Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Kamis, 04 September 2025

Tuhan Adalah Gembalaku

Yesaya 2:1-5

Sion sebagai Pusat Kerajaan Damai


Ketika mendengar berita tentang peperangan, pernahkah muncul di benak Anda, kapan perang itu akan berakhir.


Mungkin pikiran itu tidak hanya muncul secara tiba-tiba, melainkan muncul di hasrat terdalam kita untuk memiliki kedamaian.


Mungkin kita tidak berada di dalam situasi perangan dengan senjata, tapi mungkin kita sedang mengalami peperangan di dalam diri kita.


Setiap hari kita mungkin harus berperang melawan tuntutan ekonomi yang semakin sulit. Mungkin berperang melawan ketidakadilan di tempat kerja. Melawan perang perasaan gelisah di dalam batin kita.


Mungkin di antara kita ada yang sedang mengalami pergumulan demikian, tapi ada juga beberapa orang yang merasa hidupnya baik-baik saja.


Jika kita semakin merenungkan kehidupan ini, apakah kehidupan ini nyatanya bisa menjamin kedamaian yang bersifat kekal? Atau sebenarnya hanya sementara?


Kita banyak mengenal istilahhealing, liburan,traveling,refreshing,yang intinya kita mau meninggalkan kesibukan yang penat untuk mengalami damai yang luar biasa.


Akan tetapi, berapa lama damai itu bisa bertahan di dalam kehidupan kita, ketika kita harus kembali kepada rutinitas kita.


Apakah ada damai yang sifatnya kekal selamanya?


Yesaya 2:1-5memberikan kita gambaran damai yang sifatnya kekal, yaitu damai di dalam kerajaan Allah.


Yesaya 2:1-5


1 Firman yang dinyatakan kepada Yesaya bin Amos tentang Yehuda dan Yerusalem.


2 Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung tempat rumah TUHAN akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana,


3 dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: "Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman TUHAN dari Yerusalem."


4 Ia akan menjadi hakim antara bangsa-bangsa dan akan menjadi wasit bagi banyak suku bangsa; maka mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang.


5 Hai kaum keturunan Yakub, mari kita berjalan di dalam terang TUHAN!



Yesaya 2 memperlihatkan, bahwa damai yang kekal tidak ditemukan di dalam diri, ataupun di luar diri. Tetapi dimulai, ketika kerajaan Allah ditegakkan di dalam hidup kita.


Di hari-hari mendatang, gunung tempat rumah Tuhan menjulang tinggi dan berdiri tegak di atas gunung-gunung dan bukit-bukit.


Gambaran ini bukan hanya sekadar penglihatan visual, tetapi merupakan dasar dari prinsip damai yang sejati.


Phrasa “di hari-hari mendatang”, menggambarkan waktu Tuhan, ketika Allah memerintah kekal nantinya.


Inilah janji dan jaminan yang diberikan Tuhan di dalam hidup kita, bahwa tidak akan ada pemerintahan yang bertahan selamanya, kecuali pemerintahan Allah saja.


Semua itu akan digenapi ketika Yesus datang kedua kalinya.


Bagaimana kita mengenal, bahwa sesungguhnya Yesus akan datang sebagai raja yang memberi kita damai yang kekal?


Salah satunya adalah dengan mengenal atribut Tuhan, yang sejajar dengan gambaran Yesus.


Sedikitnya ada 3 atribut, yang sejajar dengan gambaran Yesus, yaitu:


1. Tuhan yang mengajar.


Yesus adalah raja yang bijaksana, sehingga digambarkan bahwa segala bangsa datang kepada-Nya untuk belajar. Ayat ke-3 berbunyi:mari, kita naik ke gunung Tuhan, ke rumah Allah Yakub.


Dia mengajar kita, apa yang harus kita lakukan. Kita akan mengikut jalan-Nya, sebab Tuhan datang dari Yerusalem. Dia berbicara dari Sion.


Gambaran akan raja yang bijaksana juga bisa kita lihat dalam sosok Salomo.


Salomo adalah raja yang diberkati Tuhan dengan bijaksana dan hikmatnya. Sehingga kerajaan Israel pada masanya adalah rajanya, yang kokoh dan dikagumi oleh berbagai bangsa.


Bangsa-bangsa di luar Israel, berbondong-bondong datang mendengar hikmatnya, dan bahkan mempersembahkan barang-barang kepadanya.


Yesus juga adalah seorang pengajar, karena Dialah Allah, sumber hikmat itu sendiri. Panggilan ini dilegitimasi oleh saksi-saksi dan Yesus sendiri.


Misalkan ketika Nikodemus, seorang Farisi dan pemimpin Yahudi memanggil Yesus sebagai rabi, guru yang diutus dari Allah, katanya.


Sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Yesus adakan itu, jika Allah tidak menyertainya.


Panggilan rabi bukan panggilan yang biasa untuk sembarang orang, melainkan tanda gelar guru besar yang diakui dalam kalangan Yahudi.


Klaim dari Yesus sendiri, juga kita lihat dalam Yohanes 13:13, bahwa Yesus adalah guru, sekaligus Tuhan bagi para murid-Nya.


2. Tuhan yang mengadili bangsa-bangsa.


Mungkin sebagian orang hari ini mendengar kebenaran Tuhan sebagai hakim, tetapi mereka tidak mau mengakui Tuhan sebagai hakim dunia.


Mereka, sebagian orang ini, bahkan bisa memakai Yohanes 12:47, bahwa Yesus tidak datang untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya.


