Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
2 Korintus 12:1-10
Paulus menerima penglihatan dan penyataan
Bersaksi tentang Kristus di dalam pengalaman hidup kita adalah hal yang sangat penting, agar orang lain boleh mengenal siapa Kristus yang mengasihi kita.
Pengalaman rohani bersama Tuhan Yesus, merupakan hal yang berharga bagi setiap orang percaya.
Sebagaimana pengalaman rohani dari murid-murid Tuhan Yesus, pada gereja mula-mula, setelah Kristus bangkit dari antara orang mati.
Pengalaman rohani yang kita saksikan bukan merupakan hal yang harus dialami orang lain, persis dengan yang kita alami.
Sebab Tuhan memperlakukan setiap pribadi dengan cara yang unik, sesuai dengan kehendak-Nya.
Pengalaman rohani kita secara pribadi, tidak mengindikasikan bahwa kita lebih penting atau berharga daripada orang lain.
Tuhan juga memberikan pengalaman rohani yang berharga dalam diri orang-orang percaya lainnya.
Betapa penting ketika kita bersaksi tentang pengalaman hidup kita dengan Tuhan, perlu kita lakukan dengan hikmat Tuhan.
Hal ini agar semuanya itu membawa kemuliaan bagi nama Tuhan dan membawa orang mengenal Tuhan.
2 Korintus 12:1-10
1 Aku harus bermegah, sekalipun memang hal itu tidak ada faedahnya, namun demikian aku hendak memberitakan penglihatan-penglihatan dan penyataan-penyataan yang kuterima dari Tuhan.
2 Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau — entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya — orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga.
3 Aku juga tahu tentang orang itu, — entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya --
4 ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia.
5 Atas orang itu aku hendak bermegah, tetapi atas diriku sendiri aku tidak akan bermegah, selain atas kelemahan-kelemahanku.
6 Sebab sekiranya aku hendak bermegah juga, aku bukan orang bodoh lagi, karena aku mengatakan kebenaran. Tetapi aku menahan diriku, supaya jangan ada orang yang menghitungkan kepadaku lebih dari pada yang mereka lihat padaku atau yang mereka dengar dari padaku.
7 Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.
8 Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku.
9 Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.
10 Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.
Rasul Paulus enggan menceritakan pengalaman yang luar biasa. Dia memakai orang ketiga untuk menceritakan pengalaman tersebut.
Rasul Paulus sangat berhati-hati menceritakan pengalaman rohaninya agar dia tidak mencuri kemuliaan Allah.
Pesan Firman Tuhan bagi kita:
1. Bersaksi akan apa yang kita alami bersama dengan Tuhan, patut kita lakukan dengan cermat agar kesaksian tersebut membawa orang yang mendengarnya untuk memuliakan Tuhan, bukan justru mengagungkan diri kita.
2 Korintus 12:6
6 Sebab sekiranya aku hendak bermegah juga, aku bukan orang bodoh lagi, karena aku mengatakan kebenaran. Tetapi aku menahan diriku, supaya jangan ada orang yang menghitungkan kepadaku lebih dari pada yang mereka lihat padaku atau yang mereka dengar dari padaku.
Hal yang disampaikan Rasul Paulus bisa menjadi cara pandang kita. Bukankah kita mengatakan yang benar bahwa kita tidak berbohong? Itu adalah pengalaman hidup kita.
Rasul Paulus mengatakan,”Sebab sekiranya aku hendak bermegah juga, aku bukan orang bodoh lagi, karena aku mengatakan kebenaran…”
Pengalaman Rasul Paulus yang luar biasa tersebut adalah kebenaran, dia tidak berbohong. Namun, mengapa Rasul Paulus bercerita dengan secermat-cermatnya?
Rasul Paulus berkata, “…Tetapi aku menahan diriku, supaya jangan ada orang yang menghitungkan kepadaku lebih dari pada yang mereka lihat padaku atau yang mereka dengar dari padaku.”
