Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
1 Korintus 7:1-16
Tentang Perkawinan
Setiap kita sebagai orang percaya, kita menghormati Tuhan, namun bagaimanakah ekspresi kita di dalam rangka kita menghormati Tuhan?
Maka kita harus menghargai apa yang Tuhan telah karuniakan kepada kita, dengan tidak merusak tetapi melakukannya dengan sukacita dan penuh dengan ketaatan.
Perkawinan atau pernikahan hari ini telah mengalami liberalisasi yang sangat dahsyat, apalagi di dalam kebudayaan yang sangat liberal.
Perkawinan yang mengalami liberalisasi memberikan pengaruh kerusakan generasi selanjutnya di dalam tatanan masyarakat.
Perkawinan tidak lagi dilihat sebagai sebuah lembaga yang sakral atau suci, melainkan dilihat dengan persepsi pragmatisme dan hedonistik.
Tidak heran banyak yang menikah dengan menimbun semangat egosentris, selfish dengan mencari keuntungan, kesenangan dan kenyamanan sendiri.
Tidak heran banyak orang yang masuk ke dalam pernikahan dengan pemikiran, jikalau pernikahan ini tidak membuat saya nyaman, aman, lebih baik, lebih bahagia, dan lebih untung untuk apa pernikahan ini?
Masih banyak lagi varian persepsi maupun perbuatan yang mencerminkan terjadinya liberalisasi atas pernikahan itu
1 Korintus 7:1-16
1 Dan sekarang tentang hal-hal yang kamu tuliskan kepadaku. Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin,
2 tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri.
3 Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap isterinya, demikian pula isteri terhadap suaminya.
4 Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya.
5 Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya Iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak.
6 Hal ini kukatakan kepadamu sebagai kelonggaran, bukan sebagai perintah.
7 Namun demikian alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku; tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu.
8 Tetapi kepada orang-orang yang tidak kawin dan kepada janda-janda aku anjurkan, supaya baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku.
9 Tetapi kalau mereka tidak dapat menguasai diri, baiklah mereka kawin. Sebab lebih baik kawin dari pada hangus karena hawa nafsu.
10 Kepada orang-orang yang telah kawin aku — tidak, bukan aku, tetapi Tuhan — perintahkan, supaya seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya.
11 Dan jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya. Dan seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya.
12 Kepada orang-orang lain aku, bukan Tuhan, katakan: kalau ada seorang saudara beristerikan seorang yang tidak beriman dan perempuan itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah saudara itu menceraikan dia.
13 Dan kalau ada seorang isteri bersuamikan seorang yang tidak beriman dan laki-laki itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah ia menceraikan laki-laki itu.
14 Karena suami yang tidak beriman itu dikuduskan oleh isterinya dan isteri yang tidak beriman itu dikuduskan oleh suaminya. Andaikata tidak demikian, niscaya anak-anakmu adalah anak cemar, tetapi sekarang mereka adalah anak-anak kudus.
15 Tetapi kalau orang yang tidak beriman itu mau bercerai, biarlah ia bercerai; dalam hal yang demikian saudara atau saudari tidak terikat. Tetapi Allah memanggil kamu untuk hidup dalam damai sejahtera.
16 Sebab bagaimanakah engkau mengetahui, hai isteri, apakah engkau tidak akan menyelamatkan suamimu? Atau bagaimanakah engkau mengetahui, hai suami, apakah engkau tidak akan menyelamatkan isterimu?
Pada bagian ini rasul Paulus menyampaikan pengajaran tentang pernikahan atau perkawinan.
Pengajaran Kristen tentang pernikahan atau perkawinan itu berbeda dengan pandangan orang-orang pada masa itu, yaitu orang-orang non Yahudi, dan iman Kristen memiliki pandangan yang berbeda dengan pandangan pada umumnya.
Iman Kristen menyatakan dengan jelas bahwa pernikahan dan perkawinan dibentuk oleh Tuhan, sehingga perkawinan atau pernikahan itu kudus dan tidak ada seorang pun yang berhak untuk merusaknya.
Pesan Firman Tuhan bagi kita:
1. Menikah atau tidak menikah tidak mengubah panggilan orang percaya untuk hidup sesuai dengan panggilan Tuhan melayani dan memuliakan Tuhan.
1 Korintus 7:1-9
1 Dan sekarang tentang hal-hal yang kamu tuliskan kepadaku. Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin,
2 tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri.
3 Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap isterinya, demikian pula isteri terhadap suaminya.
4 Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya.
5 Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya Iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak.
6 Hal ini kukatakan kepadamu sebagai kelonggaran, bukan sebagai perintah.
7 Namun demikian alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku; tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu.
8 Tetapi kepada orang-orang yang tidak kawin dan kepada janda-janda aku anjurkan, supaya baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku.
9 Tetapi kalau mereka tidak dapat menguasai diri, baiklah mereka kawin. Sebab lebih baik kawin dari pada hangus karena hawa nafsu.
Manakah lebih baik menikah atau tidak menikah? Pada umumnya orang mengatakan lebih baik menikah, tapi ada juga yang mengatakan lebih baik tidak menikah.
Jikalau kita mau mengkomparasi antara menikah atau tidak menikah manakah lebih baik? Ada satu sistem nilai yang sangat penting sebagai orang percaya, tidak ada yang lebih baik dari pada hidup bagi Tuhan.
