Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG

Renungan Harian
GKY Mangga Besar

Sabtu, 15 Juni 2024

Tuhan Adalah Gembalaku


2 Tawarikh 22

Raja Ahazia; Ahazia dibunuh Yehu


Firman Tuhan menasihati kita, agar kita tidak menjadi orang yang sombong atau angkuh.


Alkitab memberitahukan, siapakah yang menjadi lawan orang yang sombong dan angkuh? Tuhan-lah yang akan menjadi lawannya.


Pada saat kita mendengarkan orang-orang yang menentang Tuhan, kita mendapati kesan, bahwa terdapat kebanggaan dan kesombongan tersendiri.


Kita dapat memberikan argumentasi atas ketidakpercayaannya kepada Tuhan.


Bahkan ada orang tertentu menyatakan ketidakpercayaannya kepada Tuhan dalam bentuk yang lebih sarkastik atau kekerasan dan merasa diri begitu berkuasa, sehingga dapat melakukan perkara-perkara seperti itu.


Bagaimanakah kita sebagai orang percaya merespon terhadap apa yang kita saksikan itu?


Rasul Paulus bersedih menyaksikan orang-orang yang tidak percaya kepada Kristus. Alkitab juga mencatat, bahwa Tuhan Yesus bersedih melihat bangsa Israel tidak mau percaya dan datang kepada-Nya.


Kita sebagai orang percaya sepatutnya bersedih dan berdukacita, sebab kita tahu bahwa manusia seperti itu sedang berada di dalam kebutaan dan kematian rohani.


2 Tawarikh 22


1 Lalu penduduk Yerusalem mengangkat Ahazia, anaknya yang bungsu, menjadi raja menggantikan dia, karena semua anaknya yang lebih tua umurnya telah dibunuh oleh gerombolan yang datang ke tempat perkemahan bersama-sama orang-orang Arab. Dengan demikian Ahazia, anak Yoram raja Yehuda, menjadi raja.


2 Ahazia berumur empat puluh dua tahun pada waktu ia menjadi raja dan setahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Atalya, cucu Omri.


3 Ia pun hidup menurut kelakuan keluarga Ahab, karena ibunya menasihatinya untuk melakukan yang jahat.


4 Ia melakukan apa yang jahat di mata TUHAN sama seperti keluarga Ahab, sebab sesudah ayahnya mati mereka menjadi penasihat-penasihatnya yang mencelakakannya.


5 Atas nasihat mereka pula ia pergi bersama-sama Yoram bin Ahab, raja Israel, untuk berperang melawan Hazael, raja Aram, di Ramot-Gilead. Tetapi orang-orang Aram melukai Yoram.


6 Kemudian pulanglah ia ke Yizreel untuk diobati oleh karena luka-luka yang didapatnya di Rama pada waktu ia berperang melawan Hazael, raja Aram. Dan Ahazia, anak Yoram raja Yehuda, pergi menjenguk Yoram bin Ahab di Yizreel, karena dia sakit.


7 Telah ditentukan Allah, bahwa Ahazia akan menemui ajalnya pada waktu ia mengunjungi Yoram; maka ketika Ahazia datang, pergilah ia bersama-sama Yoram mendapatkan Yehu, cucu Nimsi, yang telah diurapi TUHAN, supaya dialah yang melenyapkan keluarga Ahab.


8 Sementara Yehu melakukan penghukuman atas keluarga Ahab, ia menjumpai pembesar-pembesar Yehuda dan anak-anak saudara-saudara Ahazia, yang melayani Ahazia. Juga mereka dibunuhnya.


9 Lalu ia mencari Ahazia; Ahazia tertangkap ketika ia bersembunyi di Samaria. Ia dibawa kepada Yehu, lalu dibunuh, tetapi dikuburkan juga, karena kata orang: "Dia ini cucu Yosafat, yang mencari TUHAN dengan segenap hatinya." Dari keluarga Ahazia tidak ada lagi yang sanggup memerintah.


10 Ketika Atalya, ibu Ahazia, melihat bahwa anaknya sudah mati, maka bangkitlah ia membinasakan semua keturunan raja dari kaum Yehuda.


11 Tetapi Yosabat, anak perempuan raja, mengambil Yoas bin Ahazia, menculik dia dari tengah-tengah anak-anak raja yang hendak dibunuh itu, memasukkan dia dengan inang penyusunya ke dalam gudang tempat tidur. Demikianlah Yosabat, anak perempuan raja Yoram, isteri imam Yoyada, — ia adalah saudara perempuan Ahazia — menyembunyikan dia terhadap Atalya, sehingga ia tidak dibunuh Atalya.


