Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG

Renungan Harian
GKY Mangga Besar

Sabtu, 06 Januari 2024

Tuhan Adalah Gembalaku


Markus 6:45-52

Yesus Berjalan di atas Air.


Sebagai orang percaya, tidak ada pekerjaan yang kita kerjakan yang sifatnya sekuler. Seluruh yang kita kerjakan sifatnya rohani, karena dikerjakan oleh orang percaya, yaitu orang yang rohani.


Dengan demikian, apa yang kita kerjakan, kita kerjakan untuk Tuhan, dengan kerinduan untuk memuliakan nama Tuhan.


Sebagai orang percaya, kita menghidupi kehidupan kita sebagai orang yang melayani Tuhan, apa pun tugas dan tanggung jawab kita, mungkin hobby kita, termasuk di mana pun kita berada.


Keberadaan kita di mana pun itu adalah representasi dari Yesus Kristus di tengah dunia ini.


Namun, pernahkah Saudara mengalami bahwa Saudara sebenarnya tidak berfungsi sebagai representasi Yesus Kristus dalam kehidupan Saudara?


Seakan tidak ada dorongan yang kuat untuk menghidupi kehidupan yang sesuai dengan panggilan Kristus bagi Saudara.


Kita membutuhkan kekuatan rohani dan kesegaran rohani untuk hidup berpadanan dengan panggilan Kristus kepada kita.


Tanpa kita peduli dengan kerohanian kita, kita menjadi orang yang kehilangan kekuatan untuk hidup sebagaimana panggilan Kristus bagi kita.


Markus 6:45-52


45 Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang.


46 Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa.


47 Ketika hari sudah malam perahu itu sudah di tengah danau, sedang Yesus tinggal sendirian di darat.


48 Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka.


49 Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak,


50 sebab mereka semua melihat Dia dan mereka pun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!"


51 Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan angin pun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung,


52 sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil.


Pelayanan Tuhan Yesus tidak pernah berhenti. Ke mana pun Dia pergi, banyak orang datang kepada-Nya dengan segala macam kebutuhan.


Kisah hari ini, Tuhan Yesus menyuruh orang banyak pergi, dan memerintahkan murid-Nya menyeberang, lalu Dia tinggal sendiri. Dia berdoa.


Banyak perkara yang Yesus lakukan yang sangat menakjubkan. Bagaimana dengan kisah ini? Dia menyendiri dan berdoa.


Pesan Firman Tuhan bagi kita:

1. Kehidupan dan pelayanan orang percaya itu adalah perkara rohani. Oleh karena itu, kita perlu menyediakan waktu menyendiri bersama dengan Bapa untuk berdoa.


Markus 6:45-46


45 Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang.


46 Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa.


Ada banyak perkara menakjubkan yang Tuhan Yesus lakukan, baik dalam tutur kata yang begitu bijaksana, juga dari perbuatan yang sangat menakjubkan, karena penuh dengan kuasa Roh Kudus.

Namun, kali ini Tuhan Yesus menyuruh orang banyak pergi, termasuk murid-muridNya, lalu Dia menyendiri. Alkitab mencatat bahwa Ia pergi ke bukit untuk berdoa.

Di tengah popularitas, kesibukan dan kebutuhan orang banyak, dan di tengah kemampuan Tuhan Yesus yang luar biasa, Tuhan Yesus menyuruh orang banyak itu pergi, dengan kesadaran.


Menyuruh murid-muridNya menyeberang. Dia seorang diri lalu pergi ke bukit dan Dia berdoa.


Apakah Saudara dapat melakukan hal ini di tengah kesibukan, kesenangan, popularitas, dan kemampuan Saudara yang luar biasa?


Bisakah Saudara menyuruh semua itu pergi, Saudara lalu sendiri, dan di dalam kesendirian Saudara, Saudara menyepi dan berdoa?


Ada banyak perkara yang luar biasa yang Tuhan Yesus lakukan, tetapi perkara ini juga luar biasa. Tuhan Yesus menyendiri dan berdoa.


Tuhan Yesus adalah Anak Allah yang menjadi manusia. Dia adalah Mesias, Allah yang sejati. Namun, Dia juga manusia sejati. Dalam satu pribadi ada dua natur ini.


Sebagai Mesias, Anak Allah dan manusia, Dia bergantung kepada Bapa di sorga. Dia bersekutu dan begitu dekat dengan Bapa di sorga.


Dia butuh kuasa Roh Kudus dalam pelayanan-Nya. Tuhan Yesus menyediakan waktu untuk berdoa.


Di sini Tuhan Yesus menyatakan bahwa Dia manusia sesungguhnya, yang membutuhkan Bapa di sorga dan membutuhkan kuasa Roh Kudus dalam pelayanan-Nya.


Ini menjadi pesan dan teladan yang penting bagi kita. Kita yang adalah anak-anak Tuhan, dipanggil untuk melayani, menjadi berkat, memberitakan Injil.


Ingatlah! Kita juga dipanggil untuk bersekutu dengan Bapa kita di sorga, karena orang percaya adalah manusia baru di dalam Kristus, yang adalah manusia rohani.