Jikalau seseorang itu tidak menikah, namun dia tidak hidup bagi Tuhan, maka hidupnya tidak lebih baik.
Jikalau seseorang menikah dan dalam pernikahannya ia tidak hidup bagi Tuhan, pernikahannya pun tidak menjadi kebaikan bagi dia.
Baik orang menikah atau tidak menikah, sebagai orang percaya fokus kita adalah kepada panggilan yang Tuhan berikan kepada kita.
Apakah kita lebih efektif hidup bagi Tuhan di dalam pernikahan ataukah kita lebih efektif hidup bagi Tuhan dalam keadaan kita tidak menikah?
Orang yang menikah atau tidak menikah mempunyai pergumulan sendiri, mari kita bergumul dengan panggilan kita.
Bagaimana kita harus hidup bagi Tuhan? Dengan menikah atau tidak menikah apa yang Tuhan karuniakan kepada kita harus kita hargai dengan tidak memakainya untuk mempermalukan Tuhan.
Ada orang tidak menikah dia tidak hidup sesuai dengan kehendak dan panggilan Tuhan, tetapi dia hidup berdosa.
Ada orang yang menikah dia tidak menghargai karunia Tuhan dengan cara dia tidak menghidupi kehidupan pernikahan sesuai dengan apa yang Tuhan inginkan.
Kehidupan pernikahan seperti itu atau kehidupan seseorang seperti itu, bukanlah maksud Tuhan dalam kehidupan.
Oleh karena itu, yang terpenting adalah menghargai karunia Tuhan yang telah diberikan kepada kita dan kita menghidupinya sesuai dengan panggilan kita.
2. Perceraian bukanlah jalan keluar bagi orang percaya, jalan bagi orang percaya adalah percaya kepada Tuhan dengan menaati apa yang Tuhan perintahkan bagi kita.
1 Korintus 7:10-16
10 Kepada orang-orang yang telah kawin aku — tidak, bukan aku, tetapi Tuhan — perintahkan, supaya seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya.
11 Dan jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya. Dan seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya.
12 Kepada orang-orang lain aku, bukan Tuhan, katakan: kalau ada seorang saudara beristerikan seorang yang tidak beriman dan perempuan itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah saudara itu menceraikan dia.
13 Dan kalau ada seorang isteri bersuamikan seorang yang tidak beriman dan laki-laki itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah ia menceraikan laki-laki itu.
14 Karena suami yang tidak beriman itu dikuduskan oleh isterinya dan isteri yang tidak beriman itu dikuduskan oleh suaminya. Andaikata tidak demikian, niscaya anak-anakmu adalah anak cemar, tetapi sekarang mereka adalah anak-anak kudus.
15 Tetapi kalau orang yang tidak beriman itu mau bercerai, biarlah ia bercerai; dalam hal yang demikian saudara atau saudari tidak terikat. Tetapi Allah memanggil kamu untuk hidup dalam damai sejahtera.
16 Sebab bagaimanakah engkau mengetahui, hai isteri, apakah engkau tidak akan menyelamatkan suamimu? Atau bagaimanakah engkau mengetahui, hai suami, apakah engkau tidak akan menyelamatkan isterimu?
Dari bagian Firman Tuhan ini, jelas menekankan bahwa perceraian bukanlah jalan keluar bagi orang percaya, baik bagi orang percaya yang mempunyai masalah dalam pernikahan dengan orang percaya atau orang percaya telah menikah dengan orang yang tidak percaya.
Jalan bagi orang percaya hanya satu yaitu kita percaya kepada Tuhan bahwa Tuhan tidak pernah salah dalam kasih karunia dan rencana dalam hidup kita.
Dia berkuasa untuk menolong kita, tugas dan panggilan kita adalah mentaati apa yang Tuhan perintahkan kepada kita.
Ketika kita mengambil jalan pintas dengan bercerai mengindikasikan kita tidak percaya kepada rencana, karunia, dan kekuasaan Allah, di situ kita tidak mentaati perintah Tuhan.
Tuhan menekankan, jikalau kita ingin diberkati oleh Tuhan, maka kita harus taat kepada Tuhan.
Jikalau kita tidak taat kepada Tuhan, kita jauh dari diberkati oleh Tuhan. Mari kita sebagai orang-orang percaya selalu hidup di dalam damai sejahtera dengan pasangan kita.
Jika orang percaya menikah dengan orang yang belum percaya, hiduplah damai sejahtera dengan dia.
Ketika pasangan kita yang tidak percaya mau mengajak bercerai, kita hidup dalam damai sejahtera tidak dalam keadaan perselisihan yang berat dengan pasangan kita tersebut.
Mari kita hidupi panggilan hidup Kristen supaya kita menyatakan kebaikkan, keindahan dan anugerah Tuhan kita Yesus Kristus, sehingga dunia boleh menyaksikan akan Tuhan yang hidup di dalam hidup orang percaya.
Termasuk di dalam pernikahan kita atau di dalam kesendirian kita.
Doakan dan renungkan
* Menikah atau tidak menikah, tidak mengubah panggilan orang percaya hidup sesuai dengan panggilan Tuhan untuk melayani dan memuliakan-Nya.
* Orang yang menikah atau tidak menikah mempunyai pergumulan sendiri, mari kita bergumul dengan panggilan kita dan tidak mempermalukan Tuhan.
Sama-sama memuliakan Tuhan