Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
Pengkotbah 1:12-18
Pengalaman Pengkotbah mengenai hikmat
Tidak ada kehidupan manusia yang berjalan tanpa seizin Allah. Namun sering kali kita mempertanyakan mengapa Allah mengizinkan ini dan itu terjadi dalam kehidupan kita.
Akan tetapi manusia tidak akan pernah bisa mengubah kehendak dan hikmat Allah.
Apakah kita tahu istilah plot twist? Plot twist atau dalam bahasa Indonesianya: kejutan dalam cerita.
Ini adalah sebuah teknik penceritaan yang mengubah arah/hasil cerita menjadi ending atau hasil yang tidak terduga.
Biasanya saat menonton film atau membaca buku, saat awal membaca/menonton kita mengira-ngira ujung ceritanya akan menjadi seperti apa.
Tetapi kemudian setelah kita mengikuti film/pembacaan, eh ternyata adegan yang terjadi di akhir tidak kita sangka-sangka/harapkan.
Plot twist itu dibuat dengan tujuan supaya penonton atau pembaca menjadi lebih tertarik dengan ceritanya.
Bukankah terkadang kehidupan kita juga mengalami plot twist? Mungkin kita merancangkan/merencanakan sesuatu dalam kehidupan kita.
Kita sudah mempersiapkannya sedemikian rupa, berharap nanti ujung dari ceritanya itu akan berakhir sesuai ekspetasi kita.
Tetapi kadang-kadang ada juga hal-hal yang terjadi di luar dugaan, dan kejadian-kejadian itulah yang membuat kita frustasi/mungkin kecewa.
Namun ketika kita dihadapkan dengan kefrustasian dan kekecewaan itu, tidak jarang kita berusaha memperbaikinya dengan hikmat kita sendiri sebagai manusia.
Tetapi firman Tuhan berkata:“Sesungguhnya hikmat manusia tidak mampu untuk memahami kehidupan.”
Pengkotbah 1:12-18 (TB2)
12 Aku, Pengkotbah, adalah raja atas Israel di Yerusalem.
13 Aku membulatkan hatiku untuk memeriksa dan menyelidiki dengan hikmat segala yang terjadi di bawah langit. Itulah kesibukkan yang menyusahkan, yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk menyibukkan diri.
14 Aku telah melihat segala perbuatan yang dilakukan orang di bawah matahari, tetapi lihatlah, semua itu kesia-siaan dan usaha menjaring angin.
15 Yang bengkok tak dapat diluruskan, dan yang tidak ada tak dapat dihitung.
16 Aku berkata dalam hati, “Lihatlah, aku telah memperbesar dan menambah hikmat lebih dari pada setiap orang yang memerintah atas Yerusalem sebelum aku, dan aku telah memperoleh banyak hikmat dan pengetahuan.”
17 Aku telah membulatkan hatiku untuk memahami hikmat dan pengetahuan, kekonyolan dan kebodohan. Tetapi aku menyadari bahwa hal inipun usaha menjaring angin.
18 sebab di dalam banyak hikmat ada banyak kekesalan, dan siapa memperbanyak pengetahuan, memperbanyak kesedihan.
Setelah Pengkotbah membawa kita untuk menyadari bahwa kehidupan dibatasi oleh waktu;
pembacaan kita hari ini mengajak kita untuk melihat bahwa Pengkotbah itu mengalami sesuatu ketika dia meneliti, memeriksa, dan menyelidiki tentang hikmat.
Pengkotbah 1:13 (TB2)
13 Aku membulatkan hatiku untuk memeriksa dan menyelidiki dengan hikmat segala yang terjadii di bawah langit. Itulah kesibukkan yang menyusahkan, yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk menyibukkan diri.
Ketika dikatakan Allah memberikan kesibukkan dan menyusahkan, itu bukan berarti bahwa Allah dengan secara sengaja memberikan beban yang begitu berat kepada manusia, hanya ingin supaya manusia itu sengsara dan begitu berat menghadapinya.
Tetapi satu hal yang kita ketahui dan yakini bersama bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah atas seizin Allah.
Jika Allah tidak mengizinkan, maka hal itu tidak akan terjadi. Maka dalam hal ini, Pengkotbah sedang mengajarkan kepada kita bahwa segala sesuatu terjadi oleh karena izin Allah dan itu semua pemberian Allah.
Namun, bukankah sering kali kita menjumpai, mempertanyakan, kenapa Allah mengizinkan saya mengalami hal yang begitu berat? Kenapa pergumulan ini terjadi? Kenapa tantangan ini harus saya hadapi?
Tidak jarang kita berpikir/berkata:“Andai saja ini tidak terjadi, maka saya tidak perlu mengalami hal yang buruk seperti ini.”Atau mungkin kita bisa berkata:“Andai saja ini dan itu tidak terjadi/andai saja jalan cerita hidup saya berbeda, maka mungkin rasanya hidup saya akan lebih baik.”