Akan tetapi, kita harus hati-hati dan menghindari sikap memotong ayat dan memahami konteks ayat firman Tuhan lebih utuh.


Yohanes 12:47 ditulis di dalam konteks kedatangan Tuhan Yesus yang pertama kali, yaitu kedatangan dengan tujuan untuk menggenapi karya keselamatan Allah, melalui karya salib.


Namun, kita ingat Yesaya 2 adalah gambaran hari terakhir, yang berbeda dengan kedatangan Yesus yang pertama.


Ini adalah kedatangan Yesus yang kedua, sehingga kita perlu mengaitkan juga dengan konteks yang sama, yaitu kedatangan Yesus yang kedua kali.


Jika kita mau konsisten, kita harus mengambil, bukan sekedar ayat 47 dalam Yohanes 12, tetapi juga ayat 48, yakni,barangsiapa menolak Yesus dan tidak menerima perkataan-Nya, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman.


Ayat ini lebih cocok merujuk pada Yesus, yang datang kedua kali. Yesus tetaplah hakim, dan Dia akan menjalankan pengadilan kepada setiap manusia di akhir waktu nanti.


Gambaran keadilan Tuhan, mungkin membuat kita gelisah saat ini, karena kita hidup dalam zaman yang menganggap tabu sikap saling menghakimi.


Akan tetapi, kita perlu selalu mengingat, bahwa setiap kasih Tuhan, tidak pernah melepas tanggung jawab kita untuk menghidupi firman-Nya.


Jika kita memiliki pasangan, bagaimana kita menilai pasangan kita baik atau tidak? Apakah dari parasnya? Atau dari pencapaiannya? Mungkin saja, kita bisa menilai dari situ.


Apakah dari pintarnya berbicara manis kepada kita? Mungkin saja. Apakah dari tindakannya yang selalu menyenangkan kita? Mungkin saja.


Tapi, apakah kita tetap bisa menilainya baik, jikalau dia selingkuh? Apakah kita bisa menilainya baik, jika dia tidak menunjukkan cintanya? Tentu semuanya itu akan menjadi palsu.


Terlebih lagi, ketika Tuhan mengenal kita. Tuhan tidak perlu pengagum ajarannya. Tuhan tidak perlu orang-orang Kristen yang mulutnya manis.


Tuhan tidak perlu penjilat-penjilat yang selalu menyibukkan diri seakan-akan rohani, padahal hidupnya jauh dari ajaran Tuhan.


Tuhan tidak butuh semua itu. Namun, Dia ingin kita setia mengikuti jalan-Nya.


Ingatlah, bahwa Tuhan mengetahui isi hati manusia. Hatinya manusia Tuhan tahu, sehingga Dia pun menghakimi manusia dengan adil, seturut dengan perbuatannya.


3. Tuhan yang adalah terang.


Yesus adalah terang dunia, dan barangsiapa mengikut Dia, tidak akan pernah berjalan di dalam kegelapan, tetapi akan mempunyai terang kehidupan.


Ayat ini bisa kita baca dalam Yohanes 8:12. Inilah janji Tuhan yang digenapi di dalam diri Yesus.


Bahwa setiap orang percaya akan berjalan dalam terang Tuhan, seperti yang ditulis di dalam Yesaya 2:5:Hai keturunan Yakub, mari kita berjalan dalam terang Tuhan!


Ayat ini bukanlah sebuah ayat yang ditujukan untuk mengajar kita semata, melainkan untuk mengajak kita kembali berjalan dalam jalan kebenaran Tuhan.


Dengan kata lain, ini sebenarnya adalah pangilan bertobat. Keturunan Yakub, bukan keturunan yang sifatnya darah, melainkan keturunan rohani orang percaya.


Jikalau kita meyebut diri sebagai orang percaya, tentunya kita juga akan senantiasa berjalan dalam terang Tuhan. Kita senantiasa berbalik dari jalan-jalan kegelapan kita.


Apakah saat ini kita hidup dalam terang Tuhan? Atau lebih tertarik dengan kiau-kilau dunia, yang palsu, kilau dunia dalam media sosial, kilau dalam kekayaan, kilau dari ketidakpedulian hidup, dan kilau-kilau hidup lainnya.


Yang sebenarnya adalah kegelapan di dalam dunia.


Berapa lama lagi kilau lampu itu akan bertahan sampai waktunya redup? Selama apa pun lampu itu menyala, di akhirnya akan meredup dan usang.


Namun, terang Tuhan bukanlah lampu yang akan padam, tetapi terang Tuhan adalah sumber cahaya yang tidak akan pernah padam.


Sumber yang selalu memberi kita harapan di tengah kegelapan dunia. Sumber yang memberi kita kedamaian yang sejati itu.


Pesan firman Tuhan bagi kita:


1. Mari kita kembali melekat dalam terang Tuhan, yaitu terang firman-Nya, yang menerangi jalan hidup kita.


2. Terang-Nya akan membawa kita kepada kerajaan kekal di akhir waktu nanti.


Pertanyaannya, maukah kita berjalan di dalam terang itu? Maukah kita berbalik dari kegelapan hidup kita?


Kiranya Yesus dan Roh Kudus di dalam hati kita, memampukan kita untuk berjalan hingga kedatangan Yesus kedua kalinya.


Doakan dan renungkan


* Hai kaum keturunan Yakub, mari kita berjalan di dalam terang TUHAN!


* Mari kita kembali melekat dalam terang Tuhan, yaitu terang firman-Nya, yang menerangi jalan hidup kita yang akan membawa kita kepada kerajaan kekal di akhir waktu nanti.


FirmanNya terangi jalanku