Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Rabu, 05 November 2025

Tuhan Adalah Gembalaku

Pengkhotbah 2:12-17

Hikmat dan kebodohan sia-sia belaka (part 2)


Hidup yang kita miliki di dunia adalah hidup sementara. Saat kita mengejar nilai dan harga diri pada hal-hal dalam dunia, semua tidak akan memberikan jaminan yang kekal.


Pernahkah kita melihat jam pasir? Jika pernah memegangnya, jam pasir memiliki waktu yang tidak bisa diubah. Saat digoyangkan secepat apapun, tidak akan bisa membuat pasirnya turun lebih deras.


Demikian juga kehidupan kita, Tuhan mengatur kehidupan kita dengan jam pasir yang terbatas. Jika waktunya sudah selesai, kita akan berjumpa dengan akhir kehidupan.


Tidak ada yang tahu karena hanya Tuhan yang memegang jam pasir itu.


Pengkhotbah 2:12-17


12 Lalu aku berpaling untuk meninjau hikmat, kebodohan dan kebebalan, sebab apa yang dapat dilakukan orang yang menggantikan raja? Hanya apa yang telah dilakukan orang.


13 Dan aku melihat bahwa hikmat melebihi kebodohan, seperti terang melebihi kegelapan.


14 Mata orang berhikmat ada di kepalanya, sedangkan orang yang bodoh berjalan dalam kegelapan, tetapi aku tahu juga bahwa nasib yang sama menimpa mereka semua.


15 Maka aku berkata dalam hati: "Nasib yang menimpa orang bodoh juga akan menimpa aku. Untuk apa aku ini dulu begitu berhikmat?" Lalu aku berkata dalam hati, bahwa ini pun sia-sia.


16 Karena tidak ada kenang-kenangan yang kekal baik dari orang yang berhikmat, maupun dari orang yang bodoh, sebab pada hari-hari yang akan datang kesemuanya sudah lama dilupakan. Dan, ah, orang yang berhikmat mati juga seperti orang yang bodoh!


17 Oleh sebab itu aku membenci hidup, karena aku menganggap menyusahkan apa yang dilakukan di bawah matahari, sebab segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin.


Setelah pengkhotbah menelusuri tentang kepuasan sejati yang dipikirnya dapat diperoleh dari kekayaan dan uang, kita kembali diajak untuk melihat mengenai hikmat.


Pengkhotbah terus berusaha untuk melakukan penelusuran tentang hikmat. Ia berpikir akan ada hal yang bisa ditemukan lagi; berharap dapat memperoleh sesuatu yang lebih dari penyelidikan yang pertama.


Sang pengkhotbah meninjau hikmat termasuk kekonyolan dan kebodohan. Penelusuran akan nilai kehidupan, nilai mana yang dapat dipegang, dan memberikan makna yang sejati.


Dalam penemuannya, ia melihat bahwa hikmat lebih baik dari kebodohan; sama seperti terang lebih berguna dari kegelapan.


Pengkhotbah 2:14


14 Mata orang berhikmat ada di kepalanya, sedangkan orang yang bodoh berjalan dalam kegelapan, tetapi aku tahu juga bahwa nasib yang sama menimpa mereka semua.


Orang yang berhikmat memiliki mata yang terletak di kepala, sebagaimana semestinya. Ia dapat melihat celaka yang ada di depannya, sehingga dapat dihindari.


Ia juga bisa mempersiapkan dirinya untuk hal-hal yang terjadi di masa depan. Mampu mengantisipasi, memiliki akal budi, dapat berpikir dengan baik, dan mengatasi persoalan hidupnya.


Sedangkan, orang yang bodoh berjalan dalam kegelapan. Ia tidak dapat melihat hal yang sedang dijalani.


Orang yang tidak berhikmat akan bertindak gegabah, tidak berpengetahuan, cenderung membuat kesalahan, dan tidak memiliki masa depan yang baik untuknya.


Hikmat tetap lebih baik dari kebodohan. Pengkhotbah menyadari baik orang berhikmat maupun tidak, keduanya akan menjumpai nasib yang sama, yaitu kematian.


Lalu, perenungan akan alasan hidup berhikmat muncul karena orang berhikmat juga tetap akan mati seperti orang bodoh. Selanjutnya juga dijelaskan bahwa pengkhotbah membenci hidup.


Kebencian ini muncul akibat usahanya untuk terus mencari alasan penerapan hikmat yang lebih baik dari kebodohan. Mengapa kedua hal ini tetap memiliki ujung yang sama, yaitu kematian?


Tidak ada yang dapat dibawa kepada kekekalan. Semuanya begitu menyusahkan di bawah matahari dan terasa sia-sia.


Saat kita berusaha mencari makna di dalam dunia ini, bahkan pencarian akan hikmat yang kita pikir adalah hal yang baik, semua itu tidak dapat menghindarkan kita dari satu hal pasti dalam hidup, yaitu kematian.


Tidak ada manusia yang dapat menghindari ini. Pencarian makna berujung pada kesia-siaan. Tidak ada nilai dan hikmat dunia ini yang dapat dibawa ke akhirat.


Hanya satu yang kekal. Dia adalah Alalh kita, Allah Tritunggal yang kita sembah. Dia adalah Allah yang tidak pernah diciptakan, tidak memiliki awal akhir, dan bersifat kekal.


Apa yang kita cari dan kejar selama ini dalam hidup? Nilai apa yang dipahami dan diandalkan dalam hidup kita?


Siapa yang kita idolakan dan dijadikan dasar nilai dalam kehidupan kita? Apakah hal-hal itu mampu memberikan kepuasan sejati?


Pesan Firman Tuhan bagi kita:

1. Tidak ada hal yang kekal dalam hidup ini, tapi jika kita menyandarkan seluruh hidup dan nilai diri kita kepada panggilan dan kehendak Tuhan yang kekal, maka kehidupan kita jadi mampu untuk menemukan sesuatu yang bermakna.


Kita perlu bergantung pada hal yang kekal. Allah menciptakan kita dengan tujuan untuk kemuliaan-Nya. Hal yang Tuhan ingin kita jalani, tertulis di dalam Firman-Nya.


Roh Kudus senantiasa hadir, menyertai hidup, dan mengingatkan kita akan kehendak Allah.

Kita dipanggil untuk hidup bagi Dia.


2. Kita perlu untuk bergantung kepada hikmat Allah yang mampu memberikan nilai kekekalan.


Kita dapat menemukan makna dari kehidupan sejati, yang akan menuntun kita di dalam hal-hal yang bermakna dan berarti di dalam Tuhan.


Mari kita jalani kehidupan seperti yang tertulis di dalam Kolose 3:2-3.


Kolose 3:2-3


2 Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.


3 Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.


Doakan dan renungkan


*Pengkotabah berkata bahwa tidak ada kenang-kenangan kekal baik dari orang yang berhikmat, maupun dari orang yang bodoh, sebab orang berhikmat mati juga seperti orang yang bodoh.


* Hanya jika kita menyandarkan hidup kita pada panggilan dan kehendak Tuhan, maka kita mampu menemukan sesuatu yang bermakna kekal.


Mau hidup bermakna kekal?