Salah satu bahaya saat kita bercerita pengalaman yang luar biasa adalah persepsi orang tentang diri kita.
Jangan sampai ada orang yang memperhitungkan Rasul Paulus lebih daripada apa yang mereka lihat dan dengar dari Rasul Paulus, sehingga bukan Tuhan yang ditinggikan. Namun, Rasul Paulus yang dikultuskan.
Hal ini harus kita waspadai, sebagai orang percaya kita adalah saksi Kristus. Pusatnya adalah Kristus, bukan sang saksi itu.
Kita bersaksi tentang Kristus, maka pusatnya adalah meninggikan Kristus, bukan diri kita.
Saat kita mau bersaksi, kita harus melakukan dengan hikmat Tuhan, secermat-cermatnya dan menjaga diri kita. Hal ini supaya kita tidak mencuri kemuliaan Tuhan.
Kita sungguh-sungguh sampaikan agar orang mengenal Kristus, kasih-Nya, kuasa-Nya dan kebenaran-Nya.
2. Tuhan tidak selalu menjawab permohonan kita dengan cara yang sama, namun satu hal yang harus kita insafi kasih karunia Tuhan itu cukup bagi kita apapun jawaban Tuhan bagi kita.
2 Korintus 12:8-10
8 Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku.
9 Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.
10 Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.
Rasul Paulus mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan seperti yang kita alami, yaitu ketika Tuhan tidak mengabulkan permohonannya.
Tuhan menjawab Rasul Paulus dengan jawaban yang melampaui pengabulan doanya.
Tuhan berkata,"Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna…"
Kemungkinan hal yang didoakan Rasul Paulus sampai tiga kali adalah penyakit yang dialami dan mengganggu dirinya.
Tuhan berkata kepada dia bahwa saat dia berada dalam kelemahannya, maka kuasa dan kasih karunia Tuhan berlipat kali ganda dari kelemahannya.
Maka, Tuhan katakan bahwa kasih karunia-Nya cukup bagi Rasul Paulus.
Hal ini berarti saat Tuhan tidak mengabulkan doa Rasul Pulus, jika dibandingkan dengan Tuhan mengabulkan doanya, maka doa yang tidak terkabul tersebut, menunjukkan kasih karunia Tuhan yang berlimpah-limpah bagi Rasul Paulus dengan kuasa yang sempurna.
Ketika Rasul Paulus merasa penyakitnya menjadi halangan, Tuhan sampaikan bahwa hal itu tidak berarti di dalam pelayanannya kepada Tuhan, karena kasih karunia dan kuasa Tuhan meliputi dia.
Tuhan tidak selalu menjawab permohonan kita, tetapi Dia memberi lebih dari apa yang kita panjatkan kepada Dia.
Seringkali saat Tuhan tidak mengabulkan doa kita, kita merasa hal tersebut merupakan penghalang, sesuatu yang gelap dan berbahaya dalam hidup kita.
Saat Tuhan tidak mengabulkan permohonan kita, mari kita mengingat bahwa kasih karunia Tuhan melampaui seluruh kesulitan, halangan, penderitaan, kekhawatiran dan ketakutan kita.
Kasih karunia dan kuasa Tuhan itu selalu berlipatkaliganda dari apa yang kita panjatkan kepada Tuhan.
Maka, Rasul Paulus berkata, “Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.”
Rasul Paulus menjadi kuat karena kasih karunia Tuhan yang berlimpah-limpah itu.
Doakan dan renungkan
* Bersaksi akan apa yang kita alami bersama Tuhan, patut kita lakukan dengan cermat agar orang yang mendengarnya memuliakan Tuhan, bukan malah mengagungkan diri kita.
* Demikian yang dilakukan oleh rasul Paulus. Ia ingin agar orang memperhitungkan dirinya hanya sebatas apa yang mereka lihat dan dengar, sehingga orang tidak mengkultuskan dirinya.
Yang hebat ya Tuhan