Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Selasa, 04 November 2025

Tuhan Adalah Gembalaku


Pengkhotbah 2:1-11

Hikmat Dan Kebodohan Sia-Sia Belaka (Part 1).


Setiap kita diberikan anugerah oleh Allah untuk memiliki penghasilan atau uang dalam kehidupan.


Namun ketika kita menjadikan kekayaan sebagai dasar dari kepuasan kehidupan kita, apakah kita mampu untuk menemukan kepuasan yang sejati?


Ada sebuah survei yang dilakukan oleh sebuah perusahaan jasa keuangan di Amerika. Survei ini diberikan kepada 2.000 responden.


Hasilnya menunjukkan bahwa ada 7 dari 10 responden setuju dan sangat setuju dengan pernyataan “Memiliki lebih banyak uang akan menyelesaikan sebagian besar masalahnya.”


Jawaban ini diterima dari responden yang pendapatannya beragam, baik itu yang pendapatannya kecil maupun yang besar, bahkan yang pendapatannya hingga 3 miliar per tahun.


Dalam survei tersebut sebagian besar orang juga mengatakan bahwa dibutuhkan kenaikan gaji yang cukup signifikan untuk bisa memberikan kepuasan.


Para responden yang memiliki rata-rata gaji 1 miliar per tahun mengatakan bahwa gaji rata-rata 1,5 miliar per tahun bisa membuatnya lebih bahagia dan mengurangi stress.


Orang dengan penghasilan yang sangat tinggi dengan rata-rata 4 miliar per tahun mengatakan bahwa rata-rata pendapatan sekitar 5,7 miliar itu mampu membuatnya menjadi orang yang lebih bahagia.


Survei ini membawa kita pada sebuah perenungan, sebenarnya berapa banyak uang yang kita butuhkan untuk kita bisa merasa cukup dan bahagia?


Hari ini kita akan bersama-sama mempelajari dari firman Tuhan yang terambil dari:


Pengkhotbah 2:1-11


1 Aku berkata dalam hati: "Mari, aku hendak menguji kegirangan! Nikmatilah kesenangan! Tetapi lihat, juga itu pun sia-sia."


2 Tentang tertawa aku berkata: "Itu bodoh!", dan mengenai kegirangan: "Apa gunanya?"


3 Aku menyelidiki diriku dengan menyegarkan tubuhku dengan anggur, — sedang akal budiku tetap memimpin dengan hikmat —, dan dengan memperoleh kebebalan, sampai aku mengetahui apa yang baik bagi anak-anak manusia untuk dilakukan di bawah langit selama hidup mereka yang pendek itu.


4 Aku melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, mendirikan bagiku rumah-rumah, menanami bagiku kebun-kebun anggur;


5 aku mengusahakan bagiku kebun-kebun dan taman-taman, dan menanaminya dengan rupa-rupa pohon buah-buahan;


6 aku menggali bagiku kolam-kolam untuk mengairi dari situ tanaman pohon-pohon muda.


7 Aku membeli budak-budak laki-laki dan perempuan, dan ada budak-budak yang lahir di rumahku; aku mempunyai juga banyak sapi dan kambing domba melebihi siapa pun yang pernah hidup di Yerusalem sebelum aku.


8 Aku mengumpulkan bagiku juga perak dan emas, harta benda raja-raja dan daerah-daerah. Aku mencari bagiku biduan-biduan dan biduanita-biduanita, dan yang menyenangkan anak-anak manusia, yakni banyak gundik.


9 Dengan demikian aku menjadi besar, bahkan lebih besar dari pada siapa pun yang pernah hidup di Yerusalem sebelum aku; dalam pada itu hikmatku tinggal tetap padaku.


10 Aku tidak merintangi mataku dari apa pun yang dikehendakinya, dan aku tidak menahan hatiku dari sukacita apa pun, sebab hatiku bersukacita karena segala jerih payahku. Itulah buah segala jerih payahku.


11 Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu dengan jerih payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin; memang tak ada keuntungan di bawah matahari.


Di dalam pencarian akan makna kehidupan yang sejati di sini Pengkhotbah mencoba untuk mengalaminya sendiri.


Ketika ia mencoba untuk mendapatkan kekayaan dan kesenangan duniawi yang mungkin dia pikir mampu untuk memberikan makna kehidupan yang sejati.


Salah satu perikop bacaan kita hari ini adalah tentang kekayaan. Ia mencoba untuk mendapatkan segala sesuatu yang dia biasa miliki.


Dia membuat rumah, menanam kebun, memiliki kolam yang begitu indah, memiliki budak-budak wanita dan pria, sapi, kambing, domba, mengumpulkan emas dan perak, harta benda, mengambil para penyanyi pria dan wanita dan banyak selir sampai kemudian dia bisa mengatakan:



"Aku itu menjadi besar, bahkan lebih besar daripada siapapun yang hidup di Yerusalem. Aku tidak merintangi mataku dari apapun yang dikehendakinya, dan aku tidak menahan hatiku dari sukacita apapun, sebab hatiku bersukacita atas segala jerih payahku."