Ketika bicara tentang rohani, bukan berbicara tentang ritual-ritual agama, apa yang perlu dan tidak perlu, atau apa yang harus apa yang bukan. Itu berbicara tentang bersekutu dengan Tuhan dalam hidup kita.


Persekutuan atau kedekatan kita dengan Tuhan, itu yang menjadi barometer kerohanian kita.


Kerohanian tidak dapat diraih dengan cara lain, kecuali seperti yang Yesus katakan, “Jika kamu tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam kamu, maka kamu berbuah banyak.”


Berbuah banyak di sini adalah buah kerohanian kita. Buah dari iman kita. Orang dunia dapat melakukan banyak perkara, tetapi satu perkara yang tidak dapat dihasilkan, yaitu buah-buah rohani itu.


Oleh karena itu, di tengah banyak kesibukan dan pelayanan kita, kita perlu menyediakan waktu, bersekutu dengan Tuhan di dalam doa kita.


Dengan demikian, kita mengalami kuasa dari Roh Kudus. Hidup rohani kita diperkaya, sehingga kita sanggup memperkaya orang lain.


2. Ketika dalam kehidupan dan pelayanan kita, kita menjadi kepayahan, jangan pernah putus asa. Tuhan Yesus melihat kita dan pada waktunya Dia memberikan kelegaan kepada kita.

Markus 6:48-51


48 Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka.


49 Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak,


50 sebab mereka semua melihat Dia dan mereka pun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!"


51 Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan angin pun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung,


Tuhan Yesus memerintahkan murid-muridNya menyeberang terlebih dahulu dan Dia menyendiri.


Pada waktu malam itu, tanpa diduga angin sakal datang. Betapa pun hebatnya manusia, ketika menghadapi alam seperti itu, manusia pasti tidak berdaya.


Alam ini sangat dahsyat. Manusia di dalam kejelian, teknologi dan kehebatannya, tetap ada batasnya.


Demikian juga murid-murid Tuhan Yesus. Di antara mereka ada yang ahli dalam penangkapan ikan, seperti Simon Petrus dan Yohanes.


Namun, menghadapi alam yang mengamuk, mereka pun tahu mereka bisa binasa. Pada saat-saat seperti itu, ada ketakutan di tengah pengalaman yang mengerikan tersebut.


Namun, Alkitab mencatat, “Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, …”


Mereka tidak tahu Tuhan Yesus melihat pergumulan mereka. Mereka tidak sadar Tuhan Yesus melihat apa yang mereka alami.


Alkitab mencatat, “…maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka.”


Siapa di antara murid-murid yang mengharapkan Tuhan Yesus berjalan di atas air? Mereka tidak punya pengalaman dan tidak pernah melihat Tuhan Yesus berjalan di atas air.


Tuhan Yesus berada di seberang sana. Mereka di tengah danau. Siapa yang bisa mengharapkan Tuhan Yesus menghampiri mereka?


Tuhan dapat melakukan perkara yang melampaui akal budi kita, bahkan yang tidak pernah kita alami, tetapi bagi orang yang percaya kepada-Nya, kita dapat mengalami apa yang belum pernah kita alami.


Kita dapat mendengar apa yang belum pernah kita dengar, kita dapat melihat apa yang tidak pernah kita lihat sebelumnya.


Di dalam kehidupan dan pelayanan kita, kita tidak pernah luput dari pergumulan, kepayahan, dihimpit oleh kesulitan yang mendadak datang.


Namun, kita tidak perlu putus asa. Kita perlu berjuang dan kita bisa takut, tetapi jangan putus asa.


Meskipun kita tidak melihat Yesus dengan mata kepala kita, tetapi Dia melihat kita.


Meskipun kita tidak mengerti bagaimana Dia menolong kita, tetapi Dia bisa berjalan di atas air yang mengamuk itu. Dia berjalan menghampiri kita.


Di dalam hidup kita, kita mungkin menghadapi tantangan dan tentangan dalam segala aspek, tetapi Tuhan Yesus ada di atas segala sesuatu.


Sebagaimana Dia berjalan di atas air yang mengamuk itu, Dia berjalan di atas segala pergumulan kita.


Dia melampaui dan sanggup menembus semuanya itu. Dengan kuasa otoritas-Nya, Dia menyelesaikannya bagi kita.


Oleh karena itu, mari kita taruh hidup kita ke dalam tangan Tuhan Yesus. Kita tidak jauh dari-Nya. Kita selalu dekat dengan-Nya.


Kita sadar kita perlu Dia. Kita menyediakan waktu berdoa. Di situlah kekuatan rohani membuat mata rohani kita celik, melihat dan mengenal siapa Yesus dalam hidup kita.

Doakan dan renungkan


* Ketika dalam kehidupan dan pelayanan kita menjadi kepayahan, jangan pernah putus asa. Tuhan Yesus melihat kita dan pada waktunya Dia memberikan kelegaan kepada kita.

* Meskipun kita tidak melihat Yesus dengan mata kepala kita, tetapi Dia melihat kita. Dia bisa berjalan menembus “badai” masalah kita. Dia sanggup menghampiri dan menolong kita.


Mata Tuhan memperhatikan anak-anakNya