12 Maka tinggallah Yoas enam tahun lamanya bersama-sama mereka dengan bersembunyi di rumah Allah, sementara Atalya memerintah negeri.


“Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” peribahasa ini dapat kita rasakan di dalam kisah yang kita baca.


Raja Ahazia menjadi Raja Yehuda, yang merupakan putra dari Yoram dan ibunya bernama Atalya. Atalya adalah putri dari Raja Ahab.


Kelakuan Atalya, ibu Ahazia, persis sama dengan Raja Ahab, termasuk dengan ayahnya, Yoram, Raja Israel, putra dari Ahab.


Ahazia dan Yoram, Raja Israel, putra Ahab merupakan koalisi yang pas dan cocok, namun tidak lagi cocok menjadikan umat Tuhan karena tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.


Pesan Firman Tuhan bagi kita:


1. Kebinasaan rohani mendahului kebinasaan kekal.


2 Tawarikh 22:5-9


5 Atas nasihat mereka pula ia pergi bersama-sama Yoram bin Ahab, raja Israel, untuk berperang melawan Hazael, raja Aram, di Ramot-Gilead. Tetapi orang-orang Aram melukai Yoram.


6 Kemudian pulanglah ia ke Yizreel untuk diobati oleh karena luka-luka yang didapatnya di Rama pada waktu ia berperang melawan Hazael, raja Aram. Dan Ahazia, anak Yoram raja Yehuda, pergi menjenguk Yoram bin Ahab di Yizreel, karena dia sakit.


7 Telah ditentukan Allah, bahwa Ahazia akan menemui ajalnya pada waktu ia mengunjungi Yoram; maka ketika Ahazia datang, pergilah ia bersama-sama Yoram mendapatkan Yehu, cucu Nimsi, yang telah diurapi TUHAN, supaya dialah yang melenyapkan keluarga Ahab.


8 Sementara Yehu melakukan penghukuman atas keluarga Ahab, ia menjumpai pembesar-pembesar Yehuda dan anak-anak saudara-saudara Ahazia, yang melayani Ahazia. Juga mereka dibunuhnya.


9 Lalu ia mencari Ahazia; Ahazia tertangkap ketika ia bersembunyi di Samaria. Ia dibawa kepada Yehu, lalu dibunuh, tetapi dikuburkan juga, karena kata orang: "Dia ini cucu Yosafat, yang mencari TUHAN dengan segenap hatinya." Dari keluarga Ahazia tidak ada lagi yang sanggup memerintah.


Ahazia mewakili Yehuda dan Yoram mewakili Israel. Keduanya memiliki kelakukan yang sama dan mereka sangat menyakiti hati Tuhan.


Apa yang mereka lakukan sebenarnya menyatakan siapakah mereka. Meskipun, mereka adalah bangsa Yehuda dan bangsa Israel, tetapi mereka bukanlah orang yang beriman kepada Tuhan. Mereka sedang mengalami kebinasaan rohani.


Kebinasaan rohani mereka nyata dalam perilaku dan perbuatan mereka yang menentang Tuhan.


Apa yang terjadi dengan Ahazia dan Yoram memberitahukan kepada kita, bahwa kebinasaan rohani mendahului kebinasaan kekal.


Allah telah berbicara kepada Elia, bahwa keluarga dari Ahab akan dibinasakan oleh Yehu.


Pada saat Yehu membinasakan keluarga Ahab, maka Ahazia yang berada dekat dengan Yoram mengalami penghukuman dari Tuhan.


Kebinasaan rohani itu nyata dari apa yang kita lakukan setiap hari.


Manusia menentang Tuhan, meskipun Tuhan sudah menyampaikan kabar baik kepadanya dan Tuhan sudah menyatakan terang-Nya bagi dia, tetapi dia tidak mempedulikan hal itu.


Maka, dia sedang mengalami kebinasaan rohani dan kebinasaan rohani itu nyata di dalam perilaku-perilaku kehidupan ini.


Yohanes 3:19


19 Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.


Penghakiman Tuhan sedang berlangsung hari ini, ketika manusia lebih memiliki kegelapan daripada terang, itu disebut sebagai kebinasaan rohani.


Kebinasaan rohani adalah awal dari kebinasaan kekal.