Meskipun Pengkhotbah itu menemukan kesenangan di dalam kemewahan dan kekayaan, tapi dia tetap mengatakan bahwa di dalam semuanya itu hikmat tetap tinggal padaku, artinya:


Dia melihat dan menjadikan proses untuk mencari kekayaan bukan hanya untuk kesenangan semata-mata,


tapi tetap dalam kesadaran utuh dia sedang menjadikan ini sebagai proses uji coba untuk mencari apa yang menjadi makna dalam kehidupan ini.


Sang pengkhotbah sendiri mengakui bahwa ada upah yang ia terima dari kerja kerasnya.


Semua yang dilakukan dan dimilikinya itu membawa sukacita kepadanya, tapi di ayat 11 kita bisa menjumpai hasil akhir dari eksperimen yang ia lakukan:


Pengkhotbah 2:11


11 Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu dengan jerih payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin; memang tak ada keuntungan di bawah matahari.


Ia menilik kembali untuk melihat apa yang telah ia lakukan, ia dapatkan, dan ia raih dengan susah payah, tapi sekali lagi dia menilai semua itu tidak ada gunanya, tidak ada keuntungan, semuanya sia-sia.


Meskipun ia menemukan sukacita dari pengujian itu, tetapi ketika dia melihat lagi dari luar, ia menyatakan bahwa semuanya tetap usaha menjaring angin.


Pengkhotbah mengajak kita kepada sebuah kesadaran hari ini,segala kekayaan yang kita upayakan dan kita raih, semuanya itu akan hanya berakhir pada kesia-siaan.


Kalau misalkan kita memperoleh kekayaan, kita bekerja dengan keras, begitu rupa, kemudian kita memperoleh kekayaan yang begitu melimpah, mungkin kita baru bisa menikmati kekayaan itu ketika kita sudah berusia tua nanti tapi apalagi yang kita bisa nikmati selain kita berikan hasil itu kepada generasi di bawah kita?


Atau kita bekerja dengan begitu kerasnya, berusaha untuk memperoleh kekayaan semaksimal mungkin, kemudian menghamburkannya kepada pesta pora, liburan yang mewah, barang-barang yang mewah atau makan mewah, itu semua hanya akan kembali lagi kita harus balik kerja, kemudian kita harus memperoleh uang supaya kita bisa liburan lagi.


Atau kita juga mengumpulkan materi-materi yang begitu mahal atau barang-barang branded, tapi itu semua pun juga akan usang oleh waktu dan tidak ada satupun barang yang kita bisa bawa ke dalam kehidupan kekal nantinya.


Ibaratnya, sama seperti ketika kita itu lapar dan haus, kemudian kita memuaskan rasa lapar dan haus itu dengan makan dan minum, tapi kemudian kita bisa merasa lapar dan haus lagi.


Itu menunjukkan kepada kita bahwa tidak akan ada habisnya kita berusaha untuk memperoleh makna hidup dari kekayaan.


Kemudian pertanyaannya, apakah berarti kita tidak boleh menikmati hasil dari pekerjaan kita? Apakah kita tidak boleh menghamburkannya untuk hal-hal yang kita senangi?


Bukan itu sebenarnya poin yang hendak disampaikan oleh Pengkhotbah:


1. Segala kenikmatan dan kesenangan yang kita alami di dunia ini, itu adalah anugerah dari Allah bagi kita.


2. Kesenangan yang kita dapatkan dari jeri payah kita, itu adalah upah/hadiah pemberian dari Allah dengan tujuan supaya kita melakukan kehendak Allah.


Dengan menerima kehidupan sebagai anugerah dari Tuhan, kita berusaha untuk tidak mengeksploitasikannya untuk keuntungan diri kita sendiri, maka kita baru bisa mengerti dan mampu untuk menemukan kepuasan yang sejati.


Tidak bisa kita pungkiri kehidupan kita itu tidak terlepas dari pekerjaan dan mendapatkan uang.


Tentu kita pun bisa merasa senang ketika kita memperoleh uang dalam kehidupan kita, dan kehidupan kita tidak terlepas dari mencari uang karena kita juga perlu untuk memenuhi kebutuhan kita, bukan?


Namun firman Tuhan hari ini mengajarkan kita bagaimana seharusnya kita mengelola kehidupan finansial kita.


Satu hal yang disampaikan oleh pengkhotbah, jangan sampai kita menyandarkan seluruh diri kita, kebergantungan diri kita pada uang dan materi yang kita miliki, karena itu semua tidak mampu untuk memberikan kepuasan yang sejati bagi kita.


Segala hal yang kita peroleh dan nikmati dalam dunia ini, itu semua adalah pemberian Allah.


Mari kita syukuri semua yang Allah cukupkan dalam kehidupan kita tanpa kita menjadi tamak atau berusaha untuk hidup dengan cara kita sendiri di dalam kegemilangan harta kita.


Mari gunakan semua pemberian Allah itu untuk tujuan Allah dan untuk memuliakan Allah.


Doakan dan renungkan


* Salomo berkata bahwa Ia tidak merintangi matanya dari apa pun yang dikehendakinya, dan hatinya dari sukacita apa pun, sebab hatinya bersukacita karena segala jerih payahnya.


* Tapi ketika ia meneliti segala usaha yang telah ia lakukan, ia menyadari bahwa segala sesuatu adalah kesia-siaan.


Pada akhirnya ku tinggal semua