kita telah mengerjakannya dengan begitu rupa, kerja keras, tetapi ternyata ujung-ujungnya proyek tsb tidak dipakai.


Tentu kita bisa memahami rasa frustasi itu, bukan? Inilah kondisi yang dialami oleh Pengkotbah. Ia begitu putus asa, tetapi tidak ada yang mampu memberikannya jawaban yang kekal.


Pengkotbah 2:21

21 Sebab, kalau ada orang berlelah-lelah dengan hikmat, pengetahuan dan kecakapan, maka ia harus meninggalkan bahagiannya kepada orang yang tidak berlelah-lelah untuk itu. Ini pun kesia-siaan dan kemalangan yang besar.


Segala sesuatu yang telah kita peroleh dalam dunia ini, akan tetap berakhir di dunia, seiring dengan berakhirnya hidup kita.


Satu pertanyaan penting yang ditanyakan oleh Pengkotbah, setelah ia mengungkapkan keputuasaannya.


Pengkotbah 2:22

22 Apakah faedahnya yang diperoleh manusia dari segala usaha yang dilakukannya dengan jerih payah di bawah matahari dan dari keinginan hatinya?


Hidup kita sebagai manusia terus menerus bekerja keras mencari nafkah, atau untuk mencari prestasi, tapi di mana yang bisa kita banggakan. Apa faedahnya semua itu?


Bahkan, ketika kita bekerja keras, menaruh seluruh keringat kita pada semua usaha dan upaya kita. Ujung-ujungnya kita merasakan kesusahan hati, kecemasan, rasarestless, rasa tidak ada istirahatnya.


Dan itulah yang dikatakan oleh Pengkotbah, ketika ia menjelaskannya, bahkan pada malam hari, hatinya tidak tentram.


Kita bekerja begitu keras. Sampai pada malam hari, semua yang memenuhi isi pikiran kita hanyalah pekerjaan kita.


Kita pun tidak bisa mengalami istirahat yang tenang, karena pikiran kita dipenuhi dengan pekerjaan-pekerjaan kita yang begitu menyusahkan.


Setelah sekian lama kita terus menerus kita kontak dengan kesia-siaan dari pasal satu hingga yang hari ini, menariknya, baru pertama kali kita menjumpai ada sebuah kesegaran yang dinyatakan dalam Pengkotbah di ayat 24- 26.


Seolah-olah Pengkotbah sedang ingin menyingkirkan sejenak segala yang telah ia telusuri tentang kehidupan ini, yang membawanya kepada kesia-siaan, dan mengajak kita untuk melihat kepada pemahaman yang baru.


Dalam pemahaman yang baru, Pengkotbah mengajarkan, bahwa hidup ini seharusnya dinikmati.


Pengkotbah 2:24

24 Tak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya. Aku menyadari bahwa ini pun dari tangan Allah.


Ketika kita makan dan minum, rasa yang kita alami pasti rasa puas, karena kita mengisi rasa kelaparan dan kehausan itu.


Demikianlah Pengkotbah dalam pandangannya yang baru. Ia menganjurkan, bahwa segala jerih payah kita seharusnya kita nikmati.


Bukan berarti, kita sedang dianjurkan hidup duniawi, dan menjadi serupa dengan dunia ini, tenggelam dalam kenikmatan dunia, kemudian hidup dituntun dengan segala yang ditawarkan oleh dunia ini. Bukan itu maksudnya.


Tetapi sebaliknya, harusnya kita menyadari, bahwa semua yang baik, yang kita dapatkan adalah pemberian Allah, dan kita harus menikmatinya.


Kejadian 1:31a Allah Menciptakan Langit dan Bumi serta Isinya

31a Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.


Ketika Dia menciptakan dunia ini dengan mengatakan, bahwa ciptaan-Nya sungguh amat baik, Dia pun ingin kita bisa menikmati ciptaan-Nya yang baik itu.


Allah juga mau, supaya kita bisa menikmati kebaikan-kebaikan yang Allah ciptakan itu.


Tetapi kemudian pertanyaannya, bagaimana cara kita menikmatinya? Pengkotbah menjelaskannya di ayat 26.


