Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Minggu, 02 November 2025

Tuhan Adalah Gembalaku

Pengkhotbah 1:4-11

Keteraturan dan akibatnya


Tidak ada satupun manusia yang hidup tidak dibatasi oleh waktu.


Waktu menjadi pertanda bahwa kehidupan manusia itu begitu terbatas. Namun dalam anugerah Allah, waktu diberikan Allah menjadi kesempatan bagi kita untuk hidup seturut panggilan-Nya.


Apakah ada diantara kita yang mengetahui dan mengenal nenek moyong kita?


Mungkin ada diantara kita yang punya family tree atau pohon keluarga yang dicatat turun temurun dari nenek moyang kita hingga saat ini.


Kita bisa melihat siapa namanya dan siapa keturunan kita dari atas, namun kita mungkin hanya bisa mengenali kehidupan orang tua, kakek nenek atau orang tua buyut kita.


Pertanyaannya, apakah kita pernah sungguh-sungguh bisa mengetahui apa yang diperbuat dan diperkatakan dengan jelas oleh orangtua buyut kita misalnya.


Apakah kita bisa mengetahui apa yang diperbuat oleh generasi sebelumnya dengan detail?


Mungkin mustahil bagi kita untuk bisa mengetahui apa yang diperbuat oleh mereka, dan itulah yang menjadi pertanda bahwa hidup kita dibatasi oleh waktu.


Hal inilah yang dilihat oleh pengkhotbah dan yang hendak dinyatakan kepada kita di dalam Firman-Nya:


Pengkhotbah 1:4-11


4 Keturunan yang satu pergi dan keturunan yang lain datang, tetapi bumi tetap ada.


5 Matahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru menuju tempat ia terbit kembali.


6 Angin bertiup ke selatan, lalu berputar ke utara, terus-menerus ia berputar, dan dalam putarannya angin itu kembali.


7 Semua sungai mengalir ke laut, tetapi laut tidak juga menjadi penuh; ke mana sungai mengalir, ke situ sungai mengalir selalu.


8 Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar.


9 Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.


10 Adakah sesuatu yang dapat dikatakan: "Lihatlah, ini baru!"? Tetapi itu sudah ada dulu, lama sebelum kita ada.


11 Kenang-kenangan dari masa lampau tidak ada, dan dari masa depan yang masih akan datang pun tidak akan ada kenang-kenangan pada mereka yang hidup sesudahnya.


Bukankah hal ini terdengar aneh buat kita? Kita menjalani kehidupan tanpa bisa mengetahui apa yang terjadi esok hari, maka apa yang terjadi esok hari tentu menjadi hal yang baru buat kita bukan?


Bahkan ada banyak hal yang belum kita ketahui hari ini dan yang kita bisa bilang bahwa kalau kita baru ketahui dikemudian hari itu adalah hal yang baru.


Pengkhotbah 1:9a mengatakan kepada kita, apa yang pernah ada akan ada lagi dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi.


Mungkin hal ini membingungkan bagi kita karena semua hal itu rasanya baru, apalagi dengan

berkembangnya zaman dan teknologi, yang dulu tidak ada tapi sekarang ada.


Pengkhotbah menyoroti bahwa tidak ada yang berubah dan tidak ada yang baru.


Matahari akan terbit dan akan terbenam kembali. Angin akan bertiup berputar dan akan berputar kembali. Sungai akan kembali mengalir ketempat sungai itu mengalir.


Sehingga menyadarkan kepada kita bahwa segala sesuatunya itu akan tetap sama.


Pengkhotbah 1:8 menyebutkan, manusia itu telah mengatakan hal yang sama berulang kali yaitu segala sesuatu itu melelahkan, sebab mata tidak pernah kenyang melihat dan telinga kita tidak pernah puas mendengar.


Seolah-olah pengkhotbah itu telah mengobservasi kehidupan manusia ribuan tahun yang lampau dan kehidupan manusia yang mendatang.


