Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Selasa, 22 Juli 2025

Tuhan Adalah Gembalaku


Amsal 17:16-19

Kumpulan Amsal-Amsal Salomo (Part 63).

Di dalam dunia yang serba cepat seringkali juga kehidupan menjadi serba individualis, persahabatan sejati menjadi sesuatu yang mungkin langka.


Kita mudah dikelilingi banyak kenalan, tetapi berapa banyak yang tetap tinggal ketika kita mengalami keadaan yang buruk.


Firman Tuhan hari ini membawa kita merenungkan, apa sih arti menjadi sahabat sejati? dan bagaimana mengenali kasih yang bertahan di dalam kesukaran?


Mari kembali kita memperhatikan


Amsal 17:16-19


16 Apakah gunanya uang di tangan orang bebal untuk membeli hikmat, sedang ia tidak berakal budi?


17 Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.


18 Orang yang tidak berakal budi ialah dia yang membuat persetujuan, yang menjadi penanggung bagi sesamanya.


19 Siapa suka bertengkar, suka juga kepada pelanggaran, siapa memewahkan pintunya mencari kehancuran.


Ayat ke-16 berbicara tentang orang bodoh yang ingin membeli hikmat, tetapi tidak punya hati untuk menerimanya.


Ini gambaran tentang seseorang yang hanya mengejar hal-hal yang lahiriah (Uang, status, harta, dan kedudukan), tanpa orang ini mau belajar untuk bisa hidup berhikmat.


Ini menjadi latar bagi ayat selanjutnya, karenahikmat bukan sekedar dipelajari, tetapi juga bisa dijalani.


Ayat 17 menghadirkan kontras yang indah di mana “Seorang sahabat menaruh kasih di setiap waktu, dan menjadi seorang saudara di dalam kesukaran.”


Ini adalah hikmat yang tampak nyata di dalam relasi, di mana persahabatan sejati tidak hanya hadir di saat-saat senang, di saat-saat penuh tawa.


Tetapi sahabat yang sejati itu tetap setia saat air mata itu mengalir, saat kesulitan itu datang, saat mungkin keterpurukan, kehancuran itu hadir.


Kasih yang benar itu diuji bukan di dalam kenyamanan, tetapi di dalam kesukaran.


Apakah selama ini kita menjadi orang yang benar-benar menjadi sahabat bagi yang lain?


Menjadi teman, berelasi bukan karena ada maunya, bukan karena untuk mendapatkan sebuah keuntungan untuk diri kita, tapi sungguh-sungguh untuk membangun relasi.


Sungguh-sungguh untuk mau membangun satu dengan yang lainnya, sungguh-sungguh untuk menunjukkan kasih, bukan karena ada maunya.


Kemudian di ayat 18 mengingatkan kita kepada kebodohan yang lain, dikatakan “Orang yang tidak berakal budi ialah dia yang membuat persetujuan, yang menjadi penanggung bagi sesamanya.”


Artinya seseorang yang asal setuju, ya setuju/oke setuju, atau terlalu mudah memberi jaminan tanpa pertimbangan.


Jaminan itu bisa uang atau jaminan yang lain, menunjukkan kurangnya bijaksana dalam sebuah relasi dan juga tanggung jawab. Bahkan niat baik pun harus ditimbang dengan bijaksana.


Pasti kita mungkin sering ingin membantu orang, menolong yang lain, tapi kita perlu memutuskan dengan bijaksana.


Jangan sampai ini akhirnya menjadi sesuatu yang buruk, kita perlu mempertimbangkannya dengan bijaksana.


Di ayat ke-19 di sini memperlihatkan sikap yang menghancurkan, orang yang suka bertengkar, suka pelanggaran.


Kalau di ayat ke-14 menekankan kasih dan kesetiaan, maka di ayat yang ke-19 ini kebalikannya.


Orang-orang ini suka memicu konflik, menyukai drama dalam kehidupan nyata, bukan drama dalam film, suka dengan pertikaian, pertengkaran.


Meninggikan pintu bisa berarti meninggikan diri, sombong, keras kepala, dan sulit untuk bisa diajak berdamai, akibatnya kehancuran.


Semua ayat ini mengajarkan kita:

1. Hikmat terlihat di dalam kesetiaan persahabatan.


2. Hikmat terlihat di dalam tanggung jawab terhadap orang lain.


3. Hikmat terlihat di dalam kerendahan hati yang menjaga damai.


Bayangkan ada dua orang yang bersahabat tinggal di sebuah daerah yang sama. Kemudian suatu hari banjir besar itu datang dan memutus jembatan satu-satunya.


Banyak orang memilih menunggu air surut, tetapi si sahabat ini memilih berenang menyeberangi arus yang deras hanya untuk memastikan apakah sahabatnya itu baik-baik saja.


Begitulah kasih yang sejati tidak mundur saat kesulitan datang, tetapi justru datang untuk bisa lebih dekat.


Siapa sahabat sejati dalam hidup kita? Dan kepada siapa kita bisa menjadi sahabat yang hadir bukan hanya saat tertawa, tetapi juga saat menangis?


Mungkin hari ini Tuhan sedang menempatkan kita di posisi untuk memberikan kekuatan kepada sahabat yang sedang lemah.


Menjadi telinga yang mau mendengar bagi sahabat kita, atau sekedar hadir tanpa banyak kata-kata tetapi dengan kasih yang nyata.


1. Jangan takut untuk hadir di tengah-tengah kesukaran, karena di situlah kasih Tuhan seringkali dinyatakan dan dirasakan.


2. Hari ini, jadilah sahabat yang penuh kasih bukan hanya hadir saat tenang, tetapi tetap tinggal saat susah, bukan hadir untuk menghakimi atau menyalahkan, tetapi hadir untuk membawa damai
.


Belajarlah berhikmat dalam relasi karena kasih yang sejati dibangun oleh hikmat dari Tuhan.


Doakan dan renungkan


*Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.


* Ini lah hikmat yang tampak di dalam relasi, di mana sahabat sejati tidak hanya hadir di saat-saat senang, penuh tawa. Tetapi saat air mata mengalir, kesulitan, keterpurukan, bahkan kehancuran.


Aku kah sahabatnya?