Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
Daniel 3:1-30
Perapian yang Menyala-Nyala
Adakalanya orang bertanya di manakah Allah yang baik di tengah dunia yang menderita. Ketika berbicara seperti itu, maka manusia mengakui bahwa Allah adalah Allah pemelihara.
Pada saat yang sama, manusia lupa bahwa Dia bukan hanya pemelihara dalam arti Dia melayani manusia, namun Dia adalah sang pemerintah itu sendiri yang berdaulat melakukan apa pun yang dikehendaki-Nya.
Pernahkah kita memikirkan apa sebenarnya pekerjaan Allah selama dunia dan isinya ada dan sedang berlangsung? Ada dua pekerjaan Allah, yaitu mencipta dan memelihara.
Ciptaan dan kehidupan ini dapat berlangsung bukan tanpa pemeliharaan Tuhan. Pemeliharaan Tuhan dapat diartikan bahwa Tuhan melayani ciptaan-Nya.
Namun Tuhan bukan pelayan, Dia adalah Tuan di atas segala tuan; Raja di atas segala raja. Tidak ada siapa pun yang dapat menjadi penasehat Tuhan untuk melakukan pemeliharaan.
Semuanya berdasarkan penetapan Tuhan dan pemerintahan Tuhan itu sendiri.
Oleh karena itu, berkat dan pertolongan datang dari Tuhan. Namun perlu kita sadari bahwa Dia adalah Tuhan dan bukan pelayan kita.
Meskipun Dia menyediakan berkat dan pertolongan, justru kitalah yang adalah pelayan dari Tuhan yang Mahatinggi itu.
Daniel 3:1-30
1 Raja Nebukadnezar membuat sebuah patung emas yang tingginya enam puluh hasta dan lebarnya enam hasta yang didirikannya di dataran Dura di wilayah Babel.
2 Lalu raja Nebukadnezar menyuruh orang mengumpulkan para wakil raja, para penguasa, para bupati, para penasihat negara, para bendahara, para hakim, para ahli hukum dan semua kepala daerah, untuk menghadiri pentahbisan patung yang telah didirikannya itu.
3 Lalu berkumpullah para wakil raja, para penguasa, para bupati, para penasihat negara, para bendahara, para hakim, para ahli hukum dan semua kepala daerah, untuk menghadiri pentahbisan patung yang telah didirikan raja Nebukadnezar itu.
4 Dan berserulah seorang bentara dengan suara nyaring: “Beginilah dititahkan kepadamu, hai orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa:
5 demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, maka haruslah kamu sujud menyembah patung yang telah didirikan raja Nebukadnezar itu;
6 siapa yang tidak sujud menyembah, akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala!”
7 Sebab itu demi segala bangsa mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, maka sujudlah orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa, dan menyembah patung emas yang telah didirikan raja Nebukadnezar itu.
8 Pada waktu itu juga tampillah beberapa orang Kasdim menuduh orang Yahudi. 9Berkatalah mereka kepada raja Nebukadnezar: “Ya raja, kekallah hidup tuanku!
10 Tuanku raja telah mengeluarkan titah, bahwa setiap orang yang mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, harus sujud menyembah patung emas itu,
11 dan bahwa siapa yang tidak sujud menyembah, akan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala.
12 Ada beberapa orang Yahudi, yang kepada mereka telah tuanku berikan pemerintahan atas wilayah Babel, yakni Sadrakh, Mesakh dan Abednego, orang-orang ini tidak mengindahkan titah tuanku, ya raja: mereka tidak memuja dewa tuanku dan tidak menyembah patung emas yang telah tuanku dirikan.”
13 Sesudah itu Nebukadnezar memerintahkan dalam marahnya dan geramnya untuk membawa Sadrakh, Mesakh dan Abednego menghadap. Setelah orang-orang itu dibawa menghadap raja,
14 berkatalah Nebukadnezar kepada mereka: “Apakah benar, hai Sadrakh, Mesakh dan Abednego, bahwa kamu tidak memuja dewaku dan tidak menyembah patung emas yang kudirikan itu?
15 Sekarang, jika kamu bersedia, demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, sujudlah menyembah patung yang kubuat itu! Tetapi jika kamu tidak menyembah, kamu akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala. Dan dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?”
16 Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini.