Bahwa semua manusia akan tetap mengatakan hal yang sama bahwa segala sesuatunya itu melelahkan. Manusia selalu akan mengeluh dan akan selalu merasa tidak puas.


Pada bagian ini pengkhotbah sedang mengajak kita untuk melihat pada yang namanya waktu.

Waktu adalah bagian dari kehidupan yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan.


Mungkin kita pernah berpikir bahwa apa yang kita capai dalam kehidupan adalah sesuatu yang mampu memberikan makna dalam kehidupan kita.


Tetapi pengkhotbah mengajak kita untuk menyadari bahwa semuanya itu akan habis termakan oleh waktu.


100 tahun kemudian mungkin tidak ada orang yang ingat atau peduli dengan apa yang kita perbuat/lakukan hari ini.


Pada dasarnya waktu akan menghapus saudara dan saya, termasuk semua hal yang kita pedulikan.



Dengan demikian menjadi masuk akal rasanya ketika segala sesuatunya baru bagi kita karena kita tidak bisa mengingat dan mengetahui hal-hal yang terjadi dimasa lampu dengan jelas dan terperinci.


Kalau kita bisa mengingat dan mengetahui dengan jelas, maka kita akan menyadari bahwa pola kehidupan manusia itu tetap berulang dan melakukan hal yang sama, tidak ada yang berubah.


Begitulah kehidupan manusia yang ada hingga hari ini, hal-hal bagi kita menjadi terasa baru karena hidup kita dibatasi oleh waktu.


Pengkhotbah mengajak kita untuk menyadari dan memahami bahwa dunia yang dicipkakan oleh Allah tidak pernah dirancang agar manusia itu bisa mencapai impian-impiannya sendiri.


Dunia tidak diciptakan agar manusia memiliki potensi menjadi pahlawan atas cerita hidupnya.

Tetapi Allah merancang kehidupan kita dengan tujuan yang mulia.


Pesan Firman Tuhan bagi kita:

1. Kehidupan kita dibumi dimaksudkan untuk berpusat pada Allah yang menciptakan segala sesuatu dan yang memegang segala sesuatu di tangan-Nya.

2. Allah memanggil kita untuk hidup mengasihi Dia, mengasihi sesama manusia dan merawat bumi ini.


Pada saat kita menyadari dengan utuh akan panggilan yang Allah percayakan kepada kita, maka tidak ada satu hal pun yang kita kerjakan yang berlalu tanpa makna yang berarti.


Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk kembali memeriksa hidup kita, bagaimana kita hidup selama ini?


Adakah kita hidup untuk diri kita sendiri? Atau kalaupun kita berusaha hidup untuk orang lain, nilai-nilai seperti apa yang kita tanamankan dalam pikiran kita.


Ingatlah bahwa kehidupan kita ini hanya sementara. Materi yang kita upayakan, jabatan yang kita usahakan, moralitas yang kita kerjakan itu semua akan habis termakan oleh waktu.


Tidak akan ada yang bisa memberikan kepada kita makna yang kekal. Hanya pada saat kita menyandarkan seluruh perbuatan kita di dalam Kristus dan dalam perancangan-Nya.


Maka Allah mampu untuk memberikan kepada kita kehidupan yang berarti meskipun dalam kesempatan hidup yang begitu sementara ini.


Dalam kesempatan waktu yang begitu singkat, dalam anugerah Allah yang diberikan dalam hidup kita, mari setia menjalaninya bersama-sama dengan Allah.


Allah yang begitu mengasihi kita, Ia mampu menyadarkan kita bahwa kehidupan kita berharga dimata-Nya.

Doakan dan renungkan


* Mungkin kita berpikir apa yang kita capai dalam kehidupan memberi makna kekal. Tetapi Pengkotbah memberitahukan bahwa semuanya itu akan habis termakan oleh waktu.


* Tidak ada yang bisa memberi kita makna kekal, kecuali kita menyandarkan seluruh perbuatan kita dalam Kristus dan dalam rancangan-Nya.


Ku mau hidupku bermakna