Oleh karena itu, kita sebagai orang-orang yang sudah mendengar Firman Tuhan, marilah kita tidak menjadi orang-orang yang bebal, melainkan menjadi orang-orang yang bijaksana ketika terang Tuhan dinyatakan kepada kita melalui kabar baik, yaitu Injil.


Mari kita membuka hati kita sesuai gerakan Roh Kudus, sehingga kita tidak mengalami kebinasaan kekal, melainkan menerima hidup yang kekal dari Tuhan.


2. Tuhan menyediakan orang-orang pilihan-Nya di tengah-tengah kehidupan manusia yang binasa untuk menyatakan kasih setia dan anugerah-Nya.


2 Tawarikh 22:10-12


10 Ketika Atalya, ibu Ahazia, melihat bahwa anaknya sudah mati, maka bangkitlah ia membinasakan semua keturunan raja dari kaum Yehuda.


11 Tetapi Yosabat, anak perempuan raja, mengambil Yoas bin Ahazia, menculik dia dari tengah-tengah anak-anak raja yang hendak dibunuh itu, memasukkan dia dengan inang penyusunya ke dalam gudang tempat tidur. Demikianlah Yosabat, anak perempuan raja Yoram, isteri imam Yoyada, — ia adalah saudara perempuan Ahazia — menyembunyikan dia terhadap Atalya, sehingga ia tidak dibunuh Atalya.


12 Maka tinggallah Yoas enam tahun lamanya bersama-sama mereka dengan bersembunyi di rumah Allah, sementara Atalya memerintah negeri.


Sudah hampir semua keturunan raja dibinasakan dan Atalya adalah eksekutornya.


Akan tetapi, Tuhan tahu apa yang Dia harus perbuat, sehingga tidak semua mati di tangan Atalya dengan adanya satu cucunya yang masih hidup, yaitu Yoas di antara semua yang telah mati.


Seakan-akan perjanjian Allah akan mati, karena semua keturunan raja sudah mati, tetapi Tuhan menyisihkan satu orang keturunan raja, yaitu Yoas.


Dengan demikian kita dapat belajar, bahwa Tuhan menyediakan orang-orang pilihan-Nya di tengah-tengah kehidupan manusia yang binasa.


Hal itu menunjukkan kepada kita tentang kasih setia dan anugerah-Nya.


Kisah ini merupakan gambaran apa yang terjadi di dalam anugerah Kristus di tengah-tengah manusia yang binasa, sehingga Allah menyediakan orang-orang pilihan-Nya untuk diselamatkan.


Maka, itu berbicara tentang kasih setia dan anugerah-Nya.


Sebenarnya semua manusia sama dalam keadaan binasa, mati rohani, bahkan satu kali akan mati kekal, namun Allah mempunyai rencana yang kekal, yaitu perjanjian Allah di dalam keselamatan.


Allah yang memiliki perjanjian, maka Allah akan menggenapi perjanjian itu di dalam Kristus dan Allah yang bertindak untuk menyelamatkan orang-orang yang telah dipilih-Nya.


Hal itu semata-mata adalah anugerah Tuhan bagi orang-orang yang diselamatkan, sehingga orang-orang percaya akan memuliakan Tuhan dan mengakui anugerah Tuhan.


Demikian juga seluruh dunia harus mengakui, bahwa Tuhan adalah Tuhan yang penuh kuasa dan penuh anugerah.


Tuhan tahu bagaimana Dia menggenapi perjanjian-Nya dan Dia tidak pernah gagal di dalam seluruh rencana-Nya.


Kita sebagai orang percaya berada dalam rancangan Tuhan yang agung.


Marilah kita membuka hati kita di dalam rencana keselamatan-Nya yang ajaib, supaya kita menjadi orang-orang yang menyadari betapa ajaib anugerah Tuhan bagi kita.


Kita bisa menjadi orang yang sangat bersyukur dengan apapun yang kita alami dalam hidup kita, karena dari semua orang yang binasa, kita yang berada dalam Kristus diselamatkan Tuhan dan menerima hidup yang kekal.


Doakan dan renungkan


* Apa yang terjadi dengan raja Ahazia memberitahukan kepada kita, bahwa kebinasaan rohani mendahului kebinasaan kekal.


* Ia hidup menurut kelakuan keluarga Ahab, karena ibunya menasihatinya untuk melakukan yang jahat.


Korban Salah Didik