17 Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja;
18 tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”
19 Maka meluaplah kegeraman Nebukadnezar, air mukanya berubah terhadap Sadrakh, Mesakh dan Abednego; lalu diperintahkannya supaya perapian itu dibuat tujuh kali lebih panas dari yang biasa.
20 Kepada beberapa orang yang sangat kuat dari tentaranya dititahkannya untuk mengikat Sadrakh, Mesakh dan Abednego dan mencampakkan mereka ke dalam perapian yang menyala-nyala itu.
21 Lalu diikatlah ketiga orang itu, dengan jubah, celana, topi dan pakaian-pakaian mereka yang lain, dan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala.
22 Karena titah raja itu keras, dipanaskanlah perapian itu dengan luar biasa, sehingga nyala api itu membakar mati orang-orang yang mengangkat Sadrakh, Mesakh dan Abednego itu ke atas.
23 Tetapi ketiga orang itu, yakni Sadrakh, Mesakh dan Abednego, jatuh ke dalam perapian yang menyala-nyala itu dengan terikat.
24 Kemudian terkejutlah raja Nebukadnezar lalu bangun dengan segera; berkatalah ia kepada para menterinya: “Bukankah tiga orang yang telah kita campakkan dengan terikat ke dalam api itu?” Jawab mereka kepada raja: “Benar, ya raja!”
25 Katanya: “Tetapi ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu; mereka tidak terluka, dan yang keempat itu rupanya seperti anak dewa!”
26 Lalu Nebukadnezar mendekati pintu perapian yang bernyala-nyala itu; berkatalah ia: “Sadrakh, Mesakh dan Abednego, hamba-hamba Allah yang maha tinggi, keluarlah dan datanglah ke mari!” Lalu keluarlah Sadrakh, Mesakh dan Abednego dari api itu.
27 Dan para wakil raja, para penguasa, para bupati dan para menteri raja datang berkumpul; mereka melihat, bahwa tubuh orang-orang ini tidak mempan oleh api itu, bahwa rambut di kepala mereka tidak hangus, jubah mereka tidak berubah apa-apa, bahkan bau kebakaran pun tidak ada pada mereka.
28 Berkatalah Nebukadnezar: “Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, dan melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah mana pun kecuali Allah mereka.
29 Sebab itu aku mengeluarkan perintah, bahwa setiap orang dari bangsa, suku bangsa atau bahasa mana pun ia, yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego, akan dipenggal-penggal dan rumahnya akan dirobohkan menjadi timbunan puing, karena tidak ada allah lain yang dapat melepaskan secara demikian itu.”
30 Lalu raja memberikan kedudukan tinggi kepada Sadrakh, Mesakh dan Abednego di wilayah Babel.
Apa yang terjadi dengan lingkungan hidup kita akan menimpa kita sebagai orang percaya. Itulah yang dikisahkan dalam kisah Sadrakh, Mesakh dan Abednego.
Ketika Raja Nebukadnezarmembangun patung untuk disembah, maka sebagai orang percaya mereka bertiga termasuk di dalamnya.
Bagaimana ketiga orang ini menghadapi situasi yang sangat pelik dan berbahaya itu?
Pesan Firman Tuhan bagi kita:
1. Situasi dan kondisi kehidupan kita merupakan bagian dari ujian bagi iman kita, oleh karena itu tanpa iman yang teguh kita pasti dibawa oleh arus dunia ini.
Daniel 3:14-16
14 berkatalah Nebukadnezar kepada mereka: “Apakah benar, hai Sadrakh, Mesakh dan Abednego, bahwa kamu tidak memuja dewaku dan tidak menyembah patung emas yang kudirikan itu?
15 Sekarang, jika kamu bersedia, demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, sujudlah menyembah patung yang kubuat itu! Tetapi jika kamu tidak menyembah, kamu akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala. Dan dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?”
16 Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini.
Dengan apa Sadrakh, Mesakh, dan Abednego menghadapi ancaman yang sebegitu besar, yaitu kematian dengan kesakitan yang luar biasa?
Raja Nebukadnezar memberi kesempatan kepada tiga orang percaya ini untuk mengubah keputusannya, yaitu agar mereka melakukan sebagaimana pada umumnya masyarakat Babel melakukannya.
Apa yang dilakukan bukan hal yang tidak dilakukan orang lain, tetapi apa yang dilakukan adalah hal yang pada umumnya dilakukan.
Raja memberi kesempatan itu kepada mereka bertiga. Dengan apa Sadrakh, Mesakh, dan Abednego menghadapi kesulitan, ancaman, penderitaan, dan kematian yang seperti itu?