Pengkotbah 2:26

26 Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia mengaruniakan hikmat, pengetahuan dan kesukaan, tetapi orang berdosa ditugaskan-Nya untuk menghimpun dan menimbun sesuatu yang kemudian harus diberikannya kepada orang yang dikenan Allah. Ini pun kesia-siaan dan usaha menjaring angin.


Bagi kita untuk kita bisa menikmatinya, kita perlu untuk hidup menyenangkan Allah. Artinya hidup kita dalam Allah.


Kita menyadari, bahwa semua yang kita miliki adalah pemberian Allah. Kita bersyukur, dan mengelola semua pemberian Allah itu, di dalam Allah dan untuk Allah.


Pengkotbah mengontraskannya dengan begitu jelas, dengan keberadaan orang berdosa.


Orang berdosa dikatakan, ditugaskan Allah untuk menghimpun dan menimbun, tapi tidak pernah mendapatkan apa-apa dan tidak pernah puas.


Orang berdosa di sini, bukan sedang menggambarkan orang-orang yang mungkin melanggar firman Tuhan.


Tetapi, orang berdosa di sini, merujuk kepada Galatia 2:15, yang menjelaskan keberadaan seseorang yang hidupnya lepas dari tangan Allah. Artinya, ia tidak berelasi erat dengan Allah, dan ia hidupnya dengan tidak bersama Allah.


Orang yang hidupnya tidak berelasi dengan Allah, akan menjadi payah sepanjang hidupnya, dan tidak akan pernah memperoleh kepuasan dalam hidupnya.


Sepanjang kitab Pengkotbah yang telah kita baca dari pasal pertama hingga kedua, Pengkotbah secara sengaja memperlihatkan kepada kita dua cara hidup yang berbeda.


Yang pertama adalah hidup yang kesenangannya sementara, jerih payah yang tanpa hasil, hikmat yang sia-sia, dan kematian yang tidak terhindarkan.


Dibandingkan dengan yang kedua, yaitu kehidupan yang begitu menyenangkan, ketika kita menerimanya di dalam Tuhan.


Pengkotbah membedakannya dengan sangat jelas. Mereka yang mampu menikmati kehidupan ini disebut sebagai orang yang benar, sedangkan mereka yang fasik atau berdosa hanya akan menerima kesia-siaan.


Apa yang bisa kita pelajari dari firman Tuhan hari ini?


Mungkin kita pernah, atau mungkin saat ini kita sedang menghadapi, di mana kita begitu lelah bekerja, berjerih payah mencari uang dalam kehidupan ini.


Kita berlelah mencari uang untuk menghidupi kehidupan kita dan keluarga kita. Uang itu, semua akan habis, tetapi bekerja tidak akan ada habisnya.


Berjerih payah nampaknya tidak menghasilkan apa-apa. Apalagi, tidak ada yang bisa dibawa kekekalan nantinya.


Pesan firman Tuhan bagi kita:


1. Pengkotbah hari ini mengingatkan kita, bahwahidup kita seharusnya mampu untuk menikmati semua pemberian Allah tersebut.


Tidak ada yang lebih baik bagi manusia, selain menikmati semua jerih payah yang Allah berikan kepada kita.


2. Hidup yang bersyukur atas pemberian Allah, dan menjalani kehidupan yang baik dalam Allah, seharusnya mampu memberikan kepada kita kepuasan yang sejati.


Sebab firman Tuhan yang mengatakannya,” Siapa yang dapat merasakan kenikmatan di luar Dia?”


Biarlah melalui firman Tuhan hari ini, kita belajar untuk bersyukur dan menikmati kehidupan yang Tuhan berikan.


Mari, kita berhenti untuk meletakkan fokus kita hanya untuk mencari kepuasan bagi diri kita sendiri. Dan kita belajar untuk mengembalikan semuanya hanya untuk Tuhan.


Kembali mengingat, bahwa semua yang tersedia bagi kita adalah pemberian Allah, dan kita mau menikmatinya di dalam Allah.


Doakan dan renungkan


* Apakah faedah yang diperoleh manusia dari segala usaha dan jerih payah yang dilakukannya?


* Tak ada yang lebih baik dari pada makan, minum dan merasakan kenikmatan dalam jerih payahnya. Karena hal ini pun dari tangan Allah.


Nikmatnya hasil jerih payahku