Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
Kejadian 2:18-25
Manusia Dan Taman Eden (Part 2).
Pernahkah kita merasa sendirian di tengah banyaknya orang? Mungkin kita punya teman, kita punya rekan kerja, ataupun keluarga tetapi tetap merasa ada kekosongan dalam hati kita?
Seorang pria, misalnya saja: bernama Daniel, ia memiliki karir yang sukses tetapi ia sering merasa ada yang kurang dalam hidupnya.
Suatu hari ia berkata aku punya segalanya pekerjaan, uang, teman tetapi kenapa aku masih merasa kosong?
Kesendirian bukan hanya soal ada atau tidaknya orang di sekitar kita, Tuhan sendiri tahu bahwa manusia membutuhkan hubungan yang sejati bukan sekedar kebersamaan.
Mari kita bersama-sama membaca dari:
Kejadian 2:18-25
18 TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."
19 Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu.
20 Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.
21 Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging.
22 Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.
23 Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki."
24 Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.
25 Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.
Kita baru saja membaca satu bagian Firman Tuhan, tentang bagaimana Allah merancang hubungan manusia, khususnya dalam pernikahan, tetapi juga dalam kehidupan sosial kita.
Dalam bagian Firman yang kita baca, kita mengetahui bahwa:
1. Allah menyadari kebutuhan manusia akan pasangan.
Sebelum kejatuhan dalam dosa segala sesuatu di dunia adalah baik, namun ada satu hal yang Tuhan Katakan tidak baik yaitu kesendirian manusia.
Kenapa? Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial, di mana manusia perlu berelasi dengan yang lain, kemudian Allah sendiri adalah Allah Tritunggal, hidup dalam persekutuan yang sempurna.
Kesendirian yang berkepanjangan juga bisa membuat seseorang merasa kosong dan kehilangan arah.
Tuhan mengerti kebutuhan kita akan hubungan yang sehat, ini bukan hanya tentang pernikahan, tetapi juga tentang persekutuan dalam komunitas, dan gereja.
Apakah kita sudah membangun sebuah hubungan yang sehat dengan orang-orang di sekitar kita?
2. Allah menyediakan pasangan yang sepadan.
Allah tidak menciptakan Hawa dari debu tanah seperti Adam, tetapi dari tulang rusuknya Adam, ini menunjukkan kesetaraan diantara mereka.
Hawa tidak diambil dari kepala Adam, untuk memerintah atasnya, juga tidak dari kakinya untuk diinjak-injak, ia diambil dari rusuk dekat dengan hati sebagai mitra yang setara di dalam kasih.
Dari sini juga kita melihat bahwa Adam dan Hawa tidak identik tetapi dirancang untuk melengkapi satu dengan yang lainnya.
Di sana ada perbedaan dalam sifat, peran, dan karakter, di mana ini adalah bagian dari rancangan Tuhan, karena itu di dalam pernikahan suami dan istri harus saling melengkapi bukan bersaing.
Hubungan yang sehat bukan didasarkan pada dominasi, tetapi pada kasih dan saling mendukung.
Apakah kita menghargai pasangan kita atau orang-orang di sekitar kita sebagai mitra yang memang Tuhan tempatkan di sisi kita?
3. Allah mendirikan pernikahan sebagai hubungan yang kudus.
Ayat ini adalah fondasi Alkitabiah tentang pernikahan, tiga prinsip utama dari pernikahan yang Tuhan rancangkan:
1. Meninggalkan
Artinya suami dan istri membangun hubungan kehidupan yang baru, yang terpisah dari otoritas orangtua mereka. Bukan berarti mengabaikan orangtua, tapi ada pergeseran prioritas dalam tanggung jawab.
2. Bersatu
Artinya pernikahan adalah komitmen yang tidak bisa diputuskan begitu saja, ikatan yang Tuhan tetapkan untuk seumur hidup.
3. Menjadi satu daging
Artinya bukan hanya persatuan fisik, tetapi kesatuan di dalam jiwa, emosi dan juga visi hidup.
Efesus 5:31-32
31 Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
32 Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.
Kejadian 2:25
25 Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.
Sebelum dosa masuk ke dalam dunia Adam dan Hawa hidup dalam keterbukaan tanpa rasa malu ataupun takut.
Apa artinya? Di sini tidak ada kepura-puraan mereka hidup dalam transparansi yang penuh kasih, tidak ada ketakutan, hubungan mereka dibangun dalam kepercayaan yang murni.
Hubungan yang sehat membutuhkan keterbukaan dan kepercayaan.
Apakah kita sudah menghidupi hubungan yang sesuai dengan rancangan Tuhan? Jika kita sudah menikah, apakah kita menghargai dan membangun pernikahan dalam kasih Tuhan?
Jika kita belum menikah, apakah kita siap membangun hubungan yang berpusat kepada Tuhan?
Apakah kita memiliki komunitas yang mendukung pertumbuhan Iman kita? Karena itu hari ini, mari kita berkomitmen untuk menghargai setiap hubungan yang Tuhan berikan kepada setiap kita, baik dalam keluarga, gereja, maupun komunitas.
Doakan dan renungkan
*Kesendirian bukan hanya soal ada atau tidaknya orang lain di sekitar kita. Tuhan tahu bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yang perlu berelasi dengan sesama manusia.
*Untuk itu Tuhan menyediakan persekutuan dalam komunitas dan gereja. Sudahkah kita menjadi bagiannya?
Kita Tidak Sebatang Kara