Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

Kesaksian Saudari Grace Handoko

Kesaksian

God is always faithful!

Saya Handoko. 


Tahun 2019 merupakan tahun yang penuh dengan kesakitan dan air mata untuk keluarga kami, terutama istri saya, Grace.

Pada pertengahan tahun 2019, istri saya divonis kanker empedu yang sudah menjalar ke bagian livernya. 


Pada saat vonis ditentukan bahwa di dalam tubuh istri saya ada sel kanker yang menggerogoti tubuhnya, hati kami hancur. 


Rasanya saat itu harapan dan mimpi-mimpi kami lenyap. 


Terlebih melihat kondisinya pada saat itu yg begitu lemah, 

Saya dihadapkan pada kenyataan bahwa sewaktu-waktu istri saya dapat dipanggil Tuhan. 


Bagaimana nasib saya dan anak-anak kami yang masih kecil ini?

 

Meskipun demikian, kami percaya bahwa rancangan Tuhan adalah rancangan yang memberikan damai sejahtera. 


Sejak Grace divonis kanker yang mengharuskan dia keluar masuk RS, kami merasakan bahwa tidak sekalipun Tuhan meninggalkan kami. 


Banyak sekali wujud pertolongan Tuhan dalam hidup kami. 

1. Tuhan mengirimkan orang-orang yang tidak mengenal kami untuk menguatkan kami. 

Tuhan bahkan menyediakan hal-hal yang tidak terpikirkan oleh kami. 


Misalnya petugas counter check-in di airport mengenali Grace dari yang sebelumnya menggunakan kursi roda sampai dapat berjalan sendiri, bahkan mendoakan kesembuhan Grace. 


Kami sangat terharu. 

Padahal petugas tersebut bertemu dengan banyak orang setiap harinya dan kami tidak bertemu dia setiap hari. 


Jika seorang petugas counter check-in saja bisa mengingat seorang Grace, terlebih Tuhan yang sudah mengenalnya bahkan sebelum ia dibentuk dalam rahim ibunya. 


2. Puji Tuhan atas support system yang sangat mendukung kami sehingga kami tidak khawatir meninggalkan anak-anak.

Saat saya harus mendampingi Grace berobat ke Singapura, kami terpaksa meninggalkan anak-anak dan pekerjaan kami. 


Tetapi Anak-anak diasuh oleh orang tua kami.

Untuk urusan sekolahpun kami memiliki teman-teman yang bersedia mengantar mereka ke sekolah.

Ketika anak-anak ada acara di luar sekolah, adik dan ipar kami sangat membantu. 


3. Pemeliharaan Tuhan tidak berhenti sampai di situ.

Perusahaan tempat kami bekerja juga mendukung kami untuk fokus dalam kesembuhan Grace. 


4. Tuhan mencukupkan dana yang kami butuhkan dalam pengobatan Grace.


Sebelum ke Singapura, saya sudah berpikir untuk menjual semua asset kami. 


Yang penting Grace sembuh. 


Namun Tuhan menggerakan hari saudara-saudara kami untuk membantu biaya pengobatan. 


Kami bahkan tidak perlu meminta-minta kepada mereka! 


Tuhan yang menyediakan dan mencukupkan. 


Luar biasa bukan penyertaan Tuhan dalam hidup kami.


Tetapi bukan berarti pengobatan yang dilakukan selalu berjalan lancar. 


Ada kalanya Grace merasa frustasi karena dia merasa dari wanita aktif menjadi wanita yang tidak berdaya karena membutuhkan orang untuk membantunya melakukan hal-hal dasar sebagai manusia. 

 

Terlebih lagi saat Grace tiba-tiba harus kembali di-opname di rumah sakit karena terjangkit infeksi akibat kemoterapi maupun operasi. 


Rasanya seperti bangsa Israel yang sudah dipimpin Tuhan keluar dari Mesir, namun harus kembali merasakan air pahit di Mara. 


Rasanya kesal sekali, terutama Grace yang luka operasinya belum pulih, untuk berjalan saja sulit. 


Kenapa Tuhan mengijinkan infeksi terjadi? 

Cobaan apa lagi yang Tuhan berikan dalam hidup kami? 

Apakah ini belum cukup? 

Maunya Tuhan apa? 

 

Berbagai peristiwa penting harus kami lewati di rumah sakit. Perayaan ulang tahun Grace, bahkan Natal dan tahun barupun kami rayakan di rumah sakit. 


Sampai berapa lama kami harus bertahan?

 

Puji Tuhan dalam keadaan terpuruk seperti itu, ada yang mengingatkan kami mengenai kasih setia Tuhan kepada kami. 


Saat itu kami kami berdua dikunjungi oleh beberapa hamba Tuhan yang digerakkan Tuhan untuk menjenguk kami. 


Saat itu Grace benar-benar dalam keadaan frustasi. 


Sejak divonis kanker sampai proses kemoterapi dan akhirnya dilakukan operasi besar pada tubuhnya, saya tidak pernah melihat Grace sefrustasi itu. 


Dia saya kenal sebagai pribadi yang tenang. 

Namun saat itu saya sampai kewalahan menghadapinya. 


Saya tidak dapat membayangkan apa jadinya jika kami tidak bertemu dengan hamba Tuhan tersebut. 

Firman Tuhan yang dibawakan adalah tentang Naaman yang sakit kusta dan diminta untuk mencelupkan dirinya di sungai Yordan sebanyak 7 kali oleh Nabi Elisa supaya menjadi tahir. 


Saat itu kami sadar. 


Grace merasa sangat ditegur oleh firman yang dibagikan.  


Kami segera bertobat mohon pengampunan dari Tuhan. 

 

Saat pandemi belum merambah ke negeri kita,  

Puji Tuhan kami sudah mengalaminya lebih dahulu sehingga kami merasa lebih siap menghadapinya. 


Saat kami kembali ke Jakarta dan mulai diberlakukan PSBB, kami merasa bersyukur karena Tuhan memberikan kami waktu dan kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama dengan orang-orang yang kami kasihi terutama anak-anak kami. 


Seolah-olah Tuhan membuka jalan bagi kami untuk membayar “hutang” kepada anak-anak karena sebelumnya kami fokus pada pengobatan Grace.

 

Kami jadi lebih menghargai hal-hal yang dahulu kami anggap hal yang biasa sehingga kami sering take for granted waktu bersama keluarga. 


Kami sangat bersyukur Tuhan memberikan kami kesempatan untuk melakukan faith talk kepada anak-anak kami. 


Semua hanya karena anugerah, berkat dan kemurahan Tuhan. 


Kami percaya bahwa di dalam Tuhan selalu ada pengharapan.

Meskipun terkadang kami merasa sedang berjalan dalam lembah kekelaman, 

kami tidak perlu takut karena gada dan tongkat Tuhan menyertai kami. 

 

Kami teringat Firman Tuhan bahwa kehidupan orang Kristen seperti pohon yang berbuah dan yang buahnya harus dapat dinikmati oleh orang lain. 


Ini adalah kesempatan yang Tuhan berikan untuk menyaksikan kemurahan Tuhan dalam hidup kami. 


Tuhan itu baik dan selamanya baik.

FEAR NOT! 

There is HOPE