Dalam kehidupan kita sebagai manusia, kita itu cenderung tidak bisa menerima kenyataan yang Allah izinkan terjadi dalam kehidupan kita.
Oleh karena itulah sang Pengkotbah mengatakan bahwa semuanya itu adalah sia-sia dan usaha menjaring angin.
Karena menolak untuk menerima kenyataan hanya akan menghasilkan ketidakbahagiaan dan kelelahan seperti usaha menjaring angin.
Tidak peduli seberapa keras kita berusaha untuk menjaring/menangkap angin, kita tidak akan pernah bisa melakukannya.
Pengkotbah 1:15 (TB2)
15 Yang bengkok tak dapat diluruskan, dan yang tidak ada tak dapat dihitung.
Artinya segala sesuatu yang telah terjadi tidak bisa kita upayakan untuk diubah, sebagaimana segala sesuatunya itu telah diatur oleh Allah atas seizinnya.
Dan istilah“yang tidak ada tak dapat dihitung”artinya kita tidak mungkin bisa menghitung apa yang tidak ada, apa yang kurang.
Artinya segala sesuatu yang kita kejar dalam kehidupan ini, yang kita pikir bisa untuk memuaskan keinginan, untuk mencapai jalan cerita kehidupan yang baik pasti akan selalu kurang.
Oleh karena itulah Pengkotbah mengatakan:“Tidak ada keuntungan dari seluruh kerja keras yang kita upayakan dengan cara pikir kita sendiri, itu semua akan selalu kurang dan akan selalu berujung kepada kesia-siaan.”
Pengkotbah di sini tidak hanya berhenti, dia hanya melihat dan mengobservasi kehidupan manusia, tetapi dia sendiri pun mecoba untuk mengalaminya untuk memperoleh hikmat dan pengetahuan.
Bahkan bukan hanya hikmat dan pengetahuan saja, tetapi dia juga mengalami kebodohan dan kekonyolan; sebagaimana kebodohan itu dipahami sebagai lawan kata dari hikmat.
Ia mencari tahu dan mendalami semuanya itu, tetapi tetap saja yang ia temukan hanyalah sebuah kesia-siaan belaka.
Pengkotbah 1:18 (TB2)
18 sebab di dalam banyak hikmat ada banyak kekesalan, dan siapa memperbanyak pengetahuan, memperbanyak kesedihan.
Satu hal yang Pengkotbah bisa konklusikan kepada kita, bahwa mendapatkan hikmat itu seperti mendapatkan berkat dan kutuk.
Ketika ia berusaha untuk memperoleh hikmat dan pengetahuan, ia juga menemui bahwa hikmat itu bukan sesuatu yang bisa ia genggam dan kendalikan, yang bisa membebaskan manusia dari kesibukkan yang menyusahkan.
Meskipun di satu sisi hikmat dan pengetahuan itu baik dan berguna, tetapi di sisi lain secara paradoks itu pun bisa memberikan kefrustasian dan kesedihan.
Untuk mendapatkan hikmat dan pengetahuan adalah seperti menambah penglihatan yang lebih jelas akan tragedi dari kehidupan manusia yang penuh dengan dosa.
Dengan demikian, kita diajak untuk memahami sekarang bahwa untuk mendapatkan hikmat yang tadinya kita pikir bisa menyelamatkan kita dari kesibukkan dan menyusahkan, ternyata hikmat manusia pun tidak mampu untuk memahami misteri kehidupan.
Ketika kita diperhadapkan dengan begitu banyak kesulitan dan pergumulan dalam kehidupan ini, siapa yang kita andalkan?
Sering kali kita bersandar pada pengertian kita sendiri, berusaha untuk mencari jalan keluar dengan cara kita sendiri.
Namun firman Tuhan menyatakan kepada kita, bahwa kita tidak mampu mengatur hidup yang Tuhan telah atur, hikmat dan pengetahuan kita terbatas, dan kita tidak mampu untuk memahami atau bahkan melampaui kedaulatan Allah.
Pesan Firman Tuhan bagi kita:
1. Allah mengizinkan segala sesuatu terjadi itu sebagai Allah yang baik, demi kemuliaan-Nya dan demi kebaikan kita.
Oleh karena itu, maukah kita percaya kepada- Nya dan bersandar kepada-Nya, dan tetap selalu bersandar kepadanya di dalam segala keadaan yang kita hadapi?
2. Mari kita menjalani hari kita dengan senantiasa bersandar kepada Allah kita, yaitu Penguasa dan Penolong kita satu-satunya yang bisa kita percaya dalam kehidupan kita.
Doakan dan renungkan
* Dalam kehidupan, kita sering tidak dapat menerima kenyataan yang Allah izinkan terjadi pada kita.
* Pengkotbah mengatakan bahwa menolak untuk menerima kenyataan hanya akan menghasilkan ketidakbahagiaan dan kelelahan seperti usaha menjaring angin.
Menerima kenyataan