Ketika kita membaca bagian tersebut, maka Sadrakh, Mesakh, dan Abednego menghadapi semuanya itu dengan iman kepada Tuhan.
Itulah satu-satunya yang sanggup membuat mereka bertiga tetap berbeda dengan orang-orang pada umumnya.
Mereka adalah orang-orang percaya yang tidak pernah dapat tidak setia kepada Tuhan.
Hari ini kita hidup di tengah-tengah dunia yang tidak kurang akan pencobaan, penderitaan, dan ancaman yang dapat terjadi kepada kita sebagai orang percaya.
Pertanyaannya, dengan apa kita menghadapi semuanya itu?
Jika kita menghadapi semuanya itu dengan perasaan, logika, kenyamanan, dan pragmatisme kita, apakah kita tidak tergelincir, terbawa, hanyut, dan binasa oleh arus zaman ini. Semua itu tidak dapat kita hadapi dengan hal-hal itu.
Hanya dengan satu cara dalam menghadapi semua itu, yaitu dengan iman yang teguh kepada Tuhan. Itu adalah satu-satunya cara kita akan luput dari pada ketergelinciran atas pencobaan yang datang dari dunia ini.
Oleh karena itu, mari kita teguhkan iman kita. Firman Tuhan berkata bahwa iman itu timbul dari pendengaran akan Firman Tuhan.
Mari kita bersama-sama bertumbuh di dalam Iman mengenal Tuhan. Semuanya itu menjadi perisai iman ketika panah api si Iblis sedang menerjang kita.
2. Iman kepada Tuhan itu nyata ketika kita mengakui kedaulatan Tuhan di dalam kehidupan kita.
Daniel 3:17-18
17 Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja;
18 tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”
Ini adalah jawaban dari Sadrakh, Mesakh, dan Abednego. Dalam terjemahan Indonesia dapat dimengerti berbeda, namun pengertian yang sesungguhnya adalah bahwa mereka bertiga mengatakan:
“Allah yang kami puja adalah Allah yang sanggup melepaskan kami. Jikalau Dia tidak melepaskan kami, kami tidak akan pernah menyembah patung emas dari Tuanku Raja.”
Sebenarnya apa yang Sadrakh, Mesakh, dan Abednego sedang akui di dalam kehidupannya? Tidak lain dan tidak bukan adalah mengakui kedaulatan Tuhan.
Mereka bertiga mengakui bahwa hidup mereka berada di tangan Tuhan, bukan di tangan Raja Nebukadnezar.
Hal itu bagi mereka bertiga, jika mereka harus mati, mereka mengakui itu adalah keputusan Tuhan yang Mahatinggi dan itu adalah kedaulatan-Nya.
Tetapi jika belum waktunya, tidak ada seorang pun, siapa pun, seberapa besar dan dahsyat penguasa apa pun, serta seberapa besar api itu tidak akan ada yang dapat menyentuh mereka bertiga.
Kita tahu dari kisah tersebut bahwa api dipanaskan selama tujuh kali. Orang yang mengangkat mereka mati terkapar, namun ketiga orang percaya itu tidak tersentuh oleh api sedikit pun.
Iman yang seperti apa yang merupakan iman yang teguh? Ketika iman kita mengakui akan kedaulatan Tuhan di dalam hidup kita.
Tuhan disebut Tuhan karena Dia memiliki kedaulatan, namun Dia tidak pernah bisa menjadi Tuhan kalau Dia tidak punya kedaulatan.
Kalau kita percaya kepada Tuhan, maka kita harus percaya kepada kedaulatanNya. Ketika kita percaya kepada kedaulatan Tuhan, barulah kita bisa menyerahkan hidup kita kepadaNya.
Kalau kita tidak bisa menyerahkan hidup kita kepada Tuhan, maka kita tidak akan pernah teguh beriman. Kita pasti berjalan ke kiri atau ke kanan dan tidak akan setia dalam hidup.
Namun ingatlah apa pun yang kita putuskan di dalam hidup ini, Tuhan tetap berdaulat atas hidup kita.
Oleh karena itu, satu-satunya kehidupan yang berkenan kepada Tuhan adalah kita menyerahkan hidup kita kepada Tuhan dengan setia melakukan apa yang Tuhan kehendaki.
Doakan dan renungkan.
* Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja;
* tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”
Teguh berkomitmen