Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Selasa, 05 Agustus 2025

Tuhan Adalah Gembalaku

Filipi 1:15-18

Kesaksian Paulus Dalam Penjara (Part 2).

Suatu kebahagiaan ketika kita memulai hari ini bukan dengan ketidakpastian, namun dengan kepastian yang Allah sendiri berikan di dalam kebenaran firman Tuhan.


Hari ini kita akan membaca dan merenungkan firman Tuhan yang terambil dari surat Filipi 1:15-18, demikian firman Tuhan:


Filipi 1:15-18


15 Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakan-Nya dengan maksud baik.


16 Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, sebab mereka tahu, bahwa aku ada di sini untuk membela Injil,


17 tetapi yang lain karena kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas, sangkanya dengan demikian mereka memperberat bebanku dalam penjara.


18 Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita,


Dunia tempat kita tinggal adalah dunia yang dipenuhi dengan semangat kompetisi atau kalau mau dikatakan dunia yang dipenuhi dengan semangat untuk menunjukkan diri kitalah yang paling baik dibandingkan dengan orang lain.


Tidak heran, sangat sulit merasakan sukacita jika lingkungan pergaulan atau teman seperjuangan kita yang lebih berhasil daripada kita.


Sebaliknya pada umumnya, tentu tidak semuanya, kita pun mudah sekali bersusah hati atau berdukacita ketika kita tidak mampu memiliki apa yang teman-teman kita miliki ataupun ketika kita kehilangan sesuatu yang kita miliki.


Dengan kata lain, seringkali hidup kita dalam dunia ini ditentukan oleh value yang sifatnya sementara sehingga sukacita dan dukacita kita tergantung pada situasi dan kondisi kita hari demi hari.


Mari kita belajar value yang diajarkan atau value yang diungkapkan oleh Paulus secara khusus dalam surat Filipi 1:15-18, ada tiga value yaitu A, B, dan C sehingga kita mudah untuk mengingatnya.


1. Allah penentu hidup kita.


Filipi 1:16


16 Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, sebab mereka tahu, bahwa aku ada di sini untuk membela Injil,


Kalau kita perhatikan di ayat yang ke-16, kita sama-sama menemukan sebuah frasa yang bertuliskan seperti ini “Aku ada di sini untuk membela Injil.”


Bahasa Inggrisnya kata atau frasa “Aku ada di sini” itu punya arti “I am put here”


Sesuatu yang menunjukkan bahwa Paulus ada di dalam penjara itu memang sudah dimaksudkan, atau ditetapkan, ditentukan untuk sesuatu, dalam hal ini berhubungan dengan membela Injil.


Filipi 1:17


17 tetapi yang lain karena kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas, sangkanya dengan demikian mereka memperberat bebanku dalam penjara.


Di ayat yang ke-17 kita bisa sama-sama lihat bagaimana ada kelompok orang yang berusaha untuk memperberat hukuman Paulus di penjara, namun Paulus tidak ambil pusing, Paulus tidak kehilangan sukacita karena hal itu.


Kenapa? Karena dia tahu yang menentukan hidup dia bukanlah kelompok orang-orang tertentu, tetapi Allah sendiri, sehingga apapun yang terjadi di dalam kehidupan Paulus tersebut mengajarkan kepada kita bahwa:


Hidup kita ini bukan sebuah kebetulan, bukan sebuah kecelakaan, tetapi hidup kita ditentukan oleh kedaulatan Allah, sehingga kalau kita masuk dari A, maka kita akan masuk ke dalam B.


2. Beritakanlah Injil.


Value atau nilai atau prinsip ini juga harus ada di dalam kehidupan kita sebagai orang-orang percaya.


Mengapa? Jangan pernah lupa Paulus menyadari dirinya berharga karena berita Injil itu, dirinya berharga karena mendapatkan keselamatan daripada Kristus.


Kristus yang telah mati kemudian bangkit menjumpai Saulus yang kemudian menjadi Paulus.


Paulus merasa berbahagia, hidupnya bernilai bukan karena sesuatu yang dia punya, tetapi karena dia diselamatkan oleh Kristus itu sendiri.


Waktu Paulus berkata untuk membela Injil, maka di dalam pemikiran Paulus yang dipenjara bukanlah dirinya, tetapi Injil itu sendiri.


Sehingga dia mau membela dan menyatakan bahwa Injil adalah sesuatu yang berharga, sesuatu yang bernilai kekal. Membela dalam bagian ini adalah memberitakan atau memperkenalkan akan Injil tersebut.


Injil adalah kabar baik yang Allah berikan bagi kita, maka sudah sepatutnyalah sukacita kita bukan lagi ditentukan oleh hal-hal yang sementara, tetapi bagaimana Injil itu bisa disebarkan.


Kalau sudah A (Allah penentu hidup kita), B (Beritakanlah Injil), maka yang ketiga adalah C.


3. Cukupkan hidup kita dengan Kristus.


Filipi 1:18


18 Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita,


Di ayat ke-18 Paulus mengulang dua kali kata sukacita “Sukacita dan akan tetap bersukacita.”


Dalam ayat 18 menunjukkan bahwayang menjadi prioritas dalam hidup Paulus adalah Injil itu sendiri.


Sukacita dan dukacita Rasul Paulus tidak terletak pada apa yang sedang ia alami atau miliki, ia tidak menyandarkan hidupnya pada hal-hal yang sifatnya sementara.


Sekali waktu saya pernah membaca sebuah ilustrasi berkaitan dengan minuman soda yang punya harga berbeda ketika di pasar, di swalayan, ataupun di bandara, ditentukan dari apa?


Dari tempat, itu adalah minuman bersoda, bukankah hidup kita itu lebih berharga daripada minuman bersoda?


1. Hidup kita berharga karena Allah yang menentukan hidup kita.


2. Beritakanlah Injil, jangan pernah lupa kita diselamatkan oleh karena Injil dan karya Kristus.


3. Cukupkanlah hidup kita dengan Kristus.


Ini adalah prinsip yang akan menolong kita, tidak mudah kehilangan sukacita dengan apa yang terjadi dalam kehidupan kita hari lepas hari.


Memang tidak mudah, namun sekali lagi kita tidak menjalaninya sendirian, Tuhan akan menyertai kita, Roh Kudus akan menopang hidup kita.


Doakan dan renungkan


* Selama Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur, Paulus tetap bersukacita.


*Sukacita Paulus, yang sedang dalam penjara, tidak terletak pada apa yang sedang ia alami karena yang menjadi prioritas dalam hidupnya adalah Injil itu sendiri.


Sukacita karena Injil